A. KEGIATAN HBCE-MINISTRIES

HARYADI BASKORO MEMBERIKAN RENUNGAN TINJAUAN BUDAYA DAN ALKITAB DI GKJ BRAYAT KINASIH, YOGYA (11 JULI 2013)

HARYADI BASKORO MELAYANI FIRMAN DALAM IBADAH MINGGU GEKINDO YOGYA (7 JULI 2013)

HARYADI BASKORO BERSAMA HEDY SH MH MEMBERIKAN PENDIDIKAN POLITIK UNTUK PARA PENDETA DI GGP IMMANUEL KALASAN, YOGYA (5 JULI 2013)

HARYADI BASKORO MENDAMPINGI “MESSENJAH COMMUNITY” BERDUENSI KE REDAKSI HARIAN KEDAULATAN RAKYAT UNTUK MENYAMPAIKAN ASPIRASI KAUM MUDA KRISTEN KEPADA MASYARAKAT LUAS VIA MEDIA (3 JULI 2013)

HARYADI BASKORO MELAYANI FIRMAN DALAM IBADAH MINGGU GEKINDO YOGYA (30 JUNI 2013)

HARYADI BASKOROMELAYANI RETRET PEMBINAAN PARA PEMIMPIN DAN JEMAAT GBI FILADELFIA KLATEN, DIADAKEN DI WISMA UKDW KALIURANG YOGYA (27 JUNI 2013)

HARYADI BASKORO MENDAMPINGI PEMUDA FILIPI MENYAMPAIKAN ASPIRASI GEREJA TENTANG HARI ANTI NARKOBA INTERNASIONAL DI REDAKSI HARIAN KEDAULATAN RAKYAT (25 JUNI 2013)

HARYADI BASKORO MELAYANI FIRMAN DI IBADAH MINGGU GKII FILIPI (23 JUNI 2013, JAM 09.00 WIB)

HARYADI BASKORO MELAYANI FIRMAN DI IBADAH MINGGU GEREJA GETSEMANI ANUGRAH (23 JUNI 2013, JAM 08.00 WIB)

HARYADI BASKORO MEMIMPIN DISKUSI PEMUDA FILIPI (22 JUNI 2013)

Diskusi ini adalah dalam rangka merumuskan pesan-pesan moral Pemuda Filipi tentang Hari Anti Narkoba Sedunia yang akan disampaikan kepada masyarakat luas melalui media masaa korak “Kedaulatan Rakyat” Menurut rencana, tim pemuda Filipi akan beraudiensi dengan pihak Redaksi pada Selasa 25 Juni 2013.

HARYADI BASKORO MEMBERIKAN BEKAL PENGAJARAN FIRMAN DAN MENDOAKAN PIMPINAN, DAN KARYAWAN TOKO “BAKPIA DJAVA” DI YOGYAKARTA (14 JUNI 2013)

HARYADI BASKORO MENDAMPINGI PARAPEMIMPIN “MASYARAKAY KRISTEN INDONESIA” (MKI) BERAUDIENSI DENGAN REDAKSI HARIAN KEDAULATAN RAKYAT UNTUK MENYAMPAIKAN PESAN-PESAN KRISTEN TENTANG PANCASILA (RABU, 12 JUNI 2013)

Haryadi Baskoro mendampingi Masyarakat Kristiani Indonesia menyampaikan aspirasi melalui Koran Kedaulatan Rakyat (12 Juni 2013)Masyarakat Kristiani Indonesia (MKI) menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang mendesaknya penegakkan Pancasila sebagai dasar negara. MKI mengapresiasi usaha Pemerintah untuk mensosialisasikan Pancasila sebagai salah satu dari empat pilar bangsa (Pancasila, NKRI, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika). Tetapi, konsep 4 pilar itu jangan mereduksi posisi Pancasila sebagai dasar/fondasi bangsa dan negara Indonesia. Dalan audiensi dengan wakil pemimpin redaksi KR, Ronny S Viko, Haryadi menyampaikan bahwa inilah saatnya Gereja (masyarakat Kristen) harus aktif berbicara ke luar ke masyarakat, jangan hanya sibuk dengan urusan internal saja. Gereja harus mengkomunikasikan suara kenabiannya kepada publik.

HARYADI BASKORO MELAYANI IBADAH MINGGU GBI IMAMAT RAJANI YOGYA (9 JUNI 2013)

logo-fgbmfiHARYADI BASKORO MENANAMKAN VISI-MISI FULL GOSPEL BUSSINESS MEN’S FELLOWSHIP INTERNATIONAL YOGYA DI HOTEL GOWONGAN INN YOGYA (7 JUNI 2013)

Mr. Haryadi Baskoro menyanpaikan visi-misi FGBMFI dalam acara Outreach Dinner FGBMFI Yogyakarta yang diadakan di Hotel Gowongan Inn di Jl, Gowongan Kidul Yogyakarta. Tampil pula dalam acara itu beberapa pembicara: (1) Mr. Ir. Bernard Nyotoraharjo, (2) Mr. Yohanes Marjuki, (3) Mr. Hari Darmawan, dan (4) Mr. Tan Tek Seng dari Hongkong. Acara juga diperiahkan dengan pujian oleh Herlin Pirena. Pada kesempatan itu Mr. Haryadi menjelaskan tentang kerinduan orang Jogja untuk bersatui dengan Tuhan, terepresentasi dari monumen Tugu yang bermakna “manungaling kawulo lan gusti”. Dalam konsep budaya Jogja, untuk bisa manunggal dengan Tuhan, kita harus menjauhi dunia bisnis yang dilamnbangkan sebagai pasar zBeringharjo yang harus dilewati jika kita hendak ke Tugu. Tapi FGBMFI hadir di Yogya menjadi jawaban, sebab Yesus berkenan hadir di marketplace. Di ruang tempat diselenggarakannya acara itu, terdapat dekorasi berupa miniatur Tugu Yogya yang dipakai oleh Mr. Haryadi untuk menjelaskan pesan tersebut,

HARYADI BASKORO MEMBERI PEMBINAAN WAWASAN POLITIK UNTUK HAMBA-HAMBA TUHAN DI GEREJA GGP IMMANUEL YOGYA (7 JUNI 2013)

Haryadi Baskoro bersama Hedy Christiyono Nugroho, dan Cjhristin Novita Dewi memberikan pembinaan komprehensif untuk para pendeta. Haryadi membahas tentang Kristen dan Politik. Hedy membahas masalah hukum dan tantangan gereja. Sedangkan Christin Novita membahas masalah transparansi keuangan gereja.

HARYADI BASKORO MELAYANI PERSEKUTUAN MAHASISWA PASCASARJANA UGM YOGYA (30  MEI 2013)

HARYADI BASKORO MEMIMPIN IBADAH PADANG PERSEKUTUAN YPII YOGYA (MEI 2013)

HARYADI BASKORO MENJADI PENASIHAT GERAKAN MAHASISWA “JOGJA KUCINTA” (6 APRIL 2013)

HARYADI BASKORO KOTBAH DI PERAYAAN PASKAH UNIVERSITAS GAJAH MADA YOGYA (5 APRIL 2013)

HARYADI BASKORO MELAYANI PERSEKUTUAN DOSEN TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA (UKDW) YOGYA (MARET 2013)

PEMBINAAN PARA MAJELIS GKJ BARAN GUNUNG KIDUL (MARET 2013)

Haryadi Baskoro bersama Hedy Christiyono Nugroho memberikan pembekalan khusus kepada para majelis GKJ Barat Gunung Kidul yang mengadakan retret khusus di Hotel Griya Persada Kaliurang, Yogya, Maret 2013. Selama dua hari itu, Haryadi memberikan pembekalan tentang panggilan pelayanan dan pembaruan Gereja.

HARYADI BASKORO FOKUS PADA PELAYANAN PRA-PERNIKAHAN DENGAN LIVY LAURENS (SEPTEMBER  2012 – MARET 2013)

Selama 7 bulan (September 2012 – Maret 2013), Haryadi Baskoro bersama tunangannya, Livy Laurens melakukan pelayanan khusus menjelang pernikahan. Informasinya lihat di http://www.hlministry.wordpress.com

Pemberkatan dan peneguhan pernikahan Haryadi Baskoro MA MHum dan Livy Laurens MACE MA diadakan di GKJ Brayat Kinasih Yogya, dihadiri lebih dari 50 pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai gereja. Dalam ibadah itu juga diadakan doa pengutusan pelayanan mereka berdua (HL-Ministry).

pemberkatan dan peneguhan pernikahan Haryadi Baskoro dan Livy Laurens serta pengutusan pelayanan mereka berdua (HL-Ministry) di GKJ Brayat Kinasih Yogya 12 April 2013

HARYADI BASKORO MENGAJAR TENTANG “MEDIA PEMBELAJARAN PAK” DI STAK PESAT SALATIGA (21-23 JUNI 2012)

Dalam rangka mempersiapkan para mahasiswa yang segera akan lulus dan menjadi hamba-hamba Tuhan yang melayani di pedesaan-pedesaan seluruh Indonesia, Haryadi Baskoro diminta oleh STAK PESAT Salatiga untuk memberikan materi tentang media pembelajaran PAK. Dalam pengajarannya, Haryadi memberikan teori dan praktek lapangan secara langsung.

Setelah memberikan teori, Haryadi membagi kelas ke dalam beberapa kelompok untuk berpraktek mengajar dengan media pembelajaran. Setiap kelompok dilatih untuk menciptakan media pembelajaran yang unik dengan menggunakan bahan-bahan yang mereka temui di lingkungan sekitar. Disamping berpraktek mengajar di kelas, setiap kelompok juga wajib mengajar di luar kelas, yaitu di lingkungan kampus Pesat yang luas itu.

Para mahasiswa terilhami oleh Guru Agung Yesus yang memakai alam dan lingkungan sebagai media pembelajaran yang kreatif. Sementara Haryadi juga membagikan banyak bahan media pembelajaran dalam bentuk film, klip, dan macam-macam foto kepada para mahasiswa agar bisa dipakai dalam pelayanan mereka.

HARYADI BASKORO SHARING DI PERSEKUTUAN HAMBA-HAMBA TUHAN KKSK KABUPATEN PATI JAWA TENGAH (12 JUNI 2012)

Haryadi Baskoro memberikan sharing untuk para hamba Tuhan se-kabupaten Pati Jawa Tengah yang tergabung dalam persekutuan KKSK. Persekutuan yang diadakan di GBT Pati pada 12 Juni 2012 itu diikuti kurang lebih 40 hamba Tuhan dari berbagai denominasi gereja. Haryadi Baskoro menyampaikan seminar tentang Pancasila dan Gereja Kristen.

Tema ini dipilih terkait dengan momen Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2012 silam. Menurut Haryadi, Gereja Kristen di Indonesia patut bersyukur karena Tuhan telah memberikan Pancasila di Indonesia. Haryadi mengingatkan tentang bagaimana kekristenan mengalami tekanan dan aniaya di negara-negara komunis yang ateis. Sedangkan Indonesia adalah bangsa yang percaya pada Tuhan YME.

Dalam seminar ini, Haryadi juga memutarkan film tentang sidang BPUPKI yang melahirkan Pancasila itu. Sidang itu menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia berunding sangat alot untuk menentukan dasar negara. Namun karena pimpinan Roh Kudus, menurut Haryadi, bangsa ini dibawa Tuhan untuk percaya kepada Tuhan dan hal itu direpresentasikan dalam sila Ketuhanan.

Haryadi juga mengingatkan bahwa Sila Ketuhanan YME itu berhasil ditegakkan berkat lobi-lobi para pemimpin dari Indonesia Timur. Hal itu terjadi karena sebelumnya ada wacana dan upaya untuk menjadikan sila Ketuhanan itu bernuansa agama tertentu. Sejarah ini mengingatkan Gereja supaya melahirkan para pemimpin Kristen yang cinta bangsa dan bervisi teguh untuk membangun Indonesia.

Untuk itu, di akhir sharingnya, Haryadi mendorong para pendeta untuk menjadikan gereja masing-masing sebagai base camp pengkaderan para pemimpin unggul. Supaya pemuridan yang dilakukan di gereja bersifat pembinaan multi kompetensi sehingga anak-anak Tuhan tidak sekedar menjadi “jago kandang”.

Setelah seminar itu, para pendeta makan bersama di rumah Pdt. Natanael Kasidi yang adalah penggembala GBT yang ketempatan acara itu. Dalam acara santai itu, beberapa pendeta meminta Haryadi untuk juga memberikan seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan di gereja-gereja lain di Pati, Kudus, Juwana, dan sekitarnya.

HARYADI BASKORO MENGKOORDINIR MASYARAKAT KRISTEN INDONESIA (MKI) DIY UNTUK MENYUARAKAN PESAN KRISTEN DI MEDIA (1 JUNI 2012)

Dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila, Masyarakat Kristen Indonesia (MKI) DIY, dengan difasilitasi dan dikoordinir oleh Haryadi Baskoro, menyampaikan pesan-pesan Kristen melalui media cetak Harian Kedaulatan Rakyat Yogya. Audiensi yang dilakukan pada 1 Juni 2012 itu dimuat pada harian tersebut edisi 3 Juni 2012.

SHARING VISI DAN EVALUASI GEREJA  DI BANTUL YOGYA  (14 MEI 2012)

Pada Senin 14 Mei 2012 sore, Haryadi Baskoro bersama Hedy Christiyono SH dan dua pemimpin dari Masyarakat Kristen Indonesia Yogyakarta (Daniel Sukemi dan Bambang Prijambodo) memberi sharing dalam pertemuan beberapa tokoh Kristen di Bantul, Yogya. Dalam pertemuan di rumah Pendopo itu, Haryadi mengajak untuk bersama-sama mengevaluasi dinamika kekristenan dalam menghadapi tantangan masa kini.

Haryadi mengingatkan bahwa gereja-gereja masa kini sering sibuk sendiri-sendiri sehingga tidak berfokus untuk menyatakan kasihnya kepada masyarakat luas. Antar gereja lokal juga kurang terjadi sinergi sehingga tidak terjalin kerjasama. Padahal banyak gereja dan banyak pula hamba Tuhan berpotensi.

Haryadi juga mengingatkan kurangnya pengkaderan para pemimpin Kristen melalui gereja-gereja lokal. Orang Kristen dan bahkan para pemimpinnya masih gagap politik, gagap hukum, dan gagap sosial-budaya sehingga tidak dapat aktif berkarya di tengah masyarakat.

SHARING VISI-MISI MASYARAKAT KRISTEN INDONESIA SLEMAN YOGYA  (12 MEI 2012)

Pada Sabtu 12 Mei 2012 sore, Haryadi memberikan ulasan tentang visi dan misi Masyarakat Kristen Indonesia (MKI). Dalam menyampaikan hal itu, Haryadi memberi sharing bersama bapak Daniel Sukemi dan bapak Bambang. Penyampaian ini juga dalam rangka mempersiapkan event ”Pendidikan Kewargaan” yang akan diadakan oleh MKI yang bekerjasama dengan Institut Leimena Jakarta dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) pada Juni mendatang.

Dalam sharing itu, Haryadi juga mengingatkan pentingnya pendidikan politik dan pendidikan hukum bagi gereja-gereja. Selama ini pemuridan di gereja-gereja hanya memberi pembekalan spiritual, padahal umat menghadapi masalah sehari-hari yang membutuhkan wawasan yang luas.

Sementara itu, pendidikan politik yang sudah dilakukan sering tidak dikaitkan dengan Alkitab dan visi pelayanan Kristen. Akibatnya sekeder menjadi pengetahuan tanpa membangun iman dan tidak mendorong semangat pelayanan.

MENGAJAR SOSIOLOGI STT TAWANGMANGU: VISI TRANSFORMASI (1-3 MEI 2012)

Pada 1-3 Mei 2012, Haryadi Baskoro menuntaskan perkuliahan Sosiologi yang telah diberikannya sebulan sebelumnya kapada para mahasiswa STT Tawanmangu Jawa Tengah. Mengenai mata kuliah itu, Haryadi bukan hanya memberikan dasar-dasar teorinya, tetapi juga menerapkannya pada kasus-kasus pelayanan Kristen. Dengan demikian para mahasiswa bisa memakai teori-teori sosiologi untuk mempertajam analisis pelayanan mereka.

Salah satu yang dibahas dan didiskusikan adalah tentang perubahan sosial terjadi di beberapa kota di dunia, yang disebabkan oleh pengaruh kekristenan. Fenomena perubahan-perubahan sosial itu dikenal dengan istilah “transformasi”.

Setelah tahun 2000-an, terutama setelah momen ”National Prayer Conference 2003” di Jakarta, visi ”transformasi” membahana di kalangan Kristen di tanah air. Banyak pembicara asing membagikan visi ini kepada para pemimpin dan jemaat di Indonesia. Fakta dan pengalaman transformasi yang terjadi dahsyat di Cali (Colombia), Almalonga (Guatemala), Mizoram (India) dan lain-lain menginspirasi kita untuk mendambakan, mendoakan, dan mewujudkan mujizat perubahan masyarakat yang sama yang juga terjadi di Indonesia.

Sebagaimana dijelaskan Eri Prasadja, konsep transformasi masyarakat lebih luas dari konsep penginjilan semata. Konsep transformasi ini tidak membatasi diri dengan hanya mengubah manusia berdosa menjadi manusia lahir baru di dalam Kristus. Transformasi adalah mengubah dan mengembalikan manusia kepada harkat dan martabatnya sesuai dengan maksud Tuhan ketika manusia itu diciptakan.

Dengan konsep transformasi masyarakat seperti itu, transformasi merupakan sebuah proses yang tidak henti (never ending process). Fokus transformasi adalah ”proses”. Prasadja (2003) menegaskan bahwa kita, Gereja-Nya sedang dalam proses mewujudkan visi Tuhan tersebut. Kerajaan Tuhan sudah datang, sedang dimulai (inagurated), sedang ada, dan akan dipenuhi atau digenapi (fulfiled).

Haryadi menjelaskan juga mengapa transformasi masih merupakan proses? Secara teologis, hal itu karena sampai Kedatangan Kristus Kedua Kali (KKKK), iblis masih belum dihukum secara total. Iblis masih diijinkan Tuhan berkuasa di muka bumi (1 Yoh 5:19). Karena itu, dunia masih menjadi sebuah medan peperangan rohani antara Gereja-Nya dengan roh-roh jahat (Ef 6:12). Ketika Gereja bertekun dan berjuang melawan setan-setan dalam doa dan syafaat, transformasi terjadi di kota-kota. Namun, ketika Gereja undur, transformasi yang sudah tercapai bisa saja kendur. Jadi, harus berjuang secara terus-menerus

SHARING VISI-MISI MASYARAKAT KRISTEN INDONESIA  DI PUNDONG, BANTUL, YOGYA(30 APRIL 2012)

Pada Senin 30 April 2012, Haryadi Baskoro membahas tentang visi misi Masyarakat Kristen Indonesia dalam pertemuan beberapa tokoh Kristen di Bantul. Pertemuan itu diadakan di gereja GKMI Pundong Bantul

Sebelum Haryadi menyampaikan uraiannya, Drs. Sudomo Sunaryo mengingatkan supaya orang Kristen berani berbicara di tengah masyarakat. Mengenai kasus-kasus yang timbul di masyarakat, Gereja jangan pasif dan diam. Gereja harus bisa menyampaikan suara kenabiannya.

Melanjutkan pendapat tersebut, Haryadi mengatakan tentang pentingnya pengkaderan umat di gereja. Jika SDM umat dikuatkan maka mereka akan menjadi penyambung lidah gereja di berbagai bidang kehidupan. Seorang guru Kristen bisa menyampaikan pesan-pesan kenabian di dunia pendidikan. Seorang petani Kristen bisa menyampaokan suara gereja di dunianya sendiri.

HARYADI BASKORO MELAWAT MALUKU (31 MARET – 13 APRIL 2012)

Setelah sekitar sepuluh tahun berdoa, akhirnya Tuhan membukakan pelayanan di Maluku dan Maluku Tenggara. Sejak 31 Maret sampai 13 April 2012, Haryadi Baskoro melayani di kota Ambon, kota Tual, dan kota Dobo. Haryadi melayani bersama Livy Laurens, ibu Meike, dan bapak Dody.

Pelayanan di kota Ambon berlangsung sejak tanggal 31 Maret sampai 4 April 2012. Begitu sampai di Ambon, Tuhan mempertemukan Haryadi dengan seorang pendoa dari Menara Doa Kota Ambon, ibu Emma Wattimena. Maka Haryadi dkk melayani doa syafaat di menara doa bersama-sama para pendoa syafaat Ambon di MDK Hotel Amboina (Minggu, 1 April 2012). Pada kesempatan itu, doa-doa syafaat dinaikkan bersama untuk Maluku dan Indonesia.

Pada Selasa, 3 April 2012, Haryadi menyampaikan pengajaran tentang doa kepada para pendoa syafaat Ambon dalam sebuah pertemuan khusus pendoa di gereja GPPS Ambon. Pada kesempatan itu Haryadi mengupas pengajaran tentang ”peperangan rohani” melawan setan-setan. Kemudian setelah pengajaran disampaikan, Haryadi memimpin doa syafaat bersama dengan pokok-pokok doa sebagai berikut: (1)Berdoa supaya Gereja Tuhan hidup dalam pertobatan dan pengkudusan yang sungguh-sungguh. Sebab dunia ini semakin gelap dan najis. Dalam kesucianlah Gereja akan dipakai menjadi perabot-Nya yang mulia; (2) Berdoa supaya Gereja Tuhan bersatu, tak terpisahkan oleh sekat-sekat organisasi, denominasi, dan aliran. Terjadi sinergi antar berbagai pelayanan yang berbeda-beda; (3) Berdoa supaya ”misi” menjadi fokus Gereja. Agar segenap kekuatan dan sumber daya di dalam Gereja dipusatkan pada pekerjaan misi. Gereja bersatu untuk menginjil di tengah tantangan penolakan dunia dan kemerosotan semangat misi itu sendiri; (4) Berdoa supaya Gereja Tuhan memahami arti sebenarnya dari ”peperangan rohani”, yaitu perang melawan setan-setan dan bukan perang melawan manusia. Supaya Gereja tak terjebak dalam konflik antar agama, antar suku, dan antar kelompok sosial. Supaya Gereja penuh kasih, (5) Berdoa supaya Gereja melahirkan pemimpin-pemimpin Kristen visioner dengan SDM unggul multi kompetensi yang bisa berdampak ke dalam Tubuh Kristus dan berdampak keluar sebagai agen-agen pembaharu masyarakat/bangsa.

Pada Rabu, 4 April 2012, Sekda Gubernur Provinsi Maluku, ibu Ros Far Far SH MH mengundang Haryadi Baskoro untuk berdialog di kantornya mengenai masalah-masalah seputar pelayanan di Ambon. Dari pertemuan itu direncanakan pelayanan bersama untuk membina SDM para pemimpin dan pemuda di Maluku

Dari Ambon, Haryadi Baskoro dkk bertolak ke Maluku Tenggara. Dengan Kapal PELNI Kerinci, Haryadi menjangkau kota Dobo dengan menempuh perjalanan laut dua hari. Tanggal 4 April sore berangkat dari Ambon dan sampai Dobo pada tanggal 6 April siang.

Di Dobo, Haryadi melayani KKR dan seminar Paskah di gereja GBI Eben Haezer (6-8 April 2012). Pada KKR Jumat sore (6 April 2012), Haryadi memberikan Firman pengajaran tentang kasih. Haryadi menekankan bahwa radikalisme Kristen adalah radikalisme dalam cinta kasih seperti telah diteladankan oleh Tuhan Yesus sendiri. Radikalisme Kristen bukanlah sikap dan perilaku agamawi yang fanatik, namun sikap hidup yang berlimpah-limpah kasih sayang, bahkan kasih terhadap orang-orang yang jahat terhadap kekristenan.

Pada 7 April pagi, Haryadi memberikan seminar tentang akhir jaman. Bahan ajarnya diambil dari buku karyanya sendiri, ”77 Renungan Alkitabiah tentang Akhir Jaman” yang diterbitkan Penerbit ANDI.

Pada 7 April sore, Haryadi kembali mengupas Firman dalam KKR. Kali ini ia membahas pentingnya kerinduan rohani. Sedangkan pada KKR terakhir, 8 April 2012, Haryadi membahas masalah doa seputar peristiwa Paskah, yaitu (1) pentingnya doa berjaga-jaga, seperti yang diminta oleh Yesus kepada para murid di Gersemani (2) doa mencari kehendak Tuhan, seperti dicontohkan Yesus di Getsemani(3) doa syafaat untuk mengcover jiwa-jiwa, seperti dilakukan Yesus atas Petrus untuk menjaganya. Dari pelajaran tentang doa itu, Haryadi mengajak seluruh pemimpin dan jemaat untuk berdoa syafaat bersama bagi Dobo, Maluku, dan Indonesia.

HARYADI BASKORO MENDUKUNG PELAYANAN PDT. THOMAS SUWARNO, GBT BOYOLALI (18 MARET 2012)

Pada Minggu 18 Maret 2012, Haryadi Baskoro berkunjung ke Boyolali untuk melayani Firman Tuhan di GBT Boyolali yang digembalakan oleh Pdt. Thomas Suwarno. Haryadi mengupas kebudayaan Jawa ”Metu-Manak-Mati” dari perspektif Firman Tuhan (1 Sam 1:6-11). Pelayanan Haryadi ke Boyolali ini dalam rangka menindaklanjuti pelayanan Haryadi untuk menuliskan buku kesaksian hidup dan pelayanan Pdt. Thomas Suwarno. (www.thomassuwarno.wordpress.com)

HARYADI BASKORO MEMBERIKAN BUKU “JOGJA” UNTUK GBI IMAMAT RAJANI (26 FEBRUARI 2012)

Pada Minggu 26 Februari 2012, Haryadi Baskoro melayani Firman Tuhan di GBI Imamat Rajani yang ibadahnya diadakan di supermarket GIANT di Jalan Godean Km 4,5 Yogyakarta. Setelah pelayanan Firman yang mengupas rahasia nama EL SHADDAI itu, Haryadi memberikan buku karyanya berjudul ”Catatan Perjalanan Keistimewaan Yogya” untuk gembala gereja setempat, Pdt. Yusak Benyamin.

HARYADI BASKORO, WAKIL KETUA MASYARAKAT KRISTEN INDONESIA (MKI) YOGYAKARTA (17 FEB 2012)

Dalam pertemuan Masyarakat Kristen Indonesia (MKI) Yogyakarta di GKI Gondomanan pada Jumat 17 Februari 2012, Haryadi Baskoro dipilih menjadi Wakil Ketua II MKI Yogyakarta. Pengurus MKI Yogya selengkapnya adalah sebagai berikut: Penasihat: Drs. Sudomo Sunaryo, Pdt. Dr. Paulus Trimanto Wibowo, Pdt. Dr. R. S. Humphrey Kariodimejo, Prof. Dr. dr. Heri Kusnanto, Dr. Maryatmo, Dr. Ir. Benyamin Sugeha, M.Kes, Purnawan Hardiyanto M.Ec, Drs, Daniel Sukemi; Ketua: Ir. Bambang Prijambada, Msi; Wakil Ketua I: Drs. Totok  Sudarwoto; Wakil Ketua II: Haryadi Baskoro, MA, M.Hum; Sekretaris I: Dr. Ir. R. Julius Eri Ratmanto, M.Th; Sekretaris II: Y Untung Tri Raharjo S Sos; Bendahara I: Pdt. Sudarto; Bendahara II: Ria Ananti.

MKI Yogyakarta dilengkapi dengan bidang-bidang Kerohanian (Albert Yusuf Langke, Pdt. Bawud Sukardjo), Hubungan antar Lembaga (Widi Wibowo, Widi Nursanto, Sayok), Wawasan Kebangsaan (Pdt. Yohanes Sih Nyoto, Drs. Bambang Praswanto, Msi), Pendidikan dan Pengkaderan (Pdt. Philipus Setyanto, Drs Gatot Marsono, Drs Mulyo Prabowo),  Advokasi (Paul Petor SH, Hedy Christiyono Nugroho SH), Sosial (Wasis Siswanto, Pdt Daniel Sobari, Mien Kusumaningrum), Pendanaan (Herman Hartono, Etty Ismoyowati), Informasi (Drs. Wimmie Handiwidjoyo), Litbang (Pdt. Welly Hendrik, Abadi), Auditor (Vita).

MENGAJAR DI STAK TERPADU PESAT SALATIGA JAWA TENGAH (6-11 FEBRUARI 2012)

Haryadi Baskoro mendapat kesempatan luar biasa untuk mengampu dua mata kuliah yang diajarkan di STAK Terpadu Pesat Salatiga, yaitu mata kuliah Kewargenegaraan dan Mata Kuliah Bimbingan Penulisan Ilmiah. Haryadi mengajarkan dua mata kuliah itu secara padat pada tanggal 6 sampai 11 Februari 2012. Karena masing-masing mata kuliah harus mencakup 14 kali pertemuan (sesi) maka perkuliahan dua mata kuliah selama seminggu itu sangat padat, dari pagi sampai malam.

Mata kuliah Bimbingan Penulisan Ilmiah dengan kode MKK-PMD 4012 diajarkan dari Senin sampai Rabu, 6-9 Februari, pagi sampai malam. Mata kuliah yang diberikan untuk memperlengkapi mata kuliah metodologi penelitian dimaksudkan untuk mempertajam kompetensi menulis para mahasiswa sehingga lancar dalam menyelesaikan tugas penulisan skripsi mereka.

Haryadi memulai dengan mengajarkan teknik penulisan ilmiah secara umum, sebab terkadang para mahasiswa memiliki masalah mendasar dalam hal penulisan ilmiah yang baik dan benar. Kemudian Haryadi memfokuskan untuk mengajar peulisan bab per bab dari skipsi. Dalam hal ini para mahasiswa diberi bimbingan untuk terampil menuliskan proposal penelitian, termasuk menuliskan bab kajian teori dan kerangka berpikir.

Dalam mata kuliah ini, Haryadi juga menolong para mahasiswa untuk bisa memilih topik penelitian dan merumuskan maslaah penelitian dengan benar serta memilih teori yang tepat yang sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti. Tampak bahwa para mahasiswa memiliki wawasan luas tentang hal-hal yang harus mereka teliti sebab mereka sudah banyak terjun di lapangan.

Mata kuliah Kewarganegaran dengan kode MPK-TSIU 3001 merupakan mata kuliah wajib di STAK Pesat ini. Dalam mengajar, Haryadi memakai buku yang ditulisnya, “Christian Citizenship” yang telah dipakai untuk mengajar Kewarganegaraan di beberapa kampus teologi. Ini merupakan buku yang ditulis untuk memberikan civic education yang relevan dengan masalah-masalah yang dihadapi dalam pelayanan para hamba Tuhan dan pemimpin kristen di tengah masyarakat.

Dalam mata kuliah ini, Haryadi mendorong para mahasiswa untuk mencermati dan mengkritisi masalah-masalah yang tengah terjadi di masyarakat yang terkait dengan pelayanan kristen. Untuk itu Haryadi memutarkan film untuk didiskusikan di kelas. Misalnya film tentang sejarah lahirnya Pancasila, film tentang pelanggaran HAM di Indonesia, film tentang chauvinisme, dan sebagainya.

Khusus mengenai Pancasila, Haryadi Baskoro memberikan kupasan yang khusus dan mengajak para mahasiswa untuk mendiskusikannya secara mendalam. Haryadi mengingatkan bahwa Pancasila adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada bangsa Indonesia. Terjadinya Sila Pertama Pancasila menunjukkan bagaimana Roh Kudus sudah membimbing bangsa Indonesia sampai percaya kepada TUHAN YANG MAHA ESA.

Dalam konteks agama-agama, Sila Pertama itu merupakan the unfinihed wisdom yang merupakan pintu masuk bagi semua agama untuk menjelaskan tentang “siapa” Tuhan itu. Bagi umat Muslim, Sila Pertama adalah jalan menuju penjelasan tentang Allah SWT. Sedangkan bagi Kristen, Sila Pertama itu bagaikan tulisan “Allah yang tidak dikenal” yang dijumpai di salah sebuah mezbah yang ada di kota Athena (Kis 17:23). Paulus menjadikan itu sebagai titik kontak untuk menjelaskan siapakah Allah yang dimaksud menurut pandangan kristen.

Karena itu Pancasila memberikan kesempatan bagi semua agama dan sistem kepercayaan untuk memperkenalkan siapa Tuhan Yang Maha Esa itu, yang setiap agama itu mempunyai keyakinan yang berbeda-beda. Bisa dibayangkan kalau saja dasar negara Indonesia itu ateisme, tidak ada pintu terbuka bagi agama-agama.

Menganai masalah HAM, Haryadi Baskoro menegaskan bahwa secara teologis, konsep HAM di Indonesia jauh lebih maju. Kalau HAM di Eropa, basisnya adalah individualisme. Sedangkan HAM di Indonesia, mengikuti logika hirarkis piramidal sila-sila Pancasila, merupakan hak mendasar yang dianugerahkan oleh Tuhan. Konsep ini menunjukkan kecerdasan spiritual bangsa Indonesia.

Selain mengajar kedua mata kuliah itu, Haryadi Baskoro juga memberikan renungan pada acara doa pagi yang diikuti oleh semua mahasiswa dan dosen. Dalam renungan itu, Haryadi mengingatkan pentingnya memiliki hati untuk melayani dan kepekaan untuk menemukan celah atau titik kontak pelayanan di tengah masyarakat.

MENGAJAR KEPEMIMPINAN DI S2 KEPEMIMPINAN STT KADESI (28 JAN 2012)

Haryadi Baskoro mendapat kesempatan untuk ikut mengajar kepemimpinan di program S-2 kepemimpinan di Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta. Program baru STT Kadesi itu sendiri dilaunching dalam sebuah acara di Gedung Pertemuan Ganesha APMD Yogyakarta, 28 Januasi 2012 dengan mengusung tema “Be A Leader to Proclaim The Kingdom of Heaven”. Rencana semula acara peluncuran ini dihadairi oleh Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI.

Acara peluncuran program S-2 Kepemimpinan itu sekaligus merupakan acara Natal bersama segenal civitas akademika STT Kadesi. Sekaligus merupakan ucapan syukur bersama bagi STT yang di Yogyakarta sudah memiliki dua kampus itu, kampus pertama di Waron, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman,dan kampus kedua di Jl. Menteri Supeno no 31 Yogyakarta.

Keterlihatan Haryadi mengajar di program S-2 kepemimpinan ini merupakan peneguhan bagi pelayanan HBCE yang selama ini berkomitmen memperlengkapi SDM bagi para pemimpin dan bagi para calon pemimpin.

MENEGUHKAN PELAYANAN DAN VISI JKI RK (25 DES 2011)

Dalam kotbah Natal di gereja JKI RK Ygyakarta, Haryadi Baskoro meneguhkan setiap pelayan, hamba Tuhan, dan juga gembala sidang setempat untuk tetap teguh dalam visi illahi. Haryadi membahas bagaimana Maria mendapatkan visi illahi sehingga dia dipakai Tuhan secara ajaib untuk menjadi alat kelahiran Sang Mesias.

Menurut Lukas 1:26-38, kita belajar dari teladan Maria Sang Visioner. Perikop itu memberi beberapa pelajaran tentang bagaimana Maria menerima visi dari Tuhan: (1) Maria wanita biasa (Luk 1:26-27), (2) Perjumpaan spiritual (Luk 1:28-29), (3) Tuhan memberi visi (Luk 1:30-33), (4) Menguji visi dengan akal budi (Luk 1:34), (5) Memahami kehendak Tuhan (Luk 1:35-37), (6) Beriman dan Taat (Luk 1:38).

Untuk meneguhkan pelajaran tentang visi Maria itu, sebelum Haryadi menyampaikan firman Tuhan, lebih dulu diputarkan video klip kesaksian Livy Laurens. Klip ini menggambarkan bagaimana Livy yang semula mempunyai cita-cita menjadi penyanyi menjadi Livy yang memiliki visi  sebagai penyanyi.

MENEGUHKAN PARA PELAYAN GBIS GRAHA SABDA (25 DES 2011)

Pada Minggu 25 Desember 2011 pagi, jam 10.00 Haryadi Baskoro membagikan Firman dalam ibadah Natal gereja GBIS Graha Sabda yang berlokasi di Jalan Kyai Mojo, Pingit, Yogyakarta. Dalam pengajaran itu, Haryadi juga memberikan pesan-pesan khusus yang berkaitan dengan pelayanan dan kepemimpinan, disamping pesan-pesan umum untuk jemaat.

Haryadi membahas tentang bagaimana Tuhan Yesus datang sebagai Raja. Bagi para pelayan Tuhan, hal itu merupakan pengharapan tersendiri karena kelak ketika Yesus bertahta sebagai Raja di bumi dalam masa Kerajaan Seribu Tahun, para hamba Tuhan yang setia akan ikut memerintah bersama Kristus.

Dalam pengajaran itu Haryadi juga memutarkan beberapa video klip yang menggambarkan peristiwa pengangkatan di akhir jaman dan tentang masa tribulasi. Hayadi mendorong agar jemaat dan para pemimpin tekut melayani sebab kelak akan mendapatkan mahkota-mahkota pada peristiwa Pengadilan Kristus (Bema).

MENEGUHKAN PELAYANAN GBI FILADELFIA KLATEN (24 DES 2011)

Haryadi Baskoro mendapat kesempatan untuk menyampaikan Firman dalam acara Natal gereja GBI Filadelfia di daerah Klaten yang digembalakan oleh Pdt. Tommy Dumgair, Th.M. Dalam kesempatan itu, disamping memberikan pesan-pesan pengajaran untuk seluruh jemaat, Haryadi juga meneguhkan visi pelayanan para pemimpin di gereja tersebut. Sebelum firman disampaikan, Livy Laurens memberikan persembahan pujian dan memutarkan film kesaksian mengenai pelayanannya sebagai seorang worshipper.

Haryadi membahas tentang bagaimana Maria yang adalah seorang wanita biasa, dipakai Tuhan secara luar biasa karena mau menerima visi yang dari Tuhan. Haryadi membandingkan Maria dengan Musa. Ketika Tuhan memberi visi, Musa tidak langsung mau menerima dan melaksanakannya. Berbeda dengan Maria, begitu malaikat menyampaikan pesan Tuhan tentang visi, Maria langsung percaya dan mentaatinya.

Haryadi memotivasi jemaat untuk meneladani Maria. Meskipun kita tidak memiliki kelebihan aa-apa, namun Tuhan bisa memakai orang yang biasa-biasa saja menjadi hamba Tuhan yang luarbiasa.

Bagi para pelayan dan hamba Tuhan, Haryadi memotivasi supaya tetap setia dalam panggilan. Bahwa seorang hamba Tuhan apalagi pemimpin, harus mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan dan menangkap secara langsung visi yang diberikan Tuhan kepadanya.

Haryadi juga memutarkan film kesaksian pelayanan Reinhard Bonnke di Nigeria. Haryadi menceritakan bagaimana Bonnke menerima visi untuk melayani Afrika dan harus setia selama bertahun-tahun melayani di benua gelap itu. Namun berkat kesetiaannya, penginjil kesembuhan ini sekarang dipakai secara ajaib. Pdt. Tommy merasa diteguhkan dengan kesaksian ini.

MENEGUHKAN VISI YAYASAN FIRKESOS IMMANUEL (19 DES 2011)

Haryadi Baskoro mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan firman pada acara Natal Yayasan FirKeSos Immanuel Yogyakarta yang diadakan di gedung gereja GKII Badran Yogyakarta pada 19 Desember 2011. Dalam ibadah Natal bertema “Yesus Datang Membawa Berkat” itu, Haryadi meneguhkan visi-misi Yayasan FirKeSos Immanuel tersebut.

Menurut Haryadi, FirKeSos Yang merupakan singkatan dari Firman, Kesembuhan, dan Sosial itu sudah tepat. Sebab, pelayanan harus dimulai dan didasarkan pada Firman, yaitu Alkitab. Pelayanan Kristen, meskipun hebat dan spektakuler, jika tidak Alkitabiah tidak berkenan di hadapan Tuhan dan bahkan bisa menyesatkan.

Kemudian, pelayanan kesembuhan adalah kehendak Tuhan karena Yesus memberikan kuasa Kerajaan Allah kepada para murid, para rasul, dan setiap orang percaya saat ini. Dengan kuasa Kerajaan Allah itu, Gereja Tuhan dimampukan untuk mengusir setan-setan dan mengadakan mujizat-mujizat. Termasuk mujizat untuk memberkati jiwa-jiwa secara ekonomi dan sosial.

BUKU PELAJARAN KARYA HARYADI BASKORO UNTUK MAHASISWA ST3 (29 OKT – 2 DES 2011)

Haryadi Baskoro membagikan buku pelajaran pendidikan kewarganegaraan karyanya sendiri untuk para mahasiswa STT Tawangmangu. Buku berjudul “Christian Citizenship” ini menjadi bahan ajar wajib bagi mereka yang mengikuti kuliah yang diampu oleh Haryadi sejak tahun 2006 ini.

Buku ini pada dasarnya mengandung pokok-pokok pelajaran kewarganegaraan seperti yang diberikan di kampus umum. Namun Haryadi menambahkan beberapa data dan analisa yang terkait dengan pelayanan Kristen. Dengan demikian buku itu memperlengkapi para hamba Tuhan yang akan terjun di dunia pelayanan di tengah masyarakat.

Buku ini membimbing para mahasiswa untuk mendiskusikan masalah-masalah aktual kewarganegaraan yang dihadapi oleh gereja dan pemimpin-pemimpin Kristen.

SEMINAR AKHIR JAMAN DI GEREJA KRISTEN PIMPINAN ROH KUDUS (GKPR) SURABAYA (26 NOV 2011)

Haryadi Baskoro memberikan ceramah tentang akhir jaman di Gereja Kristen Pimpinan Roh Kudus (GKPR) Jemaat Imamat Rajani yang berlokasi di Jalan Tambak Madu II/73 Surabaya. Seminar yang dihadiri oleh beberapa pendeta dan pimpinan gereja-gereja juga menampilkan pembicara Pdt. Ir. Bartolomeus Dumgair Th.M, Pdt. Sigit Ani Saputro, M.Div. Th.M.

Pada sesi kedua, Haryadi Baskoro MA, M.Hum menekankan beberapa poin penting. Ada dua hal yang harus diwaspadai, pertama jangan sampai Gereja Tuhan justru terjerat dalam perdebatan yang memecah belah. Kedua, mewaspadai isu-isu akhir jaman yang menjadikan orang kristen menggandrungi sensasi, tersesat di dalamnya, dan malah menjadikan isu-isu itu sebagai komoditas pelayanan.

Kemudian ada dua hal yang menjadi keharusan bagi orang Kristen terkait masalah akhir jaman ini. Pertama, orang percaya harus menjadi pembelajar yang benar, yaitu belajar Alkitab dengan metode penafsiran yang tepat. Kedua, harus memfokuskan diri pada: (1) mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya dengan hidup suci, (2) mengejar mahkota-mahkota dengan hidup benar dan giat melayani Tuham, (3) menyelesaikan tugas Amanat Agung dengan menjangkau sebanyak mungkin jiwa sesat di saat-saat terakhir ini, (4) melancarkan peperangan rohani sebab iblis akan meggagalkan semua kehendak Tuhan itu (1-3).

SEMINAR AKHIR JAMAN DI GPPS JEMAAT EL-BETHEL SURABAYA (12 NOV 20110)

Dengan difasilitasi oleh Tim Grace Soteria, Haryadi Baskoro memberikan ceramah pada seminar akhir jaman di gereja GPPS Jemaat El-Bethel Surabaya pada Sabtu 12 November 2011. Seminar itu mengangkat thema “Akhir Jaman, Siapa Takut?”. Inti pesan seminar itu adalah bagaimana orang Kristen harus hidup bijak di akhir jaman.

Dua pokok bahasan yang dikupas dalam seminar itu adalah pandangan teologi Alkitabiah tentang akhir jaman dan isu-isu tentang akhir jaman. Dari dua bahasan itu ditarik kesimpulan tentang bagaimana kita harus hidup bijak menjelang Kedatangan Kristus Kedua Kali. Pdt. Ir. Bartolomeus Dumgair Th.M membahas aspek teologi. Sedangkan Haryadi Baskoro, penulis buku “77 Renungan Alkitabiah tentang Akhir Jaman” membahas aspek praktisnya, yaitu isu-isu akhir jaman tersebut.

MEMPERSIAPKAN ”BAHAN AJAR” BERSAMA PDT. GILBERT LUMOINDONG & PDT. DR. JACOB NAHUWAY (1 NOV 2011)

Haryadi Baskoro mewawancarai Pdt. Gilbert Lumoidong STh dan Pdt. Dr Jacob Nahuway MA tentang pandangan mereka mengenai pelayanan pengacara Kristen Hotma Sitompoel SH dan LBH Mawar Saron. Hasil wawancara itu akan dimuat dalam buku kesaksian Hotma yang sedang diedit oleh Haryadi. Buku itu didisain oleh Haryadi sebagai sebuah buku ajar tentang pelayanan Kristen di workplace yang berbasis pada kesaksian dan pelayanan Hotma Sitompoel dan LBH Mawar Saron.

Buku itu akan menjadi sebuah materi yang siap untuk diseminarkan. Bukan sekedar sebuah buku kesaksian. Buku ini memberikan pelajaran tentang bagaimana orang Kristen harus bisa berdampak di tengah kehidupan masyarakat, seperti telah diteladankan oleh Hotma Sitompoel dan pelayanannya, LBH Mawar Saron itu.

Dalam buku itu, Pdt. Gilbert Lumoidong STh menekankan pentingnya orang Kristen (kaum awal gereja) untuk menemukan apa dan bagaimana panggilannya. Pendeta GBI Glow ini juga memotivasi supaya setiap gereja lokal memberi kesempatan bagi jemaatnya yang berpotensi untuk melahirkan pelayanan-pelayanan khusus. Jika di GBI Mawar Saron ada Hotma sehingga lahirlah LBH Mawar Saron, maka di gereja lain pasti juga ada tokoh lain yang bisa melahirkan bidang-bidang pelayanan lainnya. Dengan demikian, setiap gereja lokal berdampak nyata dengan memberikan pelayanan riil di tengah masyarakat.

Sementara itu Pdt. Dr Jacob Nahuway MA mengatakan bahwa Hotma adalah seorang pengacara berhati pendeta. Ini yang harus membuat para pendeta malu. Meski pengacara, Hotma punya hati, visi, dan aktivitas pelayanan yang luar biasa. Seharusnya seperti itulah setiap jemaat, pekerjaan sekuler menjadi pelayanan. Dan, para pendeta jangan kalah dalam keaktifan pelayanannya.

DISKUSI OKULTISME PEMIMPIN INDONESIA DI STT TAWANGMANGU (10-14 OKTOBER 2011)

Selama mengajar mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di STT Tawangmangu (10-14 November 2011), Haryadi Baskoro membimbing para mahasiswa untuk berdiskusi khusus tentang praktik okultisme yang dilakukan oleh para pemimpin di negeri ini. Dalam diskusi itu, Haryadi memberi kesempatan kepada angkatan kakak tingkat, yang dulu juga dibimbing oleh Haryadi, untuk memutarkan film dokumenter karya mereka.

Beberapa bulan yang lalu, Haryadi Baskoro membimbing angkatan itu untuk meneliti dan memfilmkan aktivitas okultisme di beberapa situs bersejarah di Jawa Tengah. Hasilnya mencengangkan karena juru kunci – juru kunci situs-situs itu menceritakan bagaimana para pemimpin dan pajabat tinggi di Indonesia sering bersemadi, ngalap berkah, dan mencari wangsit serta kekuatan supranatural di tempat-tempat itu. Film itu menjadi bahan diskusi teologis dan sosiologis yang menarik bagi para mahasiswa ST3.

MENULISKAN DOA UNTUK KELUARGA HADI PURNOMO

Yogya (21 Sept 2011). Haryadi Baskoro menuliskan doa untuk dibacakan oleh seluruh keluarga pada saat pemakaman Bapak Hadi Purnomo (83 tahun) di pemakaman Gunung Sempu Yogya. Anak-anak Bapak Hadi adalah tokoh-tokoh pebisnis dan aktivis pelayan Tuhan di Yogya, khususnya di pelayanan FGBMFI dan GKI Wongsodirjan.

Pada waktu Haryadi masih dalam pelayanan di Surabaya, Ibu Lily (aktivis FGBMFI Yogya) menelpon Haryadi untuk  menuliskan doa yang nanti akan dibacakan saat pemakaman Bp Hadi. Adapun doa itu adalah sebagai berikut.

SEUNTAI DOA BUAT PAPI TERCINTA. Bapa kami yang di sorga, terimakasih untuk papi tercinta. Telah kami lihat bagaimana Engkau tetap menggendong dia sampai masa putih rambutnya. Engkau senantiasa menopang papi kami. Bapa, terimakasih karena papi telah hidup di dalam Engkau. Sehingga, kami pun menerima penggenapan janji-Mu, bahwa anak-cucu orang benar senantiasa diberkati. Bahkan, kami mewarisi iman yang telah tumbuh dalam diri papi. Sekarang, saat Engkau telah panggil dia, kami sadar sepenuhnya bahwa papi adalah anugerah termanis yang telah Kau karuniakan pada kami. Ampunilah jika kami masih terlalu kurang dalam mengasihi papi selama dia hidup. Bapa di sorga, kami berjanji untuk tetap menjaga mami. Kami berjanji untuk menjadi anak-anak papi yang baik, yang meneladani papi. Kami pun berjanji untuk menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kami. Hari ini, hiburkanlah mami dan kami semua. Ubahlah dukacita kami menjadi sukacita kemenanga. Sebab, kami yakin papi telah bersama-Mu di surga kekal yang mulia. Terimakasih Bapa. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

PENDAMPINGAN DAN SOSIALISASI PELAYANAN GRACE SOTERIA DI GPdI BUKIT MULIA SURABAYA (18 SEPTEMBER 2011)

Surabaya (18 Sept 2011). Dalam pelayanan penyampaian Firman Tuhan pada ibadah Minggu di Gereja GPdI Bukit Mulia Surabaya, Haryadi Baskoro mendampingi dan mensosialisasikan pelayanan Grace Soteria. Karena itu sebelum Haryadi menyampaikan Firman, pimpinan Grace Soteria Bapak Semuel memberikan kesaksian. Di akhir kotbah, ibu Meike menaikkan doa penutup.

Dalam ulasannya, Haryadi mengingatkan supaya para pemimpin dan umat gereja Pentakosta senantiasa menjaga api rohani yang telah berkobar. Haryadi mengingatkan bagaimana sejarah gerakan dan gereja Pentakosta yang dahsyat itu telah membarui kekristenan di seluruh dunia.

Dalam kesaksiannya, Bapak Semuel menceritakan bagaimana Tuhan menolongnya ketika kapalnya terbakar di tengah laut. Api yang sudah melanda sebagian besar bagian kapal sangat mengancam dirinya. Namun berkat pertolongan Tuhan saja, Semuel akhirnya bisa selamat. Pengalaman itu mendorongnya untuk semakin mengasihi Tuhan dan giat melayani Tuhan bersama istri tercintanya, Meike. Adapun pelayanan Grace Soteria itu sendiri bergerak di bidang pendidikan dan pelatihan untuk memajukan pelayanan Kristen lintas denominasi.

PEMBINAAN HUKUM UNTUK GURU-GURU PAK SE-SURABAYA (17 SEPTEMBER 2011)

Surabaya (17 Sept 2011). Haryadi Baskoro bersama Hedy Christiyono Nugroho SH dan R. Heri Sukrisno SH dari Kantor Hukum 3H Advocate & Consultants memberikan seminar “Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT): Tinjauan Sosiologis, Teologis, dan Hukum” untuk 200-an lebih guru-guru PAK KKG-MGMP TK, SD, SMP, SMA, SMK se-kota Surabaya. Acara seminar diadakan di Graha Gracia Jalan Gubeng Pojok No. 15 Surabaya.

Haryadi menyampaikan pemaparan pada sesi pertama tentang tinjauan Sosiologis dan Teologis. Dalam pemaparannya ditekankan pentingnya pendekatan kasih yang alkitabiah dalam mengatasi kemelut kekerasan dalam rumah tangga. Haryadi juga menyingkap aspek spiritual dalam fenomena kekerasan, yaitu keterlibatan iblis (kuasa gelap) yang memecah belah rumah tangga. Karena itu doa dan doa peperangan rohani merupakan salah satu strategi rohani dalam mengatasi masalah KDRT.

Susunan acara pada kegiatan itu adalah sebagai berikut: (1)  Registrasi – 07.30-08.00; (2) Renungan Firman Tuhan oleh Gembala Sidang GKI Darmo Satelit (Pdt. Samuel Hendrarto, S.Th, M.Psi – 08.00-08.50; (3) Break time – 08.50-09.00; (4) Sesi I oleh Haryadi Baskoro – 09.00-10.45; (5) Sesi II oleh Hedy Christiyono Nugroho SH dan R. Heri Sukrisno SH – 10.45-12.30; (6) Makan Siang Bersama – 12.30-13.15; (7) Sesi III berupa pemutaran film hukum dan tanya jawab oleh Haryadi Baskoro, Hedy Christiyono Nugroho SH dan R. Heri Sukrisno SH; (8) Informasi dan pembagian piagam dari Kantor Hukum 3H – 15.00-15.30.

Ketua panitia adalah Drs. Petrus Sutikno, MM. Moderator dilayani oleh Pdt. Yol, SH, MA dan Drs. Fredy. Dalam acara ini hadir pula Ibu Meike SH (Tim Grace Soteria) yang merupakan partner pelayaan dalam penyelenggaraan seminar ini.

SHARING DAN DOA MENJELANG PEMILUKADA WALIKOTA YOGYA DI PEREKUTUAN HAMBA TUHAN GARIS DEPAN YOGYA (12 SEPTEMBER 2011)

Yogya (12 Sept 2011). Haryadi Baskoro bersama Hedy Christiyono Nugroho dan Pdt. Philipus Setyanto Th.M memberikan informasi bagi para hamba Tuhan dalam pertemuan Hamba Tuhan Garis Depan (Garda) di GBI Stockwell Yogya. Apa yang mereka sampaikan pada hakikatnya merupakan “pendidikan politik” dan bukannya “kampanye politik”. Karena itu outputnya adalah “tindakan rohani”, bukannya “aksi politik”.

Mereka bertiga menegaskan supaya para hamba Tuhan melek politik, memiliki wawasan politik yang luas. Namun lebih dari itu, para hamba Tuhan harus memiliki sudut pandang Alkitabiah dalam mensikapi persoalan politik. Hamba Tuhan jangan oportunis dan jangan bersikap pragmatis sehingga hanya mencari aman, mencari selamat diri sendiri, memanfaatkan keadaan untuk keuntungan sendiri, dan mudah terhasut dan tertipu, termasuk oleh money politic. Gereja harus menjaga wibawa di tengah masyarakat politis dengan tetap berfokus pada kepentingannya sebagai “lembaga misi” yang illahi. Gereja juga harus menyampaikan suara kenabian di tengah bangsa ini.

Pdt Philipus menekankan supaya Gereja Tuhan tidak asal bertindak, namun harus berdoa sampai mendengar suara Tuhan (mendapat rhema). Tanpa bergumul seperti itu, Gereja hanya akan tergoda untuk berpikir dan bertindak politis yang sarat kepentingan. Gereja juga harus berdoa sebab dunia politik sarat dengan rupa-rupa ambisi duniawi, hawa nafsu berebut kekuasaan, dan bahkan praktik okultisme.

Setelah pemaparan-pemaparan itu, mereka bertiga memimpij acara doa syafaat. Pokok-pokok doa syafaatnya adalah: (1) Mendoakan supaya Yogya tetap damai, bebas konflik pada masa kampanye, masa pencoblosan, dan masa perhitungan suara, (2) mendoakan supaya pemimpin yang menang pemilukada adalah dari Tuhan supaya Tuhan berotoritas, Tuhan menjamah rakyat Yogya supaya memilih pemimpin yang dari Tuhan, Tuhan gagalkan ambisi dan tipudaya manusia, (3) mendoakan supaya pemimpin yang menang tunduk pada (takut akan) Tuhan: siapa pun pemimpinnya = takut akan Tuhan Yesus dan Gereja-Nya, siapa pun pemimpinnya = bersih dari KKN, siapa pun pemimpinnya = hormati semua agama, tidak menjadikan Yogya sebagai kota berbasis agama tertentu, siapa pun pemimpinnya = berkomitmen total pada Pancasila dengan menghargai perbedaan SARA (Bhinneka Tunggal Ika), siapa pun pemimpinnya = kebijakannya dan produk-produk hukum yang dihasilkan bersama DPRD tetap berbasis Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika; (4) mendoakan supaya Gereja (para pemimpin dan umat) berhikmat sehingga tidak mudah tertipu, terhasut, dan terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan politik dan dituntun oleh Roh Kudus untuk mendukung dan memilih calon pemimpin yang dari Tuhan; (5) mendoakan supaya Gereja tetap bersatu dan missioner, tidak cari selamat sendiri (tidak oportunis, tidak pragmatis), dan tetap berfocus pada misi serta lantang menggemakan suara kenabian di tengah masyarakat

PROYEK PENULISAN BUKU BIOGRAFI SPIRITUAL PENGACARA HOTMA SITOMPUL SH (10 SEPTEMBER 2011)

Jakarta (10 Sept 2011). Haryadi Baskoro diminta oleh Penerbit Kesaint Blanc Jakarta untuk menuliskan buku biografi edukatif bapak Hotma Sitompoel. Visi penulisan buku yang dirumuskan oleh Haryadi adalah: Mewujudkan sebuah buku biografi spesifik yang inspiratif-edukatif-misioner tentang kehidupan rohani (spiritualitas) Hotma Sitompoel yang menyingkap rahasia hubungan dan kebergantungan pribadinya kepada TUHAN, yang diceritakan secara kronologis dengan mengangkat mutiara-mutiara hikmah atau pelajaran dari setiap pengalaman hidupnya.

Tujuan penulisan biografi ini adalah sebagai berikut. Bagi pembaca non-Kristiani, buku ini membagikan kesaksian nyata tentang karya Tuhan dalam kehidupan, mensharingkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan. Sedangkan bagi pembaca Kristiani, buku ini memberikan pelajaran “teologia praktis” dengan mengambil hikmah-hikmah dari kehidupan nyata, memberikan inspirasi tentang bagaimana anak Tuhan dipakai sebagai terang di tengah masyarakat (sebagai agen perubahan di marketplace), serta memberikan inspirasi tentang pelayanan Kristen yang kreatif. Adapun bagi pribadi tokoh yang ditulis (Bp. Hotma Sitompoel, S.H.), buku ini menjadi bahan ajar untuk siap dipakai untuk mengajar (memberi kesaksian, seminar motivasional, dll), menjadi dokumentasi pribadi dan keluarga, menjadi “gift” yang bermakna, dan menjadi warisan/wasiat untuk generasi penerus

Hotma Sitompoel adalah seorang pengacara terkanal Indonesia yang karirnya bertumbuh dari bimbingan seniornya, Dr. Adnan Buyung Narution. Hotma terkanal karena pelayanan LBH Mawar Saron yang dipimpinnya, yang telah melayani ribuan orang secara cuma-cuma.

PENULISAN SEJARAH MENARA DOA KOTA YOGYA (1 SEPTEMBER 2011)

Yogya (1 Sept 2011). Haryadi Baskoro diundang oleh pengurus “Menara Doa Kota” (MDK)Yogya untuk membantu proses penulisan sejarah perkembangan gerakan doa di Yogya, termasuk di dalamnya sejarah perkembangan kegiatan doa di Menara Doa Koa Yogya (MDK) tersebut. Kantor MDK itu sendiri berada di gedung Gloria Graha. Adapun penulisan sejarah tersebut dimaksudkan untuk melengkapi buku sejarah gerakan doa di Indonesia yang akan diterbitkan dalam rangka kegiatan “Global Prayer 2012” di Jakarta.

Dalam penulisan itu Haryadi mencermati kembali data-data mengenai kegiatan-kegiatan MDK yang merupakan bagian dari kegiatan Jaringan Doa Sekota (JDS) Yogya. Ternyata data yang dimiliki oleh salah seorang pengurus, Mbak Wiwid, cukup lengkap. JDS Yogya mulai berdiri sejak 2002, dirintis oleh beberapa hamba Tuhan yang antara lain adalah Pdt. Martha I Tioso, Winfrid Prayogi, Nanik, dan dr Venny Pungus. Pada 2002 dibangunlah Jaringan Doa Oikumene. Selanjutnya, pada 3 Desember 2002 diresmikan MDK di Gloria Graha.

Namun demikian perkembangan berikutnya sangat fluktuatif. Setelah diadakan training fasilitator JDS pada 4-5 Maret 2003, gerakan doa di Yogya bangkit. Pada 1 Juli 2004, MDK Yogya diadakan 24 jam sehari dengan 4 fultimer ”penjaga menara doa”, meskipun belum ada kepengurusan resmi. Tempatnya dipindah, dari Gloria Graha ke jalan Bumijo 24A Yogya. Tetapi, kegiatan selanjutnya penuh pasang surut sampai akhirnya pada November 2008, tempat MDK dikembalikan di Gloria Graha.

MENYAMPAIKAN FIRMAN UNTUK IBADAH ULANGTAHUN GBI WATES (21 AGUSTUS 2011)

Wates (21 Agust 2011). Haryadi Baskoro memberikan uraian Firman untuk ibadah pengucapak syukur ulangtahun Gereja GBI Wates yang diadakan di Hotel King Wates pada Minggu 21 Agustus 2011 sore. Disamping dihadiri oleh seluruh jemaat dan unsur pimpinan gereja setempat, beberapa pendeta dan hamba Tuhan dari gereja-gereja lain juga turut hadir.

Haryadi menyampaikan Firman tentang bagaimana hamba-hamba Tuhan harus terus maju dalam visi dan pelayanan. Dalam hal ulangtahun itu, Haryadi juga menekankan pentingnya gereja dan hamba Tuhan untuk selalu melakukan evaluasi diri. Haryadi mencontohkan bagaimana Tuhan mengevaluasi jemaat Korintus melalui Paulus dan bagaimana Yesus mengkoreksi ketujuh jemaat sebagaimana ditulis dalam kitab Wahyu.

Pada akhir kotbah, Haryadi mengundang pendeta GBI Wates, Bapak Paulus Acay bersama istri bersama dengan para pengurus/pengerja gereja itu untuk maju ke depan. Mereka diminta membentuk lingkaran dan berlutut. Lalu, Haryadi mengundang hamba-hamba Tuhan dari gereja-gereja lain untuk maju ke depan dan mendoakan tim kepemimpinan dari GBI Wates tersebut. Pdt Jakob Santoja dan Ev. Daud Sumarau menaikkan doa-doa untuk mereka.

Acara selanjutnya adalah beberapa persembahan pujian dari sekolah minggu dan dari tim Ev. Daud Sumarau. Sambutan-sambutan pun disampaikan. Acara diakhiri dengan jamuan makan bersama.

MENEGUHKAN PELAYANAN GRACE SOTERIA SURABAYA (6 AGUSTUS 2011)

Surabaya (6 Agust 2011). Haryadi Baskoro bersama Pdt. Tommy Dumgair dan Pdt. Ani Sigit meneguhkan pelayanan Grace Soteria Ministry Surabaya yang dipimpin oleh Bapak Semi dan Ibu Meike. Dalam pertemuan sederhana yang bertepatan dengan hari ulangtahun perkawinan bapak-ibu Semi-Meike itu, Haryadi, Tomy, dan Sigit memberi dukungan penuh untuk pengembangan pelayanan GSM tersebut.

Sebenarnya, pelayanan GSM tersebut sudah dirintis oleh almarhum ayahanda Ibu Meike yaitu, Pdt. Efraim George Solarbesain, S.E. Sekitar tahun 1993-1994, Pdt Efraim membentuk persekutuan doa dengan nama “Grace Soteria” yang berarti anugerah keselamatan. Waktu itu, Pdt Efraim masih menggembalakan di GKPII El Ohim Surabaya. Namun setelah Pdt. Efraim berpindah pelayanan ke Semarang maka sejak tahun 1996 persekutuan Grace Soteria vakum.

Sejak 2010, Bapak-ibu Semi-Meike terpanggil untuk menghidupkan kembali pelayanan yang telah dirintis Pdt. Efarim itu. Maka, pelayanan Grace Soteria Ministry (GSM) dibangun kembali dengan memfokuskan diri pada pelayanan pendidikan Kristen untuk melatih para pemimin dan hamba-hamba Tuhan dalam berbagai komptensi pelayaan.

BUKU “CHRISTIAN CITIZENSHIP” UNTUK STT PATRIA BLITAR (JULI 2011)

Blitar (Juli 2011). Buku karya Haryadi Baskoro berjudul “Christian Citizenship” dicetak ulang untuk dijadikan bahan ajar mata Kuliah Kewarganegawaan di STT Patria Blitar, Jawa Timur. Dengan demikian, meskipun Haryadi belum sempat mengajar di kampus tersebut, buku karyanya telah menjadi berkat. Dosen pengajarnya adalah bapak B. Subambang.

Buku ini adalah pengembangan dari bahan ajar mata kuliah kewarganegaraan yang Haryadi Baskoro  ajarkan di beberapa seminari theologia seperti STII (2006), STT Tawangmangu (sejak 2006-sekarang), dan STT Getsemani. Bahan ajar ini juga sudah disampaikan dalam bentuk seminar-seminar pelatihan untuk para hamba Tuhan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Buku ini memberi pengetahuan dasar yang diperlukan bagi setiap Warga Negara Indonesia untuk memahami masalah-masalah bangsa dan negaranya. Dengan pengatahuan ini maka bertumbuh sikap kritis dan komitmen untuk berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Buku ini mambahas masalah Nasionalisme, Negara, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Pancasila, UUD 1945, Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional, Politik dan Strategi Nasional, dan Pemerintahan.

MEMBINA RETREAT PERUSAHAAN SARI HUSADA (23 JULI 2011)

Kaliurang (23 Juli 2011). Haryadi Baskoro memberikan ceramah dua sesi dalam acara retret para karyawan PT Sari Husada Yogyakarta yang diadakan di Wisma Eden II Kaliutang Yogyakarta. Ceramah itu diarahkan untuk mendorong para karyawan Kristiani bertumbuh menjadi para pemimpin yang unggul dalam karakter kasih.

Pada sesi pertama, Haryadi membahas pengertian kasih Kristen secara umum. Adapun pada sesi kedua, Haryadi membahas penerapan kasih Kristen itu dalam pekerjaan dan kepemimpinan. Dijelaskan tentang bagaimana membangun hubungan antara karyawan dengan pimpinan dan antar-karyawan dalam kasih Kristus. Haryadi menekankan pentingnya pengembangan kompetensi (SDM) yang berbasis keunggulan karakter.

Dalam penyampaiannya, Haryadi memutarkan beberapa film ilustratif untuk mempermudah pemahaman dan diskusi. Dii luar sesi-sesi itu, dalam acara makan, beberapa karyawan asyik berdiskusi dengan Haryadi tentang topik-topik tersebut.

PEMBINAAN HUKUM BELSASAR LEADESHIP TRAINING (16 JULI 2011)

Yogya (16 Juli 2011). Haryadi Baskoro dan Hedy Christiyono Nugroho SH memberikan pembinaan tentang wawasan hukum untuk kaum muda GKII Filipi dalam kegiatan Belsasar Leadership Training (BLT) yang diadakan di Kantor Hukum “3H Advocate & Consultants” pada Sabtu sore (16 Juli 2011). Dalam pembinaan singkat itu, Haryadi membari penjelasan tentang pentingnya para pemimpin Kristen memiliki pengetahuan tentang hukum.

Pada kesempatan itu, Hedy SH memberikan penjelasan mengenai istilah-istilah dasar hukum yang perlu dipahami. Dalam acara itu juga diadakan tanya jawab yang diikuti dengan antusias oleh para peserta BLT.

BLT itu sendiri telah diadakan selama beberapa bulan dibawah asuhan Pdt. Rehabiyam Bilung dan Haryadi Baskoro. Tujuannya adalah mempersiapkan pemimpin-pemimpin Kristen masa depan yang mampu menjadi agen-agen transformasi di segala bidang. Karena itu BLT memberikan pendidikan dan pelatihan yang bersifat multi kompetensi.

MEMBERI PEMBINAAN HUKUM UNTUK MAJELIS GKJ MERGANGSAN YOGYA (25 JUNI 2011)

Yogyakarta (25 Juni 2011). Haryadi Baskoro bersama pengacara Hedy Christiyono Nugroho, S.H. memberikan pemahaman dan pembinaan hukum untuk majelis GKJ Mergangsan Yogyakarta yang khusus menangani masalah kehartaan gereja. Pemahaman dan pembinaan yang diberikan berupa sharing dan konsultasi, yang setelah pertemuan pertama itu akan dilanjutkan dalam pertemuan-pertemuan rutin.

Pada kesempatan itu, Haryadi memberikan wawasan tentang pelayanan yang harus dilakukan dengan mengutamakan integritas dan profesionalitas yang tinggi. Haryadi menjelaskan pentingnya pembinaan hukum yang diberikan untuk setiap pengerja gereja mengingat pada masa sekarang Gereja dituntut untuk memiliki wawasan tersebut sehubungan dengan berbagai persoalan internal dan eksternal yang semakin pelik.

Dalam konsultasi tentang hukum, Hedy memberikan beberapa petunjuk praktis mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi. Seringkali gereja kurang memperhatikan aspek teknis sehingga kebijakan yang diberikan justru menyebabkan kerugian-kerugian yang semestinya bisa dihindari.

TURUT MEMBINA DALAM PROGRAM “TEOLOGIA KAUM AWAM” UNTUK MAJELIS GEREJA DI GKI GONDOMANAN YOGYA (22 JUNI 2011)

Yogyakarta (22 Juni 2011). Haryadi Baskoro memberikan pembinaan berupa pelajaran tentang doa untuk para pelayan/pengerja (majelis) GKI Gondomanan Yogyakarta. Acara yang diadakan pada Rabu 22 Juni 2011 jam 18.30 sampai 21.00 WIB itu membahas topik “Doa: Nafas Hidup Orang Percaya”.

Pelajaran tentang doa itu merupakan salah satu dari 20 pelajaran yang diberikan kepada majelis dalam Program TKA (Teologia Kaum Awam). Keseluruhan pelajaran itu mencakup topik-topik: (1) Penciptaan Alam Semesta, (2) Manusia sebagai Ciptaan Allah yang Sempurna, (3) Kejatuhan Manusia dalam Dosa, (4) Kuasa Dosa Merusak Seluruh Kehidupan Umat Manusia, (5) Yesus Kristus sebagai Pelepas dan Penebus Dosa Manusia I, (6) Yesus Kristus sebagai Pelepas dan Penebus Dosa Manusia II, (7) Kelahiran Baru dan Hidup di dalam Kristus da Pemulihan Hubungan dengan Allah dan Sesama, (8) Apakah Masih Bisa Berdosa Setelah Berada di dalam Kristus? (9) Mengalahkan Keinginan Daging, (10) Allah Tritunggal, (11) Memahami Tiga Karya Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh – Allah sebagai Bapa, (12) Memahami Tiga Karya Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh – Yesus 100% Tuhan dan 100% Manusia, (13) Jalan Selamat Hanya Ada dalam Yesus Kristus, (14) Memahami Tiga Karya Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh – Roh Kudus, (15) Sakramen, (16) Gereja sebagai Tubuh Kristus, (17) Doa: Nafas Hidup Orang Percaya, (18) Manusia Dibenarkan karena Iman atau Perbuatan? (19) Alkitab sebagai Sabda Allah, (20) Apakah yang Dimaksud dengan Zaman Akhir?

MENGAJAR DI P.D. HAMBA TUHAN ”EBEN HAEZER” DI WISMA IMMANUEL YOGYA (22 JUNI 2011)

Yogyakarta (22 Juni 2011). Haryadi Baskoro memberikan ceramah khusus tentang sejarah keistimewaan Yogyakarta dan implikasinya terhadap dinamika Kekristenan dalam pertemuan hamba-hamba Tuhan (pendeta dan pemimpin Kristen) yang diadakan di PD. Eben Haezer. Acara bulanan yang dikelola oleh misionaris asal Korea Selatan, Mr. Choi, kali ini diadakan di wisma Immanuel Yogyakarta. Acara diadakan mulai dari jam 09.00 sampai jam 13.00 WIB.

Sebelum Haryadi memberikan ulasan, terlebih dahulu Drs. Sudomo Sunaryo memaparkan masalah keistimewaan Yogyakarta dari perspektif histori. Sudomo adalah pelaku sejarah dan mantal Asekwilda I Provinsi DIY yang telah lama menjadi nara sumber bagi acara-acara diskusi dan seminar tentang DIY.

Setelah itu, Haryadi membehas masalah sejarah DIY itu dari perspektif teologi pelayanan Kristen. Pembahasan dimulai dari tinjauan antropologi-teologia mengenai kualitas kebudayaan. Menurut Haryadi, ada tiga bagian kebudayaan: (1) kebudayaan yang dilahirkan dan diterangi oleh Firman Tuhan, (2) kebudayaan yang bersifat universal, yang meskipun tidak memuat Firman Tuhan namun sejajar (bukan setara) dengan kebenaran Firman Tuhan, (3) kebudayaan yang bersifat satanis, dilahirkan dan diilhami oleh kuasa gelap, yang berpadu dengan rupa-rupa hawa nafsu kedagingan. Dengan klasifikasi seperti itulah kita bisa memberikan tinjauan dan analisis mengenai kebudayaan-kebudayaan lokal yang ada, termasuk di Yogyakarta.

MENGAJAR DI P.D. ”EBEN HAEZER” DI GEREJA BAPTIS KLATEN JAWA TENGAH (21 JUNI 2011)

Klaten (21 Juni 2011). Haryadi Baskoro memberikan ceramah tentang “Okultisme” untuk para hamba Tuhan dalam pertemuan hamba-hamba Tuhan (pendeta dan pemimpin Kristen) yang diadakan oleh PD. Eben Haezer. Persekutuan ini adalah binaan Mr. Choi, misionaris asal Korea Selatan yang lulusan doctoral UGM Yogya, yang kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di UIN Yogya. Acara diadakan di Gereja Baptis di Klaten pada jam 09.00 sampai jam 13.00 WIB.

Sebelum membahas tentang “okultisme”, terlebih dahulu Haryadi Baskoro memaparkan pemikiran komprehensif tentang kebudayaan. Menurut Haryadi, ada tiga bagian kebudayaan: (1) kebudayaan yang dilahirkan dan diterangi oleh Firman Tuhan, (2) kebudayaan yang bersifat universal, yang meskipun tidak memuat Firman Tuhan namun sejajar (bukan setara) dengan kebenaran Firman Tuhan, (3) kebudayaan yang bersifat satanis, dilahirkan dan diilhami oleh kuasa gelap, yang berpadu dengan rupa-rupa hawa nafsu kedagingan.

Dengan pemikiran seperti itu, kita tidak terjebak untuk mudah menghakimi. Kita tidak terjebak untuk mendikotomikan kebudayaan sebagai “rohani vs duniawi” atau “surgawi vs duniawi” atau “benar vs tidak benar”. Jika pikiran kita dikotomis seperti itu, kita cenderung mendiskreditkan semua kebudayaan. Semua lagu yang bukan lagu rohani dianggap duniawi, jelek, jahat, dan satanis. Lalu, bagaimana dengan misalnya lagu Indonesia Raya, lagu-lagu kebangsaan, dan lagu perdamaian?

Dengan pemahaman komprehensif tentang kebudayaan, kita bisa menghargai kebudayaan-kebudayaan universal yang positif. Bahkan orang Kristen terpacu untuk menciptakan kebudayaan-kebudayaan, yang meskipun tidak secara langsung ‘menyebut’ Yesus namun memuat nilai-nilai kekristenan yang positif.

Menurut Haryadi, dengan pemikiran komprehensif tentang kebudayaan itu pula, kita bisa mengidentifikasi bagian-bagian kebudayaan yang mana yang bersifat satanis. Namun penilaian itu harus dilandaskan pada dasar Alkitab, bukan tanpa dasar yang jelas.

Dalam pelayanan Yesus sendiri, Yesus bersikap komprehensif. Ia masuk dalam kebudayaan manusia. Yesus adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, tinggal dalam kehidupan manusia dan kebudayaanya. Yesus juga memakai beberapa kebudayaan yang baik yang tidak bertentangan dengan kebenaran Firman – misalnya Yesus disunat, Yesus memakai bahasa dan sastra manusia, Yesus memakai teknologi, dan seterusnya. Tetapi di sisi lain, Yesus juga jelas-jelas menentang kebudayaan yang satanis yang bertentangan dengan kebenaran Firman.

Dalam membahas soal ”okultisme” itu, Haryadi memutarkan film berjudul ”Perang Santet” yang membahas tentang praktek okultisme di Jawa. Setelah film berdurasi sejam itu diputar, Haryadi mengajak para hamba Tuhan untuk mendiskusikannya.

MEMBERI PEMBINAAN HUKUM UNTUK GURU-GURU P.A.K. SE KOTA SURABAYA (18 JUNI 2011)

Surabaya(18 Juni 2011). Haryadi Baskoro dan Hedy Christiyono Nugroho SH memberikan ceramah khusus untuk guru-guru Pendidikan Agama Kristen (SD, SMP, SMA, SMK) se-kotaSurabaya. Dalam pertemuan ini para guru dibelaki pemahaman komprehensif tentang Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Transaksi Elektronik. Acara seminar dengan 3 sesi itu dimulai jam 09.00 sampai jam 14.00 WIB dengan pemberian sertifikat oleh tim penceramahnya.

Pada sesi pertama, Haryadi memberikan pemaparan umum mengenai hukum. Haryadi menjelaskan bahwa orang Kristen harus memahami hokum. Contoh yang bagus antara lain adalah rasul Paulus. Saat Paulus dipenjara di Filipi dan tidak mempunyai kesempatan untuk membela diri, Paulus dan Silas cukup berdoa dan memuji Tuhan, dan mujizat gempa yang membebaskan mereka pun terjadilah (Kis 16:25-26). Tetapi, pada kali lain, ketika Paulus akan dihulum secara tidak adil, Paulus membela diri dengan argumentasi hokum, dan Paulus pun dibebaskan (Kis 22:23-29). Hal itu menunjukkan bagaimana seorang pemimpin Kristen harus bisa “berdoa dan bekerka”.

Haryadi Baskoro menandaskan bahwa guru adalah seorang pemimpin. Ia harus bisa memimpin dan menjadi teladan bagi para murid. Bahkan, jika mengacu pada surat Efesus 4:11, karunia “mengajar” dan “menggembala” itu merupakan satu kesatuan (pastor-teacher). Karena itu seorang guru jangan hanya bisa mengajar namun memimpin (menggembalakan) para muridnya. Dalam bahasa hukum, guru harus bisa meng-advokasi anak-anak didik.

MEMBERI KULIAH METODOLOGI PENELITIAN DI STT PELITA BANGSA JAKARTA (10-11 JUNI 2011)

Jakarta Pusat (11 Juni 2011). Haryadi Baskoro memberikan kuliah tentang Metodologi Penelitian Riset Kuantitatif dan Kualitatif untuk para mahasiswa S-2 (program M.Th dan M.Th PAK) STT Pelita Bangsa (STTPB) yang berlokasi di Jalan Pasar Baru Selatan No 25 Jakarta Pusat. Di tengah kesibukan pelayanannya di Yogyakarta dan Surabaya, Haryadi mengalokasikan waktunya untuk mengajar di STT ini sebagai respon positif atas undangan mengajar dari Pdt. Orwel S. Gulo, M.Th selaku pimpinan STT tersebut.

Dalam silabus perkuliahannya, Haryadi memberikan Standar Kompetensi (SK) sebagai berikut: setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa dapat menerapkan prinsip-prinsip riset untuk menulis tesis. SK tersebut mencakup kompetensi-kompetensi dasar dan indikator-indikator sebagai berikut: (1) kompetensi untuk memerinci masalah-masalah penelitian, (a) Merinci peta pemikiran tentang riset, (b) Merinci hasil riset, paradigma riset, ancangan dan rancangan riset; (2) kompetensi untuk Menjelaskan prinsip-prinsip penelitian kuantitatif: (a) Menjelaskan riset eksperimental dan kuasi-eksperimental, (b) Menjelaskan riset non-eksperimental; (3) kompetensi untuk Menjelaskan prinsip-prinsip penelitian kualitatif: (a) Menjelaskan riset ilmu sosia, humaniora, dan sejenisnya, (b) Menjelaskan riset teologi dan filsafat agama; (4) kompetensi untuk Menerapkan prinsip-prinsip penelitian untuk menulis tesis: (a) Menerapkan prinsip riset kuantitatif untuk menulis tesis, (b) Menerapkan prinsip riset kualitatif untuk menulis tesis.

Dalam pengajarannya, Haryadi bukan hanya memberikan materi dan pelatihan terkait riset itu sendiri. Haryadi juga memotivasi para mahasiswa yang sebagian adalah para pemimpin Kristen untuk giat melakukan riset. Ditekankannya bahwa kekristenan masa kini kurang mengembangkan sense of reseacrh. Padahal para misionaris pada masa silam adalah para periset yang aktif dan efektif. Pada masa silam, semangat riset para misionaris telah memberi kontribusi besar bagi pengumpulan bahan-bahan etnografi yang kemudian berkembang menjadi etnologi dan akhirnya menjadi ilmu antropologi budaya (cultural anthropology).

Untuk memberi inspirasi dan motivasi riset, Haryadi memutarkan beberapa film dokumenter yang berbasis riset, seperti film dokumenter produk BBC berjudul ”Heroshima”. Juga diputarkan film jurnalistik investigatif karya John Pilger (2002) yang meriset kehidupan para buruh di Jakarta. Haryadi juga memutarkan film fokumenter karya Goergoe Ottis Jr tentang peristiwa-peristiwa transformasi yang telah terjadi di berbagai kota di dunia (Cali, Almalonga, Hemmeth, dan Kiambu).

Dalam rangka menumbuhkan semangat dan kreativitas riset, Haryadi memacu tumbuhnya sikap kritis para mahasiswa. Mereka dilatih untuk memikirkan masalah-masalah yang terjadi yang tidak terpikirkan oleh orang lain. Dalam konteks kekristenan, sikap kritis sangat diperlukan dengan tetap mengedepankan kasih dan etika Kristiani.

Perkuliahan metodologi riset ini juga diterapkan langsung untuk praktek penulisan tesis. Tugas akhir perkuliahan ini adalah membuat bab 1 sampai bab 3 tesis masing-masing. Dengan demikian para mahasiswa sudah langsung bisa membuat proposal penelitian tesis mereka.

Dalam hal penelitian, Haryadi Baskoro sendiri telah menulis beberapa buku yang berbasis riset. Dua bukunya – ”Catatan Perjalanan Keistimewaan Yogya” dan ”Wasiat HB IX: Yogyakarta Kota Republik” – adalah karya-karya tulisnya yang berbasis riset kesejarahan dan riset kebudayaan. Bukunya berjudul ”77 Renungan Alkitabiah tentang Akhir Jaman” merupakan hasil ”riset teologi sistematik-devosional” dalam bidang eskatologi.

MEMBERI CERAMAH UNTUK PARA PENGERJA GEREJA GKJ MAGUWO   (6 JUNI 2011)

Yogyakarta (6 Juni 2011). Haryadi Baskoro memberikan ceramah khusus kepada para pengerja (pelayan) gereja GKJ Maguwo Yogyakarta dalam sebuah pertemuan khusus di gedung gereja setempat. Kepada para pelayan yang biasa melayani sebagai organis, pemimpin pujian dan pelayan-pelayan lain yang hadir dalam pertemuan itu, Haryadi memberikan pelajaran tentang “Komitmen sebagai Pelayan Tuhan”.

Haryadi memberikan contoh-contoh praktis. Pertama, komitmen pelayanan Petrus yang berbasis pada kasih kepada Kristus. Setelah kejatuhan dalam penyangkalan, Yesus menemui Petrus dan menanyakan kembali komitmen kasihnya kepada-Nya sebelum memberi tugas penggembalaan. Kedua, komitmen pelayanan Musa memberikan pelajaran tentang pentingnya mempersembahkan seluruh potensi diri. Saat Tuhan memberi tugas pelayanan kepadanya, Musa merasa tidak mampu, tidak bisa bicara, dan tidak layak. Perbantahan itu membuat Tuhan murka sebab Tuhan memberikan kompetensi kepada Musa. Ketiga, komitmen pelayanan Paulus memperlihatkan bagaimana seorang hamba Tuhan harus siap berkorban apa pun – bahkan nyawa – demi melayani Tuhan. Dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus, Paulus tak tanggung-tanggung mendaftarkan penderitaan-penderitaan yang dialaminya karena melayani Tuhan. Hal itu menunjukkan supaya siapa pun anak Tuhan yang berkomitmen melayani Tuhan harus siap menderita bagi Sang Kristus.

Dalam ceramahnya, Haryadi memberikan ilustrasi berupa film-film dokumenter yang inspiratif. Dua film berdurasi pendek yang disajikannya adalah tentang para wanita cacat yang tetap berjuang keras untuk bekerja, menghidupi keluarga, dan merawat anak-anak mereka. Meskipun mereka tidak mempunyai kedua tangan, mereka bisa melakukan banyak hal – merawat anak, menyetir, mengetik dengan komputer, memasak, mengupas buah-buahan, membuat roti, menanam tanaman di ladang – dengan kedua kakinya.

Film dokumenter lain yang juga ditayangkan adalah tentang pengadilan yang dialami oleh para wanita hamba Tuhan yang dituduh melakukan kristenisasi. Dalam pengadilan itu terlihat bagaimana kelompok-kelompok tertentu mendesak pengadilan supaya menghukum para pelayan Tuhan ini. Dan, akhirnya ketiga wanita pelayan Tuhan ini pun diganjar hukuman yang semestinya tidak dialaminya. Namun mereka tetap tabah dan setia sebab selama mereka meringkuk dalam penjara pun tetap bisa melayani Tuhan dan bahkan memenangkan jiwa-jiwa.

Setelah pengajaran diberikan, Mbak Ari sebagai koordinator pelayanan setempat memberikan pengarahan tentang penjadwalan pelayanan. Acara selanjutnya adalah makan malam bersama dan keakraban.

PEMBUATAN FILM DOKUMENTER BERSAMA PARA MAHASISWA STT TAWANGMANGU JAWA TENGAH (7 MEI 2011)

Karanganyar, Jawa Tengah (7 Mei 2011). Haryadi Baskoro bersama Hedy Christiyono Nugroho (Tim H2CLS) membina pelatihan dan proyek pembuatan film documenter yang dilakukan oleh para mahasiswa STT Tawangmangu tentang sejarah peninggalan kebudayaan kuno di beberapa situs di daerah Karangayar Jawa Tengah. Dalam hal ini Tim H2CLS berlaku sebagainarasumber bidang hukum dan kebudayaan yang diwawancarai dan sekaligus sebagai konsultan/penasihat hukum atas pembuatan film tersebut.

Pelatihan dan proyek pembuatan film documenter itu merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah sosiologi yang diampu oleh dosen Haryadi Baskoro. Dalam mata kuliah itu, Haryadi membimbing para siswa untuk meneliti beberapa situs budaya (candi Cetho, candi Sukuh, dan kepunden) yang berlokasi di Karanganyar dan sekitarnya dan sekaligus memfilmkannya.

Dalam riset dan pembuatan film itu, para mahasiswa menemukan data-data yang menarik untuk dikaji seperti adanya tempat pemujaan di mana symbol merah putih berada. Menurut juru kunci candi Cetho, symbol merah putih itu diwariskan sejak jaman kerajaan Majapahit. Para pemimpin di negeri ini juga pernah berkunjung dan berziarah di situs-situs tersebut. Sampai hari ini, seperti dijumpai dalam riset tersebut, masih banyak peziarah yang berdoa, bersemadi, atau bermeditasi di situs-situs bersejarah tersebut.

MEMBIMBING RISET LAPANGAN PARA MAHASISWA STT TAWANGMANGU (28-29 APRIL 2011)

Karanganyar (29 April 2011). Pada Kamis 28 Mei 2011, Haryadi membimbing para mahasiswa STT Tawangmangu yang mengikuti mata kuliah sosiologi untuk melakukan penelitian atas situs-situs candi Cetho, candi Sukuh, dan kepunden di kawasan Karanganyar. Pada hari berikutnya, Jumat 29 Mei 2011, hasil riset didiskusikan di kelas sebagai bahan pelajaran.

Dalam penelitian lapangan itu, para mahasiswa mendapatkan beberapa data yang menarik. Mereka melakukan wawancara dengan juru kunci, petugas pariwisata, para wisatawan lokal dan asing, dan bahkan dengan peziarah yang melakukan ritual di tempat-tempat itu. Mereka juga mendokumentasi semua itu dalam bentuk foto-foto dan film audio-visual.

Sejak 2006, Haryadi Baskoro mengampu mata kuliah sosiologi dan mata kuliah pendidikan kewarganegaraan di STT Tawangmangu Karanganyar Jawa Tengah. Setiap kali mengajar mata-mata kuliah itu, Haryadi selalu membimbing para mahasiswa untuk melakukan study tour atau penelitian lapangan. Baginya itu merupakan pengalaman unik tersendiri yang memperkaya strategi mengajar.

CERAMAH TENTANG SEJARAH KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA DI PERSEKUTUAN HAMBA-HAMBA TUHAN GARIS DEPAN (GARDA) DI GBI STOCKWELL (4 APRIL 2011)

Yogyakarta (4 April 2011). Haryadi Baskoro memberikan ceramah khusus tentang sejarah keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta di depan para pendeta dan hamba Tuhan se Yogyakarta dalam pertemuan Persekutuan Hamba Tuhan Garis Depan (GARDA) yang diadakan di GBI Stockwell. Dalam kesempatan itu Haryadi Baskoro membagikan secara gratis 75 buah buku yang ditulisnya mengenai sejarah Yogyakarta berjudul ”Catatan Perjalanan Keistimewaan Yogya” (penerbit Pustaka Pelajar, 2010).

Dalam acara sharing itu, tampil pula Drs. Sudomo Sunaryo yang adalah mantan Asekwilda I Provinsi DIY. Sudomo membahas kesejarahan DIY dari aspek pemerintahan daerah. Ia membagikan pengalaman kerjanya untuk memberikan pemahaman kepada para hamba Tuhan mengenai seluk belum pemerintahan DIY.

Dengan dipandu oleh host acara itu, Pdt. Philipus Setiyanto, Th.M, Haryadi Baskoro membahas masalah keistimewaan DIY dalam hubungannya dengan perkembangan kekristenan. Haryadi mengkaji sisi positif dan negatif dari eksistensi keistimewaan itu terhadap dinamika kekristenan. Pada akhir acara itu, para hamba Tuhan berdoa syafaat bersama untuk Yogyakarta. Semua bersatu dalam doa bersama.

Sebelum membagikan 75 bukunya itu, Haryadi telah membagikan bukunya tersebut kepada beberapa hamba Tuhan lainnya. Totalnya, Haryadi telah membagikan sekitar 150 bukunya itu kepada para hamba Tuhan. Tujuannya adalah memberikan informasi, wawasan, dan pemetaan sosiologis-historis tentang Yogyakarta.

MEMBERIKAN PELATIHAN JURNALISTIK UNTUK PARA DOSEN STAK TERPADU-PESAT SALATIGA (14-18 MARET 2011)

Salatiga, Jawa Tengah (18 Maret 2011). Para penguji karya ilmiah dari STAK Terpadu sebanyak 16 orang terdiri dari dosen, mentor, dan fungsionaris STAK Terpadu yaitu Ketua, Puket I, Puket II, dan Puket III belajar menulis ilmiah selama lima hari di ruang sidang kampus Kanaan desa Lopait, kecamatan Tuntang, Salatiga. Kegiatan ini dipandu oleh Haryadi Baskoro, seorang wartawan dan budayawan dari Yogyakarta yang produktif menulis buku di media lokal dan nasional.

Semua peserta adalah para penguji dan pembimbing STAK terpadu dalam membuat karya ilmiah seperti tugas akhir.

Banyaknya mahasiswa tingkat akhir yang menulis karya ilmiah memaksa STAK Terpadu menyediakan para pembimbing dan penguji karya ilmiah. Sehingga, dosen, mentor STAK Terpadu harus ikut belajar menulis karya ilmiah. Belajar menulis karya ilmiah merupakan kegiatan yang direncanakan oleh Puket I, Iskak Sugianto. Menurut Iskak, para penguji dan pembimbing karya ilmiah perlu diperlengkapi sehingga bisa membimbing dan memberi penilaian secara maksimal. Selain kebutuhan memperlengkapi pembimbing dan penguji karya ilmiah, kegiatan ini juga bertujuan memacup para dosen untuk membuat karya ilmiah yang akan dituangkan dalam jurnak STAK Terpadu yang akan segera diterbitkan “Kendi (Jurnal STAK-red masih sangat diperlukan tulisan-tulisan yang bermutu,” kata Samuel, salah satu dewan redaksi Kendi. Dua hal itu mendorong STAK Terpadu menyelenggarakan kegiatan ini dan diwajibkan diikuti seluruh dosen STAK Terpadu.

Haryadi mengatakan, “Belajar menulis itu sama dengan belajar bicara. Jadi bukan teorinya tetapi harus mulai belajar menulis. Oleh sebab itu selama belajar, yang terpenting adalah belajar menulis. Salah satu latihan awal adalah menulis berita yang dialami selama belajar dengan memakai kaidah-kaidah menulis berita dan paragraph yang sudah diajarkan.”

Kegiatan ini merupakan rangkaian in house training selama setahun di STAK Terpadu. Peserta dalam kegiatan ini terdiri dari empat orang fungsionaris STAK Terpadu, empat orang mentor, delapan orang dosen. MAsih ada beberapa dosen yang tidak dapat mengikuti karena rumahnya jauh dari lokasi. (oleh: Petrus Joko Prasetyo, S.Th)

MENGAJAR KEWARGENEGARAAN DI STAK TERPADU-PESAT, SALATIGA, JAWA TENGAH (8-11 FEBRUARI 2011)

Haryadi Baskoro mengajar block teaching mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan di STAK Terpadu-Pesat Salatiga dari tanggal 8 sampai 11 Februari 2011. Mata kuliah yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan para mahasiswa, yaitu dalam rangka memperisiapkan diri untuk kelak melayani sebagai agen-agen transformasi masyarakat pedesaan. Untuk itu, setiap topik yang dipelajari senantiasa dikaitkan dengan masalah-masalah pelayanan yang aktual.

Mengenai materi ajar, Haryadi memberikan buku yang sudah ditulisnya sendiri mengenai pelajaran Kewarganegaraan untuk para mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi. Judulnya adalah “Christian Citizenship: Pengetahuan Kewarganegaraan untuk Masyarakat Kristen Indonesia”. Dalam buku itu antara lain dibahas tentang nasionalisme, Negara, demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM), Pancasila, UUD 1945 dan amandemennya, Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional (Tannas), politik dan strategi politik, dan pemerintahan.

Disamping berceramah, memutar slide show dan film, Haryadi membawa para mahasiswa untuk banyak berdiskusi. Pada dua sesi terakhir, para mahasiswa diwajibkan mempresentasikan proposal kegiatan pelayanan di desa yang memakai momen hari-hari peringatan nasional. Dengan pembelajaran ini, mereka dilatih untuk peka dan taktis dalam memakai event-event kebangsaan untuk menanamkan moral kepada masyarakat.

MEMBAGI VISI KESATUAN PADA PERTEMUAN PENDOA DAN GEMBALA DI GKPB MASA DEPAN CERAH, MULTILAN, JAWA TENGAH (8 FEBRUARI 2011)

Pada 8 Februari 2011, Haryadi membagikan visi tentang doa dan kesatuan Gereja dalam sebuah pertemuan oikumene para pandoa dan gembala di kota Muntilan, Jawa Tengah. Dalam kesempatan itu, Haryadi berceramah bersama dengan Pdt. Philipus Setianto, Th.M (gereja JKI Yogya) dan Pdt. Gerry (gereja Bethany Fresh Anointing Yogya). Haryadi mendapat giliran pertama untuk berbicara, karena harus segera melanjutkan pelayanan ke Salatiga.

Dalam ceramahnya, Haryadi membahas masalah doa dan bencana alam. Ia mengatakan bahwa kerusakan dan berbagai bencana sekarang ini merupakan bukti bagaimana terkutuknya bumi setelah kejatuhan Adam dan Hawa. Menjelang akhir jaman, kerusakan itu bertambah parah – gempa bumi banyak terjadi, dan lain-lain. Pemulihan menyeluruh atas bumi baru akan terjadi pada era Kerajaan Seribu Tahun pasca kedatangan Kristus kedua kali (KKKK).

Meskipun demikian, secara terbatas – karena iblis masih diijinkan berkuasa di bumi (1 Yoh 5:19) – Gereja yang dipenuhi Roh Kudus diberi kuasa atas alam. Doa, iman, dan peperangan rohani yang dilancarkan oleh Gereja – pada batas tertentu – bisa mendatangkan mujizat perbaikan alam. Inilah yang dialami oleh kota Almalonga di Guatemala yang telah terjadi peristiwa ”transformasi” mengalami mujizat pemulihan alam. Tanah Almalonga yang semula tandus menjadi sangat subur sehingga produksi pertanian naik 1.000 persen. Para peneliti dari AS menjadi heran karena keajaiban itu.

Fakta Almalonga itu dikaitkan dengan keadaan di Muntilan yang beberapa kawasannya hancur karena diterjang lahar dingin yang dimuntahkan oleh Gunung Merapi. Menurut Haryadi, bencana alam sering terjadi karena iblis disembah di daerah yang didera bencana tersebut. Karena itu, Gereja harus bersatu dan berdoa, mengambil otoritas iman untuk memberkati tanah dan bumi tempat mereka berdomisili.

Saat membahas masalah kesatuan Gereja, Haryadi berbicara dengan terbata-bata karena merasa sedih melihat perpecahan yang terjadi di antara para hamba Tuhan. Haryadi menceritakan bagaimana transformasi di Kota Cali, Colombia, terjadi setelah para pendeta di sana bersatu dan saling mengampuni.

Setelah menjawab beberapa pertanyaan peserta pertemuan, Haryadi segera mohon pamit untuk pergi ke Salatiga. Dalam perjalanan menuju Salatiga – melalui Magelang, Secang, Ambarawa – kembali  Haryadi mengalami pengalaman supranatural yang aneh. Saat melintas daerah Secang (pertigaan ke arah Temanggung), Haryadi merasakan kesedihan yang tak beralasan. Sambil menyetir mobilnya, tanpa disadari air matanya bercucuran, tanpa sebab.

Ternyata, pada saat itu juga, tanpa diketahui oleh Haryadi, di daerah Temanggung sedang terjadi pembakaran gedung-gedung gereja dan penganiayaan atas hamba-hamba Tuhan. Haryadi batu mengetahui informasi itu setelah sampai di Ambarawa, yaitu setelah menerima berita tentang hal tersebut melalui SMS.

MEMBERI PENGAJARAN DOA KEPADA TIM PENDOA GKI GONDOMANAN YOGYAKARTA (7 FEBRUARI 2011)

Majelis Jemaat GKI Gondomanan Yogya mengundang Haryadi Baskoro untuk memberi ceramah tentang ”Kuasa di Balik Doa” kepada tim pendoa gereja tersebut pada Senin sore, 7 Februari 2011. Acara khusus yang diadakan dati jam 18.30 sampai 20.00 WIB ini bertujuan untuk melatih tim doa agar (1) mengerti dan memahami kuasa doa orang Kristen, (2) mempraktekkan doa untuk mendukung pelayanan gereja setempat, (3) mengerti prinsip-prinsip Alkitabiah tentang berdoa, (4) memahami praktek doa yang benar.

Dalam kesempatan itu, Haryadi menjelaskan prinsip-prinsip doa secara umum dan praktek doa secara spesifik. Teknik-teknik doa yang diajarkannya mencakup praktek menaikkan doa permohonan, doa syafaat, doa dengan melancarkan perkataan iman, dan doa peperangan rohani (doa mengusir setan). Dalam pertemuan itu, Haryadi bukan hanya berkotbah namun juga mengajar para pendoa untuk mempraktekkan teknik-teknik doa tersebut secara langsung.

Acara ini sendiri diadakan sebagai respon atas ceramah Haryadi sebelumnya, yaitu beberapa waktu silam. Saat itu Haryadi menekankan pentingnya membangun spiritualitas pelayanan yang salah satu indikatornya adalah adanya gerakan doa. Menurut ketua Majelis Jemaat Bidang III, Pnt. Bambang Prijambada, jemaat GKI merindukan tumbuhnya gerakan doa setelah mendengar ceramah Haryadi beberapa waktu lalu. Sedangkan Pnt. Riduan Pintor Marulam Sihombing menegaskan bahwa acara kali ini merupakan awal bagi kegiatan tim doa GKI Gondomanan.

MEMBAGI “VISI YOGYA” DI PERTEMUAN DOA PARA PENDOA-GEMBALA DI GEREJA BETHANY FRESH ANOINTING (17 JANUARI 2011)

Haryadi Baskoro bersama Ev. Debora Siane dari Jaringan Doa Regional Surabaya dan Pdt. Mid dari Pelayanan Lumbung Yusuf di Klaten membagi visi pada pertemuan doa syafaat yang dihadiri oleh para pendoa dan beberapa gembala sidang. Acara ini diadakan di gedung Gereja Bethany Fresh Anointing di kawasan Klitren Yogyakarta. Dalam acara itu Haryadi menjelaskan tentang perkembangan gerakan doa syafaat di Yogyakarta dan membagikan buku karyanya berjudul “Catatan Perjalanan Keistimewaan Yogya” untuk para pendeta yang hadir.

Dalam sharing-nya, Haryadi mengingatkan bahwa gerakan doa syafaat di Yogya selama ini sudah memberikan hasil. Hal ini meneguhkan apa yang sebelumnya disampaikan oleh Ev. Siane. Tetapi kemudian Haryadi mengingatkan bahwa setelah roh-roh jahat diusir dari seseorang dan diri orang itu kosong, maka iblis itu akan kembali lagi. Bahkan roh jahat itu akan mengajak tujuh roh lain, sehingga ketika orang itu dikuasai iblis kembali, keadaannya bisa lebih buruk (Mat 12:43-45). Hal yang sama bisa terjadi atas suatu kota. Ketika roh-roh jahat diperangi dan diusir keluar dari kota, mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan masuk kembali dan keadaan di kota itu bisa lebih parah. Oleh karena itu banyak kota yang semula sudah mengalami ”transformasi”, kini keadaannya malah bertambah buruk. Artinya, kemenangan spiritual harus terus dijaga dan ditingkatkan.

Dalam pertemuan yang dihadiri 100 lebih pendoa dan gembala itu, Ev. Siane membagikan visi untuk menyeimbangkan antara doa dan kerja. Sementara itu Pdt. Mid membagi visi tentang pelayanan sosial yang harus dikerjakan Gereja supaya menjadi berkat bagi masyarakat secara nyata.

MENGAJAR ISU-ISU PELAYANAN PROGRAM S-1 DAN S-2 STT GETSEMANI YOGYA (11-14 JANUARI 2011)

Haryadi Baskoro mengajar block teaching tentang isu-isu pelayanan kontemporer untuk para mahasiswa S-1 dan S-2 STT Getsemani Yogyakarta. Dalam pengajaran itu Haryadi membagi dua buku yang selama ini sudah diseminarkannya di berbagai tempat, terkait dengan topik tersebut. Pertama, buku “Lemahnya Otokritik, Rendahnya Kepekaan”. Kedua, buku “Otokritik Kristen Karismatik”. Sebelumnya, dalam rangka Natal, Haryadi menyalurkan bantuan alat musik untuk pelayanan di STT Getsemani, diterima langsung oleh ketuanya, Bapak. Dr. Librech Anthony.

Kedua bahan ajar yang terangkum dalam kedua buku itu dibahas tuntaas selama block teaching lima hari tersebut. Dari buku yang pertama, Haryadi membahas isu-isu pelayanan Kristen masa kini yang dinilainya kurang dievaluasi sehingga banyak kesalahan yang tidak terkoreksi. Dalam kaitannya dengan karya nyata Gereja di tengah masyarakat, banyak pelayanan Kristen yang belum mendarat sehingga dampak keluarnya belum terasa.

Setelah bahan ajar pertama selesai dibahas, Haryadi membahas khusus isu-isu pelayanan yang terkait dengan aliran Kristen Karismatik. Aliran ini dipilih untuk dibahas karena merupakan aliran sampingan (peripheral stream) yang kini menyaingi kekristenan arus utama (main stream). Aliran Kristen Karismatik itu sendiri mempunyai plus-minus dan ekses-ekses yang harus dikritisi.

Dalam block teaching itu, Haryadi mengajak para mahasiswa yang berjumlah 30 orang itu untuk berdiskusi. Para mahasiswa dibagi ke dalam tiga kelompok aliran gereja: Protestan-Injili, Pentakosta, dan Karismatik. Pembagian ini sesuai dengan keadaan sebenarnya para mahasiswa. Dalam pembagian kelompok ini diskusi tentang isu-isu pelayanan dilakukan sehingga suasana menjadi seru.

MELAYANI PENEGUHAN PERTUNANGAN DAN PELAYANAN ”HEDY-ESTER MINISTRY” DI GEREJA PENTAKOSTA (16 DESEMBER 2010)

Haryadi Baskoro bersama Livy Laurens melayani peneguhan pertunangan dan pelayanan Hedy Christiyono Nugroho dan Ester Ayuditya di gereja Pentakosta di Yogyakarta. Dalam acara yang dipadukan dengan ibadah-perayaan Natal itu, Haryadi menyampaikan firman Tuhan. Sedangkan peneguhan/pemberkatan pertunangan dilayani oleh Pdt. Sirait.

Dalam Firman yang disampaikan, Haryadi menandaskan alasan visi mengapa acara pertunangan itu diadakan bersamaan dengan ibadah Natal. Peringatan Natal senantiasa mengingatkan kita akan bagaimana Tuhan memakai pasangan kudus Yusuf-Maria sebagai sarana bagi kelahiran Sang Mesias. Demikianlah orang Kristen masa kini semestinya meneladani Yusuf-Maria, untuk mempersembahkan hubungan suci mereka bagi pelayanan untuk ”menjadi sarana kelahiran Sang Kristus di dunia”

Setelah pemberkatan pertunangan oleh Pdt. Sirait, Hedy dan Ester didoakan bersama-sama oleh hamba-hamba Tuhan. Ini merupakan momen khusus untuk memberkati pelayanan mereka berdua yang dideklarasikan sejak haris pertungan mereka itu. Hedy dan Ester sendiri memiliki visi untuk tidak sekedar menjalani maca pacaran, pertunagnan, dan pernikahan seperti biasa-biasa saja. Mereka berkomitmen untuk membangun keluarha bagi Kristus. Bagi mereka keluarga merupakan satu unit pelayanan.

Dalam kesempatan itu, Haryadi membagikan buku karyanya bersama Livy Laurens yang berjudul ”Dipersatukan untuk Melayani-Nya”. Buku ini membahas tentang konsep pertunangan Kristen yang visioner dan begaimana Gereja Tuhan sekarag dipertunangkan dengan Kristus, Sang Mempelai yang akan menjemput Gereja untuk membawanya masuk dalam Pernikahan Anak Domba di akhir jaman!

MEMBIMBING STUDY TOUR MAHASISWA STT TAWANGMANGU (27 NOVEMBER 2010)

Sejak 2006, Haryadi mengajar mata kuliah Sosiologi dan Kewarganegaraan di STT Tawangmangu. Sejak itu pula, setiap kali pelaksanaan mata kuliah Kewarganegaraan, Haryadi membimbing para mahasiswa untuk study tour. Pada 27 November 2010, Haryadi bersama Purek Bidang Akademik STT Tawangmangu, Bapak Anto, membimbing para mahasiswa untuk study tour ke Yogyakarta.

Dalam study tour ke kota Yogyakarta kali ini, Haryadi mengarahkan para mahasiswa untuk mengikuti seminar Islamologi yang diadakan di Universitas Duta Wacana. Pembicara dalam seminar itu adalah Dr. Salam Falaki yang telah banyak berpengalaman melayani umat Muslim di Timur Tengah. Seminar dari ham 8.30 WIB sampai menjelang sore itu memberikan banyak wawasan tentang Islamologi ditinjau dari teologi dan misiologi Kristen.

Setelah mengikuti seminar, para mahasiswa berkunjung ke rumah Haryadi di Baciro, Yogya untuk mandi. Dari situ rombongan menuju Malioboro. Rombongan sempat berfoto ria di monumen Tugu Yogyakarta. Kemudian, bermain ke Malioboro sampai malam. Setelah itu makan bersama di daerah Seturan dan akhirnya para mahasiswa pulang ke kampus mereka di Tawangmangu.

MEMBERI CERAMAH DAN DISKUSI UNTUK PARA DOSEN STT PESAT SALATIGA (25 NOVEMBER 2010)

Pada 25 November 2010 sore sampai malam, Haryadi Baskoro memberikan sharing evaluasi tentang isu-isu pelayanan Kristen yang berkembang selama ini. Dalam sharing itu Haryadi membagikan bukunya berjudul ”Lemahnya Otokritik, Rendahnya Kepekaan”.Pembicara mengajak semua dosen dan karyawan STT Pesat yang mengikuti  acara itu untuk mengevaluasi secara kritis pelayanan-pelayanan yang ada selama ini, termasuk yang sudah mereka lakukan sejauh ini.

Dalam seminar itu Haryadi manandaskan bahwa sejak Gereja didirikan Tuhan sendiri di muka bumi, perkembanganya senantiasa dikoreksi. Kemapanan dan pertumbuhan yang pesat acapkali menyebabkan Gereja lupa diri, tidak mawas diri. Jemaat di Korintus di satu sisi bertumbuh pesat, memiliki banyak pendidik (1 Kor 4:15) dan bahkan memiliki karunia-karunia Roh Kudus (1 Kor 12, 14). Namun di sisi lain memiliki banyak kekurangan dan dosa. Dalam hal ini, Tuhan mengoreksi mereka melalui hamba-Nya, Paulus. Sang rasul pun mengkritik tanpa basa-basi, menyebut mereka sebagai manusia duniawi yang belum dewasa di dalam Kristus (1 Kor 3:1). Terhadap ketujuh jemaat, Tuhan juga memberi evaluasi kritis melalui Yohanes, menunjukkan pentingnya kritik dan otokritik.Jemaat Efesus dikritik karena menyimpang dari kasih mula-mula Jemaat Smirna diperingatkan supaya jangan takut dan tetap setia di tengah kesengsaraan. Jemaat Pergamus dikritik karena berpegang pada ajaran palsu.Jemaat Tiatira dikritik karena telah melakukan perbuatan zina.Jemaat Sardis dikritik karena hidup rohaninya sekarat. Jemaat Filadelfia diperingatkan supaya terus menjalankan Firman. Jemaat Laodikia dikritik karena dibutakan oleh harta benda

Dalam seminar pendek itu Haryadi juga mengajar pada pengajar tersebut untuk berdiskusi. Dalam diskusi itu Haryadi dibandu pula oleh rekan pelayanan di H2CLS, Hedy Christiyono SH.

CERAMAH TENTANG PELAYANAN ROHANI PADA SARASEHAN HUT GKI GONDOMANAN YOGYAKARTA (19 NOVEMBER 2010)

Salah satu kegiatan yang diadakan dalam rangka ulangtahun GKI Gondomanan Yogyakarta adalah seminar tentang spiritualitas pelayanan yang dilayani oleh Haryadi Baskoro sebagai pembicara. Sebelum memberikan ceramah, Haryadi bersama Sudomo Sunaryo membagikan buku tentang Yogyakarta berjudul ”Catatan Perjalanan Keistimewaan Yogya”.

Dalam pembahasan mengenai spiritualitas pelayanan itu Haryadi menekankan bahwa pelayanan Kristen, apa pun jenisnya, adalah pekerjaan Tuhan. Dengan demikian, yang membedakannya dengan kegiatan lainnya, adalah kadar spiritualitasnya. Tujuan pelayanan adalah untuk Tuhan. Dan, seharusnya, pelayanan adalah ”dari Tuhan, oleh Tuhan, dan untuk Tuhan”. Dari Tuhan berarti seorang pelayan harus mendapat visi pelayanan dari Tuhan. Oleh Tuhan berarti pelayanan dilakukan dengan kekuatan Roh Kudus, bukan kekuatan manusia.

Dari dasar itu maka doa sangat penting menjadi landasan bagi setiap jenis pelayanan Kristen. Doa bukan hanya memohon dan bersyafaat. Doa juga termasuk bersaat teduh dalam rangka membangun hubungan intim dengan Tuhan. Dalam interaksi inilah seorang pelayan Tuhan akan diberi petunjuk-petunjuk oleh Roh Kudus. Doa juga mencakup peperangan rohani, yaitu berdoa untuk mengusir setan-setan. Untuk ini Haryadi menceritakan pengalamannnya melayani di beberapa gereja lokal di Jawa yang di dalam gedung gerejanya ada setan. Barangkali ini aneh, tapi nyata. Hal itu membuktikan banyaknya gereja yang kurang aktif berdoa.

MEMBAGI VISI DOA DAN MISI DALAM PERTEMUAN PARA PENDETA GEREJA-GEREJA KEMAH INJILI (GKII) YOGYA (15 N0VEMBER 2010)

Haryadi mendapat kehormatan khusus untuk membagikan visi doa dan pelayanan tentang Yogyakarta dalam pertemuan khusus para pendeta Gereja-Gereja Kemah Injil (GKII) se Yogyakarta. Pertemuan itu diadakan di rumah Pdt. Rehabiyam Bilung, M.Th di kawasan Badran Yogyakarta. Dalam pertemuan itu Haryadu juga membagikan buku karyanya berjudul ”Catatan Perjalanan Keistimewaan Yogya” kepada para pendeta tersebut.

Dalam pertemuan khusus para pemimpin itu Haryadi menjelaskan pemetaan rohani yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pendeta dan pemimpin yang terbeban untuk melayani kotanya. Dalam hal pemetaan itu Haryadi memberi contoh tentang pemetaan spiritual kota Yogyakarta. Haryadi juga memberi contoh pemetaan untuk kota-kota lain yang telah (pernah) mengalami “transformasi”.

Sharing Haryadi mendapat tanggapan positif dan seketika itu juga mendorong gerakan doa di antara para pendeta yang hadir. Pdt. Rehabiyam Bilung, M.Th kemudian mengajak semua untuk bersujud dan berdoa bagi kota Yogyakarta. Api doa melanda dan doa-doa pun dinaikkan dengan iman. Pertemuan itu mendorong beberapa pendeta yang hadir untuk mengadakan kegiatan serupa di daerah-daerah lain.

MELAYANI RETRET GURU “CANDLE TREE SCHOOL” JAKARTA DI PUNCAK, JAWA BARAT (27-29 OKTOBER 2010)

Haryadi Baskoro (HBCE Ministry) bersama Pdt. Filipus Setianto (JKI Injil Kerajaan, Yogyakarta), Dr. Mikha (Purek I STT Tiranus, Bandung), dan Pdt. Gunawan Suteja (Jakarta) bersama-sama melayani retret para guru TK sampai SMU ”Candle Tree School” Bumi Serpong Damai (BSD) Jakarta. Retret yang diikuri 80 guru sekolah tersebut diselenggarakan di Puncak, Jawa Barat pada 27-29 Oktober 2010.

Retret tersebut mengambil tema ”Hidup Berkemenangan dalam Kristus”. Haryadi memberikan pembahasan tentang bagaimana orang Kristen berkemenangan dalam kesucian hidup dan berkemenangan saat menghadapi tipu daya roh-roh jahat. Dalam dua materi itu, Haryadi memberikan data-data mutakhir mengenai masalah-masalah yang dihadapi oleh guru dan murid di sekolah.

Retret tiga hari itu juga diikuti oleh pimpinan yayasan yang menaungi sekolah-sekolah Candle Tree tersebut, yaitu bapak Handy Tan. Sedangkan keseluruhan acara dikelola oleh beberapa guru sekolah itu yang ditunjuk untuk menjadi panitia retret. Disamping mengikuti materi-materi yang disampaikan para nara sumber, para guru peserta retret juga memuji Tuhan dan mengikuti berbagai acara menarik seperti permainan dan pelatihan ketrampilan teknis-kreativitas.

SEMINAR BUKU “SATU WANITA TIGA PANGGILAN” DI SURABAYA (9 OKTOBER 2010)

Haryadi Baskoro memberikan seminar kecil bersama ibu Meike Feodora Fourita Solarbesain berdasar buku kesaksian-pengajaran tentang ibu Meike. Buku yang berjudul ”Satu Wanita, Tiga Panggilan” itu merupakan buku karya Haryadi Baskoro dan Livy Laurens.

Buku tersebut memuat beberapa kesaksian ibu Meika yang diklasifikasi dalam tiga bagian besar. Pertama, kesaksian-kesaksian tentang panggilan hidup berkeluarga. Kedua, kesaksian-kesaksian tentang panggilan bekerja. Ketiga, kesaksian-kesaksian tentang panggilan dalam melayani Tuhan. Semua kesaksian tersebut adalah kesaksian dari ibu Meike yang kemudian dikupas sedemikian rupa sehingga diperoleh pelajaran-pelajaran rohani Alkitabiah.

Dalam seminar yang diadakan di gedung gereja GPS ”Faith” Surabaya itu, karena keterbatasan waktu, hanya dibahas beberapa bagian saja dari buku yang bersangkutan. Peserta seminar adalah beberapa guru dan kaum wanita Kristen. Pembahasan difokuskan pada kesaksian dan pengajaran mengenai bagaimana wanita Kristen hidup berkemenangan dalam peperangan spiritual melawan roh-roh jahat.

PELATIHAN MENULIS RENUNGAN HARIAN DI GBT ALFA OMEGA SEMARANG (26 AGUSTUS 2010)

Haryadi Baskoro bersama trainer Claudia Oki Hermawati memberikan pelatihan menulis renungan harian untuk para hamba Tuhan GBT Alfa Omega Semarang pada 26 Agustus 2010. Pelatihan yang diadakan dari pukul 09.00 sampai 13.00 WIB itu diikuti oleh 40 peserta dalam rangka memajukan pelayanan Renungan “Suara Alfa Omega” yang sudah berkembang di gereja tersebut.

Dalam pelatihan intensif itu, kedua trainer jurnalistik Kristen ini membagikan buku “Tips Praktis Menulis Renungan Harian” karangan mereka. Materi pelatihan juga diambil dari buku manual tersebut yaitu (1) multi kompetensi yang diperlukan oleh penulis renungan harian, (2) ketrampilan dasar mengarang yang harus dimiliki, (3) ketrampilan menuliskan kotbah ekspositori sebagai dasar kompetensi menulis renungan harian, (4) ketrampilan menjabarkan visi gereja sebagai dasar kompetensi menulis renungan harian, (5) ketrampilan menulis feature sebagai dasar kompetensi menulis renungan harian, (6) ketrampilan menulis opini sebagai dasar kompetensi menulis renungan harian. Profile buku ini bisa dilihat di bagian ABOUT HBCE.

Pelatihan itu diberikan dalam rangka mempertajam kompetensi menulis para penulis renungan harian “Suara Alfa Omega” gereja tersebut. Sebelum pelatihan ini, para peserta telah mengirimkan karya-karya mereka kepada tim trainer untuk dievaluasi. Pelatihan ini memberikan pembekalan yang bersifat teoritis dan praktis.

Sebagai kelanjutannya, GBT Alfa Omega akan mengundang lagi tim trainer untuk memberikan pelatihan menulis bagi guru-guru Sekolah Minggu mereka. Haryadi bersama Oki sendiri mempunyai visi untuk mengajarkan jurnalistik anak Kristen (lihat www.earlyjournalism.wordpress.com).

IBADAH RAYA STAK TERPADU – PESAT SALATIGA DALAM RANGKA HARI KEMERDEKAAN RI (16 AGUSTUS 2010)

Dalam rangka menyambut Peringatan Hari Kemerdekaan RI, Haryadi Baskoro menyampaikan renungan khusus pada Ibadah Raya di STAK Terpadu – Pesat, Salatiga, 16 Agustus 2010, pukul 08.30-10.00 WIB. Ibadah tersebut diikuti oleh segenap mahasiswa dan civitas akacemika kampus tersebut. Sore sampai malam harinya diadakan doa syafaat semalaman untuk bangsa dan Negara Indonesia.

Renungan Haryadi berjudul “Negeriku di Hatiku” membawa kepada refleksi tentang sejauh mana para pemimpin Kristen terpanggil untuk melayani bangsa ini. Refleksi diri itu bertolak dari evaluasi kritis atas kepemimpinan Raja Salomo yang pada awalnya sangat visioner dan memiliki hati untuk bangsanya. Dalam perkembangannya, hatinya untuk bangsanya memudar karena hidupnya berpaut pada hawa nafsu daging dan duniawi.

Belajar dari Salomo, Haryadi menandaskan bahwa para pemimpin Kristen yang punya hati untuk bangsa ini semestinya: (1) menghayati kasih Tuhan atas bangsa ini, (2) orientasi hidupnya jangan egosentrik, hedonis, dan materialistik, (3) orientasi hidupnya adalah berkarya nyata dalam melayani bangsa ini, (4) berdoa bagi bangsa dan Negara Indonesia, (5) mendorong umat untuk berdoa bagi pemulihan Indonesia.

Sejak sering diundang melayani di STAK Terpadu-Pesat Salatiga ini, Haryadi semakin terpanggil untuk memperlengkapi SDM para pemimpin Kristen, khususnya dengan multi kompetensi yang dibutuhkan di dunia pelayanan. Pelayanan Haryadi ini ternyata memiliki banyak kesamaan dengan visi STAK Terpadu yang berkonsentrasi menerjunkan para hamba Tuhan untuk menjadi duta-duta transformasi di tengah masyarakat.

MEMBERI KKR PADA OSPEK STT GETSEMANI (3 AGUSTUS 2010)

Pada 3 Agustus 2010, Haryadi Baskoro memberi renungan pada sesi KKR Ospek STT Getsemani yang diadakan di wisma PU Kaliurang, Yogyakarta. Pada kesempatan itu Haryadi mengupas Firman dari Yohanes 21:15-17 dan memberi judul renungannya: T&T: Teachable and Touchable.

Pada ketiga ayat itu dilaporkan bagaimana Petrus mendapat kepercayaan besar dari Yesus untuk “menggembalakan domba-domba-Nya”. Kepercayaan itu diberikan dengan penekanan serius karena diulang sampai tiga kali. Padahal, track record Petrus buruk, bahkan pernah menyangkali Yesus sampai tiga kali.

Mengapa Petrus begitu dipercaya? Dari tiga ayat itu dapat dilihat point plus Petrus. Pertama, Petrus adalah seorang murid yang dapat dididik (teachable). Ketiga ayat itu memperlihatkan bagaimana Petrus mengikuti evaluasi diri yang diberikan Yesus kepadanya, yang berupa rangkaian pertanyaan evaluatif. Petrus juga menjawab tes evaluasi itu dengan objektif: tidak merasa sok hebat, tetapi juga tidak underestimate terhadapi diri sendiri. Ia menjawab bahwa level kasihnya baru sampai pada tataran fileo dari stadar agape yang diberikan Yesus.

Kedua, Petrus memiliki nurani yang peka, mudah tersentuh tatkala Yesus menegur (touchable). Ketika Yesus bertanya pada ketiga kalinya, Petrus sedih hatinya (lupeu, make sorry, feeling regret or penitence, feeling or showing sorrow and regret for having done wrong). Meskipun teguran itu simbolik – Yesus mengevaluasi tiga kali, sebanyak jumlah penyangkalannya – Petrus langsung sadar dan menyesal. Berbeda dengan Daud, yang baru sadar setelah ditempelak, tidak paham dengan bahasa simbolik yang halus (2 Sam 12:1-9).

SARASEHAN HUT KE-24 GEREJA GKJ PEPANTHAN GEDONGKIWO (17 JUNI 2010)

Pada 17 Juni 2010, Haryadi Baskoro memberikan sharing pada acara sarasehan HUT ke-24 Gereja GKJ Pepanthan Gedongkiwo Yogyakarta. Dalam acara itu hadir Bapak Pdt. Edi dari GKJ Wirobrajan, para mejelis dan pelayan (pengurus pepanthan) di gereja tersebut. Jemaat juga hadir dalam acara yang didisain berbentuk diskusi interaktif itu.

Dalam rangka memperingati ulang tahun itu, Haryadi mengajak para pemimpin dan jemaat gereja itu untuk melakukan evaluasi diri. Haryadi menegaskan supaya jangan cepat puas dan merasa sudah hebat. Evaluasi itu sendiri harus obyektif, melihat secara utuh baik kelebihan maupun kekurangannya. Pengalaman Haryadi melayani di banyak gereja dari berbagai demoninasi / aliran kekristenan yang berbeda-beda juga menjadi alat pembanding untuk melakukan evaluasi diri tersebut. Secara khusus, evaluasi difokuskan pada evaluasi tentang kehidupan doa jemaat menurut acuan Firman di dalam Yakobus 5:16b.

Pelayanan kali itu merupakan kehormatan tersendiri bagi Haryadi. Hal itu karena dirinya adalah salah satu cucu dari salah seorang tokoh GKJ bernama Pdt. Josaphat Darmohatmojo yang pada masanya banyak merintis Zending di Lampung, Sumatera disamping menggembalakan di GKJ Sawokembar Yogyakarta. Buku biografinya sudah terbit, ditulis oleh Pdt. Edi Trimodoroempoko, M.Div. Karena itu, meskipun banyak memberi kritik namun dirinya berkomitmen untuk mendukung pengembangan pelayanan GKJ-GKJ di Indonesia, khususnya GKJ. Pepanthan Gedongkiwo tersebut.

PENGKADERAN KANDIDAT PEMIMPIN-PEMIMPIN MUDA “KANAAN CAMP” DI STAK TERPADU – PESAT SALATIGA (29 MEI 2010)

Haryadi Baskoro melayani dalam sebuah sesi dengan topik ”Aku Bukan Jago Kandang” pada acara Kanaan Camp di STAK Terpadu – Yayasan Pesat di Salatiga Jawa Tengah pada 29 Mei 2010. Acara tersebut diikuti tak kurang dari 50 pemimpin dan kandidat pemimpin kaum muda dari berbagai gereja di Jawa Tengah, termasuk beberapa mahasiswa seminari setempat.

Terkait dengan tema umum acara Camp itu, ”Hidupku bagi Bangsaku”, Haryadi menjelaskan bahwa para pemimpin muda Kristen harus bisa berkarya nyata bagi kemajuan bangsa. Hal itu terkait dengan dua mandat yang diberikan Tuhan kepada Gereja, yaitu mandat pembaruan rohani dan mandat pembangunan kultural. Gereja tidak boleh pasif, eksklusif, apalagi menarik diri dari pergaulan sosial. Gereja harus hadir dan berkarya sebagai terang di tengah dunia yang gelap ini.

Haryadi menekankan bahwa supaya kaum muda Kristen bisa berdampak maka harus memiliki SDM yang kuat dan juga kreativitas. Tanpa itu, dan jika hanya belajar hal-hal agama saja, mereka hanya akan menjadi ”jago kandang”. Di tengah persaingan global Gereja harus mengkader generasi mudanya dengan pendidikan multi kompetensi yang berbasis iman yang Alkitabiah.

Pada sesi yang lain, Hedy Christiyono Nugroho SH (rekan Haryadi dalam tim H2CLS) memberikan sesi tentang antikorupsi dan lokakarya anti korupsi (www.h2cls.wordpress.com). Sementara itu, Livy Laurens SS MACE MA memberikan kesaksian tentang karirnya sebagai seniman musik serta menjadi komentator dalam acara talent show yang diikuti semua peserta camp (www.hlministry.wordpress.com; www.besaranugrah.wordpress.com).

KKR PENAHBISAN PENGURUS PEMUDA DAERAH GKII SE DIY DAN JAWA TENGAH (15 MEI 2010)

Haryadi Baskoro mendapat kehormatan untuk menyampaikan sharring Firman Tuhan pada ibadah KKR khusus pentahbisan Pengurus Pemuda Daerah GKII se DIY dan Jawa Tengah yang diadakan di gereja GKII Filadelfia Yogyakarta. Tema yang diangkat dalam acara tersebut adalah “Bangkit dan Bercahaya”, diambil dari Firman Tuhan dalam surat Efesus 5:14 (Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu”). Sesuai dengan tema itu, nuansa ibadah dibuat begitu menyala-nyala dan dinamis khas anak muda.

Sebelum acara penahbisan, Haryadi Baskoro memberikan sharing Firman Tuhan yang terambil dari ayat nas tersebut. Dalam ulasannya, Haryadi menekankan bahwa kebangkitan rohani kaum muda hanya akan terjadi bila ada tindakan dari sisi manusia, yaitu kemauan untuk bertobat. Namun di sisi lain, kebangunan rohani adalah karya Roh Kudus. Maka Paulus menegaskan bahwa Kristus akan bercahaya atas kamu (Ef 5:14). Tanpa kuasa Kristus maka tidak ada kebangunan rohani sejati.

Dalam penjelasannya, Haryadi menunjukkan data-data mutakhir tentang kebobrokan moral yang melanda kaum muda. Mulai dari kasus seks bebas, aborsi, sampai rupa-rupa kriminalitas menjadikan gelap kehidupan orang muda di seluruh dunia. Namun Haryadi juga menunjukkan bagaimana kebangunan rohani sedang melanda anak-anak muda Kristen di seluruh dunia sekarang ini. Akhirnya, Haryadi memberikan tantangan agar kaum muda GKII bangkit dan bercayaha bagi Tuhan.

Setelah Firman Tuhan disampaikan dan setelah saat teduh bersama Livy Laurens selesai (www.besaranugrah.wordpress.com), acara penahbisan pun dilakukan. Penahbisan dilakukan oleh Pdt. David Martono, S.Th. Kata-kata sambutan disampaikan oleh Ev. Janny Lewi, M.Th sebagai Ketua PPD dan Pdt. David Martono, S.Th yang mewakili Ketua Daerah. Seluruh pengurus baru maju ke depan untuk didoakan dan diperkenalkan kepada seluruh jemaat yang hadir.

MENGAJAR MAHASISWA M.TH PAK DI GBI FAITH SURABAYA (11-14 MEI 2010)

Haryadi Baskoro diminta memberikan kuliah padat (block teaching) untuk program S-2 STT Getsemani di Surabaya pada 11-14 Mei 2010. Dalam perkuliahan yang dilangsungkan di gedung gereja GBI Faith Surabaya itu Haryadi memberikan mata kuliah “Isu-isu Pelayanan”.

Dalam perkuliahan itu dibahas tentang isu-isu mutakhir yang berkembang di masyarakat yang perlu mendapat perhatian dalam pelayanan Kristen. Seringkali pelayanan gereja tidak kait-mengait dengan perkembangan terkini sehingga gereja tidak terhubung dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, gereja menjadi eksklusif dan tidak bisa berdampak dalam masyarakat, apalagi menjadi agen pembaharu masyarakat.

Diskripsi Mata Kuliah.Mata kuliah ini memberikan pemahaman tentang masalah-masalah kontemporer yang sedang terjadi di tengah masyarakat untuk menumbuhkan kreatifitas dalam mengembangkan pelayanan-pelayanan Kristen dalam rangka Amanat Agung Yesus Kristus.

Standar Kompetensi (SK) Setelah mengikuti mata kuliah ini peserta didik dapat memahami masalah-masalah dalam masyarakat serta mengembangkan beragam pelayanan Kristen yang relevan dan kreatif.

Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator (I) Setelah mengikuti mata kuliah ini peserta didik diharapkan memiliki beberapa kompetensi dasar dan indikator sebagaimana terlihat dalam rincian sebagai berikut: (1) Memahami Pelayanan yang Kreatif (a) Memahami Pelayanan Gereja: ke Dalam dan ke Luar, (b) Memahami Kebutuhan dan Tantangan Kristen, (c) Menciptakan Inovasi dalam Pelayanan. (2) Memahami Perkembangan Terkini bagian pertama (a) Isu Lingkungan dan Bencana Alam, (b) Isu Ekonomi dan Globalisasi (termasuk entrepreneurship). (c) Isu Gaya Hidup dan Entertainment. (3) Memahami Perkembangan Terkini bagian kedua: (a) Isu Fundamentalisme-Radikalisme Agama, (b) Isu Dinamika Politik Indonesia, (c) Isu Pendidikan. (4) Memahami Perkembangan Terkini bagian ketiga: (a) Isu Okultisme dan Spiritisme, (b) Isu Kemajuan IPTEK dan Pemujaannya, (c) Isu Penyimpangan Seksualitas. (5) Menerapkan Pelayanan-Pelayanan Baru: (a) Memahami Proses Kreativitas, (b) Memahami Proses Kreativitas secara Rohani, (c) Mengevaluasi Pelayanan-Pelayanan Baru

PEMBINAAN HUKUM DI STT DOULOS (10 MEI 2010)

Pelayanan bersama Haryadi Baskoro, MA., M.Hum dan Hedy Christiyono Nugroho SH. Lihat www.h2cls.wordpress.com

Menyambung kuliah umum pertama yang diadakan 3 Mei 2010 silam, pada Senin 10 Mei 2010 Tim H2CLS memberikan Kuliah Umum Hukum II di STT Doulos Yogyakarta. Kuliah kali ini istimewa karena didukung dengan kehadiran Ketua Masyarakat Kristen Indonesia (MKI) Yogyakarta, Ir. Bambang Prijambodo, M.Si. Kuliah ini juga didukung dengan kehadiran seorang dosen jurusan Informatika UKDW, Joko Purwadi, ST, M.Kom….

PEMBINAAN HUKUM DI STT TAWANGMANGU (4 MEI 2010)

Pelayanan bersama Haryadi Baskoro, MA., M.Hum dan Hedy Christiyono Nugroho SH. Lihat www.h2cls.wordpress.com

Pada Selasa 4 Mei 2010, Tim H2CLS memberikan Seminar Hukum untuk seluruh mahasiswa di STT Tawangmangu Jawa Tengah. Kegiatan ini diprakarasi HIMA STT Tawangmangu tersebut. Seminar ini diadakan beberapa waktu sebelum diadakan wisuda tahunan, sehingga para mahasiswa yang akan lulus mendapatkan bekal terlebih dahulu….

PEMBINAAN HUKUM DI STT DOULOS (3 MEI 2010)

Pelayanan bersama Haryadi Baskoro, MA., M.Hum dan Hedy Christiyono Nugroho SH. Lihat www.h2cls.wordpress.com

Pada Senin 3 Mei 2010, Tim H2CLS memberikan Kuliah Umum Hukum I untuk para mahasiswa STT Doulos yang berkampus di kawasan Sonopakis, Yogyakarta. Pada kuliah umum bagian pertama ini, dibagi dua sesi, pertama dilayani Hedy Christiyono Nugroho SH dan kedua dilayani Haryadi Baskoro, MA, M.Hum….

SHARING UNTUK PARA PEMIMPIN GEREJA GKII SE-TANAH PINOH KALIMANTAN BARAT (12-15 APRIL 2010)

Haryadi Baskoro dan Livy Laurens melayani KKR-Seminar tahunan gereja-gereja GKII se-Tanah Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat (12-15 April 2010). Haryadi bersama Pdt Wayan Lelobaya (dari STII Kalbar) melayani sebagai pembicara KKR dan seminar. Sedangkan Livy melayani sebagai pemimpin pujian-penyambahan, memberi persembahan pujian dari albumnya “Besar Anugrah”, dan menjadi juri dalam lomba vokal group antar gereja tersebut.

Acara akbar tahunan yang diselenggaranan di GKII Jemaat Eben Heizer Ribang-Rabing, Tanah Pinoh itu diikuti tak kurang dari 1.000-an jemaat. Gereja-gereja GKII dan gereja-gereja lain serta para pendetanya yang terlibat adalah: GKII Maranata Bora (Pdt. Hizkia Markus, S.Th), GKII Baitani Mekar Pelita (Pdt. Silam Akit, S.Th), GKII Logos Meta Bersatu (Ev. Damianus Drohan), GKII Bukit Sion Ganjang (Ev. Gideon), GKII Galilea Rompam (Vic Sakius Nusi), GKII Kalvari Lintah (Ev Yulianus), GKII Pintu Elok Posin (Pdt. Simardin Acai), GKII Smirba Km 62 (Ev. Mohtar), GKII Siloam Ulak Muid (Ev. Jumiti Nursianti), GKII Filadelfia Ribang Semalan (Vic. Elyas Acai), GKII Brea Nanga Senuang (Ev Martinus Sa), GKII Gunung Maria Nanga Rahan (Vic Adiantus Kirai), GKII Emaus Laman Togap (Pdt. Iskandar), GKII Betlehem Nanga Kompi (Pdt. Injan Onisus), GKII Poring Jawa (Ev. Crismasna), GKII Filipi Telaga Biru (Ev Rentot), GKII Keranjik Tengah, GKII Nazaret Nanga Mancur (Ev Adiantus Aman STh), GKII Samari Potai (Pdt Liam Odok STh), GKII Gilgal Nanga Sayan (Pdt. Masrol), GKII Imanuel Kota Baru (Ev Simson Sth), GKII Efata Ketuat (Ev Natanael), GKII Rehobot Landau Sadak (Vic Suandi), GKII Getsemani Laman Pelain (Ev Tunjung Sth), Pos PI Torsina Maligai (Ev Yonatan STh), Pos PI Sulup (Yahya), Gereja Adven (Ev Odong Supardi), Pos PI Gihon Sokan (Vic Idrus Bantung STh).

Acara akbar ini dibuka oleh Bupati Melawi yang hadir bersama segenap jajarannya. Pada kegiatan ini hadir pula beberapa calon bupati/wakil bupati yang beragama Kristen. Pihak Pemda setempat menyatakan sangat mendukung kegiatan ini.

Pada hari ketiga (14 April 2010), Haryadi dan Pdt Wayan memberikan seminar khusus untuk para pemimpin. Ini merupakan pertemuan khusus untuk para pendeta, penginjil dan hamba Tuhan. Dalam sesi khusus ini, Haryadi memberikan sharing tentang tantangan dan masa depan pelayanan Kristen di Indonesia. Haryadi membahas perkembangan politik dan hukum dan kaitannya dengan kekristenan.

Pada sesi itu, Pdt Wayan juga memberikan sharing-nya dengan menekankan pentingnya integritas pelayanan. Sesudah itu, Haryadi membagikan buku karyanya (”Panggilan menjadi Agen Transformasi” dan ”Pendidikan Multi Kompetensi Gereja Transformator”) untuk semua hamba Tuhan yang ikut sesi tersebut.

Selama pelayanan KKR dan Seminar itu, Livy Laurens membawakan lagu-lagu karyanya dalam album ”Besar Anugerah”. Livy juga memberikan kesaksian tentang bagaimana perjalanan karirnya sebagai penyanyi sekuler di blantika musik pop nasional. Livy pun bersaksi bagaimana Tuhan memanggilnya sebagai hamba-Nya sehingga kini berkarya musik – baik rohani maupun sekuler – dengan visi baru untuk menjadi saksi Kristus di dunia seni dan entertainment.

MENGAJAR KELAS M.TH PAK DI STT BAPTIS INDONESIA SEMARANG (22-26 MARET 2010)

Haryadi Baskoro mengajar “PAK dalam Masyarakat Majemuk” (CE in Plural- Multicultural Society) pada program pascasarjana jurusan M.Th PAK Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia (STBI) Semarang, Jawa Tengah pada 22-26 Maret 2010. Hal itu sekaligus merupakan bagian dari tugas Supervised Teaching dijalankannya dalam rangka menyelesaikan program doctoral di kampus tersebut.

Materi itu sangat penting untuk memperlengkapi para hamba Tuhan, pemimpin, dan pendidik Kristen yang mengikuti mata kuliah ini. Mahasiswa dibimbing untuk memiliki kompetensi dalam menjalankan PAK yang mengajarkan masalah kemajemukan masyarakat dari perspektif Alkitab. Pelajaran tentang pluralitas (bukan pluralisme) agama dan social-budaya penting bagi Gereja supaya Gereja bisa hidup arif, bijak, dan berhikmat di tengah masyarakat, serta bisa menjadi terang di tengah masyarakat.

Selama memberi perkuliahan, dosen Haryadi membawa kelas ke dalam suasana diskusi interaktf. Semua mahasiswa diberinya kesempatan untuk melontaskan pemikiran masing-masing. Haryadi juga memberikan bahan-bahan ajar berupa beberapa dokumentasi film, dan buku-buku kepada para mahasiswa.

SEMINAR HUKUM UNTUK HAMBA-HAMBA TUHAN DI GKKI BUKIT ZION SOMONGARI PURWOREJO (26 FEBRUARI 2010)

Pelayanan bersama Haryadi Baskoro, MA., M.Hum dan Hedy Christiyono Nugroho SH. Lihat www.h2cls.wordpress.com

Pada Jumat 26 Februari 2010, Tim H2CLS memberikan pemahaman hukum khusus untuk hamba-hamba Tuhan di kawasan Purworejo dalam sebuah pertemuan terbatas di GKKI Bukit Zion Somongari Purworejo Jawa Tengah. Pertemuan ini diadakan sehubungan dengan beberapa tekanan yang dialami oleh komunitas Kristen di daerah tersebut.

SEMINAR UNTUK PARA PENDETA DI BANYUWANI, JAWA TIMUR (15 DESEMBER 2009)

Pada 15 Desember 2009 Haryadi Baskoro bersama tim pelayanan dari CornerStone Community Church Yogyakarta melawat ke Banyuwangi. Di tempat itu Haryadi melayani persekutuan para pendeta yang saat itu beribadah bersama di sebuah gereja GPdI. Dalam kesempatan itu, Haryadi memberikan seminar mengenai Gereja di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Haryadi menjelaskan bagaimana perkembangan politik dari sejak Indonesia merdeka sampai sekarang. Fokus persoalan yang dibahas adalah persoalan konflik SARA dalam dinamika politik di tanah air tersebut. Dibahas khusus juga tentang mengapa ada perjuangan politis untuk meminggirkan dan membungkam kekristenan. Dengan mempelajari seksama perkembangan-perkembangan yang ada, para hamba Tuhan diajak untuk berpikir kritis dan bertindak taktis supaya Gereja tetap bertumbuh di Indonesia.

Haryadi menekankan perlunya pendidikan multi kompetensi untuk para hamba Tuhan. Para pendeta hendaknya berkiprah di tengah masyarakat, bahkan menjadi tokoh masyarakat. Ketika mereka menjadi pemimpin komunitas maka masyarakatlah yang memberi dukungan atas eksistensi pelayanan dan gerejanya. Untuk itu para hamba Tuhan perlu memahami dan menguasai masalah-masalah di luar ranah teologi.

LEADERSHIP CAMP PEMUDA KLASIS GKJ YOGYA UTARA (8-9 AGUSTUS 2009)

Haryadi Baskoro mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu pembicara dalam acara Leadership Camp Pemuda Klasis Gereja Kristen Jawa Yogyakarta Utara yang diadakan di wisma Sejahtera II Kaliurang Yogyakarta (8-9 Agustus 2009). Haryadi membawakan seminar dua sesi pada Sabtu, 8 Agustus 2009 jam 17.00-21.00 WIB dengan tema ”Ini aku, utuslah Aku” dan ”Kepemimpinan Kristen”. Koordinator acara itu adalah Danang Avianto.

Pada sesi pertama, Haryadi menekankan panggilan pelayanan untuk kaum muda Kristen. Banyak tokoh Alkitab yang dipakai sejak muda. Pelayanan itu sendiri terkait dengan dua mandat yang diberikan Tuhan kepada Gereja: mandat pembaharuan rohani dan mandat pembangunan kultural. Dengan demikian, pelayanan itu sendiri luas. Pekerjaan sekuler, jika dijalani dengan visi illahi, semestinya menjadi ”pelayanan sepenuh waktu” juga.

Pada sesi kedua, sebelum membahas masalah kepemimpinan, Haryadi meminta ayahnya (Sudomo Sunaryo) untuk memberikan kesaksian. Sudomo bersaksi tentang pengalamannya memimpin di pemerintahan dan pengalamannya memimpin di lembaga pendidikan Kristen. Dari kesaksian itu, Haryadi memberi kupasan tentang nilai-nilai dan praksis kepemimpinan Kristen yang Alkitabiah.

KANAAN CAMP STAK TERPADU – PESAT SALATIGA (2009)

Pada 18-20 Juni 2009, Haryadi Baskoro melayani di kegiatan Kanaan Camp yang diadakan oleh STAK Terpadu – Yayasan Pesat di Tuntang, Salatiga, Jawa Tengah. Tema yang diangkat dalam kegiatan yang diikuti utusan pemimpin pemuda dari berbagai gereja di Jawa Tengah ini adalah ”Hidupku bagi Bangsaku”.

Pada kesempatan ini Haryadi mengingatkan supaya anak-anak muda Kristen memiliki hati yang terbeban untuk bangsa Indonesia. Kondisi sekarang, Indonesia terpuruk dalam banyak hal – apa yang pernah disebut sebagai krisis multidimensional. Bangsa ini membutuhkan sosok anak muda seperti Yusuf yang tampil pada era Firaun. Meski sendirian di tengah bangsa Mesir – sama seperti orang Kristen yang minoritas – Yusuf justru tampil mengemuka menjadi problem solver. Demikianlah Indonesia membutuhkan Yusuf-Yusuf akhir jaman pada masa kini.

Haryadi mengingatkan bahwa untuk meraih sukses perlu visi dan kerja keras sedini mungkin. Yusuf sendiri mulai mendapatkan visi sejak usia 17 tahun (Kej 37:2) dan naik tahta pada usia 30 tahun (Kej 41:46). Teladan itu semestinya mendorong kaum muda Kristen tidak menyia-nyiakan masa muda. Masa muda adalah masa untuk mengembangkan SDM semaksimal mungkin serta tentunya untuk mengejar perkara-perkara rohani seintensif mungkin. Apa yang ditabur di masa muda akan dituai di masa tua.

KOTBAH DI STII PALU (MEDIO 2009)

Ketika Haryadi Baskoro melayani di GBI Woodward Palu, ia mendapat kesempatan untuk menyampaikan Firman pada acara kapel di Sekolah Tinggi Teologia Injili (STII) Palu. Dalam kesempatan itu Haryadi mengupas peristiwa sejarah yang dicatat di dalam Matius 14:22-33 tentang “Yesus (dan Petrus) berjalan di atas air”.

Haryadi mengaitkan peristiwa yang dicatat dalam Injil itu dengan proses belajar dalam rangka menyemangati para mahasiswa semnari tersebut. Teks itu menunjukkan bagaimana Petrus – dengan segala kekurangan, termasuk kegabahannya – adalah tipe pebelajar yang bagus. Ia berbeda dengan para murid lain yang memilih diam di dalam zona nyaman mereka. Petrus terstimulir untuk melakukan sesuatu yang dilakukan guru-Nya – berjalan di atas air.

Proses belajar membutuhkan keberanian untuk gagal. Pada kasus Petrus, kegagalannya cukup memalukan. Bahkan menyebabkan ia dinilai oleh Sang Guru sebagai murid yang kurang percaya dan bimbang (Mat 14:31). Tetapi, kegagalan itu tidak meredakan perjuangan rohaninya. Di kemudian hari, sekalipun lebih banyak kegagalan dia lakukan – termasuk yang paling fatal menyangkal Yesus – Petrus terus maju dalam proses belajar. Akhirnya, siapa yang paling menonjol di antara para murid? Petruslah yang tampil mengemuka saat Roh Kudus memulai Gereja-Nya (band. Kis 2:14-47).

PERINTISAN SEKOLAH KEPEMIMPINAN DI GBI WOODWARD PALU (MEDIO 2009)

Pada pertengahan 2009, Haryadi Baskoro melayani di GBI Woodwad Palu. Pada kunjungan yang pertama, Haryadi memberikan visi tentang pendidikan kepemimpinan. Pada kunjungannya yang kedua, Haryadi bersama para pemimpin jemaat setempat memulai perintisan sekolah kepemimpinan di gereja tersebut.

Ternyata, bapak gembala (alm) yang mendirikan gereja tersebut memiliki visi untuk mengembangkan pendidikan. Dulunya beliau adalah seorang yang aktif di dunia militer, sehingga sekalipun terjun dalam penggembalaan, ia memiliki tetap multi kompetensi. Tidak hanya dalam hal rohani, namun juga dalam kemasyarakatan. Karena itulah ia terpanggil untuk mengembangkan SDM jemaat.

Karena kesamaan visi tersebut maka beberapa pemimpin di GBI Woodward mendukung usulan Haryadi mengenai sekolah kepemimpinan tersebut. Para kunjungan Haryadi yang kedua, para pemimpin dikumpulkan dan diadakan pertemuan khusus selama seminggu di mana Haryadi memberikan pengarahan khusus. Dari pertemuan itu disepakati untuk mereka memulai sekolah kepemimpinan tersebut.

Dari gereja setempat, ternyata banyak anggota yang memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing. Ada yang piawai di bidang bisnis. Ada yang memiliki kepakaran di bidang teknik. Ada yang praktisi hukum, politisi, dan sebagainya. Dengan demikian, jika mereka diberi pelatihan mengajar maka gereja itu akan memiliki pendidikan kepemimpinan yang multi kompetensi untuk mendongkrak SDM jemaat dalam rangka melayani Tuhan dan berdampak bagi masyarakat luas.

PELAYANAN PEMBINAAN HUKUM SELAMA 2009

Pelayanan pembinaan hukum yang dilakukan Haryadi Baskoro, MA, M.Hum bersama Hedy Christiyono Nugroho SH dapat dilihat di www.h2cls.wordpress.com

Tim H2CLS berdiri dan langsung aktif melayani sejak 2009. Pelayanan-pelayanan pembinaan hukum yang khusus diberikan untuk para pemimpin dan calon hamba-hamba Tuhan pada 2009 antara lain adalah: seminar hukum khusu untuk para pemimpin wanita berbagai gereja di GKJ Wates Kulon Progo DIY (23 Desember 2009), pembinaan hukum untuk mahasiswa dan dosen STAK Terpadu – Pesat Salatiga Jawa Tengah (30 November 2009), Sarasehan kebangsaan di STAK Terpadu – Pesat Salatiga Jawa Tengah (24 Oktober 2009), pembinaan hukum di STT Tawangmangu (8 Oktober 2009), seminar hukum di STT Getsemani (30 September 2009).

MENDUKUNG PENGEMBANGAN ”JOGJA CHRISTIAN SOCIETY” (JCS) MENJADI ”MASYARAKAT KRISTEN INDONESIA” (MKI) DAN WEBSITE MKI (2009)

Pada pertengahan 2009, Haryadi Baskoro terlibat dalam pengembangan jejaring (forum) ”Jogja Christian Society” (JCS) menjadi ”Masyarakat Kristen Indonesia” (MKI). Para pendiri dan pemimpin JCS – Pdt. Pringgosekarjo, Dr. Benyamin Sugeha, Drs. Daniel Sukemi, Drs. Bambang Prijambodo, M.Si – merindukan supaya JCS menasional dan membahas masalah ini dengan Haryadi Baskoro dan Sudomo Sunaryo.

Suatu kali mereka berkunjung ke rumah Haryadi untuk memperbincangkan hal ini. Ketika mereka mencari figur nasional, Haryadi mengusulkan supaya berkontak dengan HBL Mantiri yang merupakan tokoh nasional dalam berbagai pelayanan kristen. Maka Pak Mantiri pun dikontak melalui telepon di rumah Haryadi. Ternyata Pak Mantiri setuju dan kemudian menjadi pemimpin MKI dan mengembangkannya di Jakarta. Sejak itulah JCS berkembang menjadi MKI.

Untuk memacu perkembagan MKI, Haryadi Baskoro bersama rekan-rekan yang ekspert di bidang IT mengembangkan website khusus yang di-launching di GKI Gondomanan Yogyakarta (lihat foto). Pelayanan website itu mendapat dukungan dari Bapak Wimmie dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Berita tentang launching ini juga dimuat dalam majalah BAHANA.

NATAL HAMBA TUHAN MISSION CARE (2008)

Akhir 2008 Haryadi Baskoro melayani Firman dalam acara Natal persekutuan Mission Care Yogyakarta. Dalam acara yang dihadiri para hamba Tuhan dan para pendidik Kristen ini Haryadi menekankan komitmen pelayanan. Sejarah kelahiran Mesis mencatat bagaimana Tuhan memakai para hamba-Nya – Yusuf dan Maria – untuk menjadi alat bagi rencana penyelamatan umat manusia itu.

Kerjasama Haryadi dengan Mission Care terkait dengan kerjasama Haryadi dengan unsur aktivis Mission Care di Yogya, khususnya ibu Linda Christiana dari Pelangi Institute Yogyakarta. Berkat jejaring ini pula Haryadi pernah mendapat kepercayaan untuk memberikan pengenalan jurnalistik untuk para pelayan Tuhan.

Pelayanan Mission Care sangat berdampak di Indonesia. Jejaring ini memberikan dukungan terhadap pelayanan hamba-hamba Tuhan di tanah air, khususnya yang melayani di kawasan pedesaan yang penuh tantangan. Pelayanan Mission Care juga mendukung guru-guru Kristen dalam melayani di bidang pendidikan.

PELATIHAN JURNALISTIK HAMBA TUHAN GERAJA ISA ALMASIH JAWA TENGAH SELATAN (20-21 JUNI 2008)

Pada 20-21 Juni 2008, Haryadi Baskoro bersama jurnalis William E. Aipipidely – atas nama tim Pelangi Institute memberikan pelatihan jurnalistik untuk para hamba Tuhan dari Sinode Gereja Isa Almasih Korda Jawa Tengah Selatan. Pelatihan ini diberikan dalam rangka membekali mereka untuk mengembangkan jurnalisme untuk pelayanan interal di gereja lokal masing-masing.

Dalam pelatihan itu, Haryadi menekankan supaya para pelayan Kristen (hamba Tuhan) mengembangkan multi kompetensi. Bukan hanya menguasai teologi dan ketrampilan pelayanan rohani, namun juga berbagai ketrampilan sekuler seperti manajemen, komunikasi, hokum, dan sebagainya. Ketrampilan jurnalistik merupakan ketrampilan yang sangat diperlukan.

Meskipun tujuan pelatihan ini masih untuk kepentingan internal, Haryadi membukakan wacana tentang pelayanan jurnalistik dalam rangka membawa gereja berdampak kepada masyarakat luas. Sekarang, misalnya, masih sadikit pendeta yang menulis di surat kabar.umum.

MEMBUAT TERBITAN KHUSUS UNTUK KONVENSI NASIONAL DAN PERGANTIAN KEPEMIMPINAN FGBMFI INDONESIA (MEDIO 2008)

Dalam rangka mensukseskan National Convention XX FGBMFI di Jakarta pada 18-20 Juni 2008, yang di dalamnya terjadi proses suksesi kepemimpinan, Haryadi Baskoro bersama salah seorang pimpinan FGBMFI Yogyakarta (Henry Purwanto) membuat sebuah terbitan khusus. Buku berbentuk majalah itu bertajukkan “The Happiest People: Mempertajam Visi, Mengasah Strategi”. Penulisan dan penerbitannya dilakukan di bawah pengawasan para penasihat dari unsur pemimpin FGBMFI yaitu Letjend (Purn) H.B.L. Mantiri, Ir. Bernard Njotorahardjo, Ir. Andreas Susetya, Musa Sutjipto Herlambang, dan Dr. Hendro Gunawan, Sp.PD.

Buku khusus ini berisi pesan-pesan pemimpin FGBMFI Indonesia (Letjend (Purn) H.B.L. Mantiri) yang dalam konvensi itu mundur dari jabatannya karena sudah beberapa kali memimpin. Buku ini juga berisi harapan dan visi Ir. Bernard Njotorahardjo yang dalam konvensi itu terpilih sebagai pemimpin baru FGBMFI Indonesia. Disamping itu ada beberapa artikel lain terkait FGBMFI seperti All About FGBMFI, Vision Intensified, Curah Gagasan, Mengasah Strategi, Analisis & Evaluasi, dan Inspirasi dari Marketplace.

Haryadi bersama tim FGBMFI Yogyakarta mengikuti acara konvensi tersebut. Sayangnya, Haryadi tidak bisa mengikuti acara tersebut sampai akhir sebab harus memberikan pelatihan jurnalistik di Magelang. Tiket pesawat pulang atas namanya terpaksa tidak digunakan karena ia harus pulang lebih awal dengan membeli tiket pesawat secara go show di bandara Soekarno Hatta.

MEMPERKUAT PENYAMPAIAN VISI MISI FGBMFI YOGYAKARTA (2007-2008)

Selama 2007-2008 Haryadi Baskoro sering diminta oleh para pengurus Full Gospel Bussines Men’s Fellowship International (FGBMFI) Yogyakarta untuk membagikan visi-misi dalam beberapa kali pertemuan penting. Pada awalnya, membagi visi-misi didalam pertemuan chapter-chapter. Akhirnya juga dalam pertemuan besar seperti dalam acara Natal FGBMFI.

Meskipun Haryadi tidak secara khusus menjadi anggota FGBMFI, namun ia memiliki beban untuk mendukung pelayanan FGBMFI. Hal itu seperti diatur oleh Tuhan sendiri sebab pada masa-masa awal pertumbuhan rohaninya, ia sering membaca buku tentang pendiri FGBMFI (Demos Shakarian). Karena itu ia memiliki banyak catatan mengenai pendiri dan pemimpin FGBMFI tersebut. Ketika ia membagikan pemahamannya itu ternyata rekan-rekan di FGBMFI Yogya merespon positif sehingga memberi Haryadi kesempatan untuk menyampaikan visi-misi dalam pertemuan-pertemuan mereka.

Perkembangan FGBMFI sangat dahsyat. Pada tahun 1955, Oral Roberts menubuatkan bahwa FGBMFI akan mempunyai 1.000 chapter. Ternyata, pada tahun 1975 sudah ada 1.650 chapter, tersebar di 50 negara bagian Amerika Serikat dan di 52 negara di seluruh dunia. Pada tahun 2005 sudah menjadi 5.000 chapter di 160 negara dengan member lebih dari 1 juta jiwa.

MIMBAR AGAMA KRISTEN BERSAMA PARA PEMIMPIN KRISTEN DI TVRI YOGYA (2002)

Pada awal 2002, Haryadi Baskoro bersama Pdt Jimmy Peter, Pdt. Timotius, dan Ev. J.H. Gondowijoyo memberikan sharing tentang visi kesatuan Tubuh Kristus dan visi Gereja menjadi berkat bagi masyarakat dan bangsa. Kekristenan jangan menjadi eksklusif dalam arti menarik diri dari pergaulan sosial. Gereja harus terlibat dalam pembangunan dan berkontribusi bagi masyarakat. Untuk itu Gereja harus sendiri harus kompak.

Mengenai konflik SARA yang terjadi di tanah air, Gereja dituntut untuk menyatakan kasihnya. Alkitab manandaskan bahwa musuh orang Kristen bukan manusia tetapi iblis. Karena itu, orang Kristen tidak boleh membalas kejahatan manusia dengan kejahatan, namun membalasnya dengan kebaikan. Terhadap orang yang menganiaya, kita harus mengampuni dan mendoakan.

Di sisi lain, gereja harus pula melakukan introspeksi. Kalau ada resistensi dari masyarakat, jangan-jangan ada kesalahan yang kita lakukan. Misalnya, kurang bisa bergaul dengan masyarakat, eksklusif, dan kurang bersosialisasi. Watunya bagi gereja untuk peduli dengan masyarakat dan bisa lebih menggalang kerjasama sosial dengan berbagai kelompok agama yang lain dalam rangka nasionalisme Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: