ABOUT HARYADI BASKORO

PROFIL HARYADI BASKORO

  • Pendidikan
    • SD Ungaran I Yogyakarta
    • SMP Negeri 5 Yogyakarta
    • SMA Negeri 3 Yogyakarta
    • S1 Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada
    • S2 Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada
    • S2 Pendidikan Sekolah Tinggi Teologia Injili Indonesia
    • S3 Asia Baptist Graduate Theological Seminary
    • Akta Mengajar Universitas Negeri Yogyakarta
    • Applied Approach Universitas Sebelas Maret Surakarta
  • Pekerjaan
    • Kepala Kantor Hukum 3H Advocates & Consultans
    • Dosen tidak tetap di AKINDO, STIKES Wira Husada, STIKES Guna Bangsa
    • Dosen tidak tetap di STT Tawangmangu, STT Pelita Bangsa Jakarta, STAK Pesat Salatiga
    • Peneliti dan Penulis bidang kebudayaan
  • Pelayanan
    • Berkotbah (preaching) dan Mengajar (teaching)
    • HBCE Ministry
    • HL Ministry (Haryadi-Livy Ministry)
    • H2CLS (Hedy-Haryadi Christian Legal Solution)
    • Pengajar di Belsasar Leadership Training
  • Karya Tulis antara lain
    • Buku Rohani Kristen
      • Mezbah Doa Para Pemimpin (Penerbit Andi)
      • All About Healing (Penerbit Andi)
      • Doa Mengatasi Bencana Alam (Penerbit Andi)
      • 77 Renungan Akhir Jaman (Penerbit Andi)
      • Jurnalisme untuk Sekolah Minggu (Penerbit Andi)
    • Buku Kebudayaan
      • Catatan Perjalanan Keistimewaan Yogya (Penerbit Pustaka Pelajar)
      • Wasiat HB IX (Penerbit Galang Press)
      • Kadipaten Pakualaman: Sebuah Dedikasi Lintas Generasi (Pena Persada dan New Armada)
    • Buku Biografi
      • Biografi Helmy Sungkar
      • Biografi Hotma Sitompoel SH
      • Biografi David Sunar Handoko
      • Biografi Pdt. Thomas Suwarno
      • Biografi Ev. Ester Wulandari
    • Ratusan artikel opini dimuat di berbagai surat kabar lokal dan nasional antara lain KOMPAS, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Harian Jogja, BAHANA.

JEJAK PANGGILAN PELAYANAN PENDIDIKAN HARYADI BASKORO

Ketika duduk di bangku SMA, Haryadi Baskoro senang membolos. Memang, tak dapat dipungkiri kalau perilaku itu akibat gejolak masa remaja. Namun di sisi lain, hal itu merupakan ekspresi pemberontakannya atas buruknya sistem pendidikan pada masa itu. Hal yang meresahkan hatinya adalah politik pendidikan saat itu yang cenderung mengembangkan sistem pendidikan yang bersifat pembodohan. Karena itu, meski dikenal suka membolos, pada akhir masa SMA itu Haryadi menulis artikel opini di koran berjudul “Masuk Sekolah Lagi, Ni Ye?” – sebuah kritik atas buruknya sistem pendidikan di tanah air.

Setelah dilahirkan baru, adik rohani pertama binaan Haryadi adalah seorang yang sama sekali tidak berlatar belakang pendidikan tinggi. Namanya, Sutakin. Hal itu seperti menantang Haryadi untuk berjuang bagaimana caranya mendongkrak SDM orang Kristen supaya maju. Namun, pada suatu kesempatan, Sutakin yang sederhana mendapat mimpi. Dalam night vision itu, Sutakin melihat Haryadi mengajar di depan banyak sekali murid, seperti seorang guru….

Darah guru – bukan darah biru – ternyata mengalir dari kedua kakek Haryadi. Kakek dari jalur ibu, Pdt. Josaphat Darmohatmodjo sempat menjadi guru Sekolah Rakyat Zending Palihan, guru Christelijke HJS di Purworejo, dan kepala sekolah Christelijke Holl Inlandshe School met Nederlands Ngesti Wiyoto di Purworejo. Sedangkan kakek dari jalur ayah, R. Soenarjo adalah seorang guru Sekolah Rakyat. Ada pun ayahnya, Drs. Sudomo Sunaryo adalah seorang pendidik (penatar) P-4 (Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila). Setelah pensiun dari jabatan terakhirnya sebagai Asisten I Sekda Provinsi DIY, Sudomo memimpin Yayasan Pendidikan Kristen BOPKRI Yogyakarta (2002-2006). Rupanya gen edukator sudah menjadi bagian inti dalam jiwa Haryadi.

Tanpa disadari, rupanya Tuhan sendiri memang mengarahkan Haryadi untuk menjalani hidup, pekerjaan, dan pelayanan di dunia pendidikan. Setelah lulus S-1 dari Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sedianya Haryadi hendak melanjutkan studi S-2 pada jurusan yang sama di kampus itu juga. Namun, karena kesibukan pelayanan di luar kota maka terlambat mendaftar. Hal itu justru membawa dirinya mengambil S-2 Pendidikan Agama Kristen (MA.CE, Master of Arts in Christian Education) di STII Yogyakarta. Baru tahun berikutnya, ia juga melanjutkan S-2 Antropologi Budaya di UGM.

Dengan bekal MA.CE, Haryadi mendapat kesempatan mengajar Agama Kristen di AKINDO dan STIKES Wira Husada Yogyakarta sejak 2000. Pada kesempatan inilah Haryadi bereksperimen untuk tidak hanya mengajar agama secara konvensional. Namun memberikan beragam pengetahuan sekuler yang diintegrasikan dengan pelajaran agama, dengan tujuan mempersiapkan para mahasiswa Kristen untuk meraih sukses sekaligus berdampak di dunia kerja/marketplace (www.smartforchrist.wordpress.com).

Dalam perjalanan karir sebagai edukator, Haryadi sempat mengalami sukacita sekaligus stress ketika diberi kesempatan mengajar Pelajaran Antropologi di SMA Bopkri 2 Yogyakarta (2002-2004). Sukacita, karena bisa mengajar para remaja, seperti kembali ke masa SMA yang indah. Stress, karena setiap hari menghadapi anak-anak yang terkadang tidak bisa dikendalikan – Haryadi sempat merasa ini sebagai ’hukum karma’ karena dulu sewaktu SMA sering ’menakali’ guru-gurunya. Tetapi, pengalaman mengajar di SMA ini sungguh amat sangat berharga karena benar-benar menyadarkan dan menantang Haryadi sebagai seorang edukator. Dari pengalaman ini pulalah ia menyadari betapa berat sekaligus mulialah panggilan seorang guru. Mereka adalah para pahlawan yang layak dihargai jasanya, jangan tanpa tanda jasa, gitu loh!

Sejak 2004-an,  kesempatan mengajar di berbagai seminari (sekolah tinggi teologi) terbuka bagi Haryadi. Ia sempat mengajar di STII Yogyakarta. Terbukanya jalan mengajar di STT Tawangmangu (ST3) mempunyai kisahnya sendiri. Sewaktu SMA, saat Haryadi mendengar kabar tentang Pdt Sam Soukotta (pimpinan ST3) berkotbah, Roh Kudus berbicara di hati Haryadi, kata-Nya – kurang lebih – demikian: ”Anakku, suatu saat nanti kamu akan seladang dengan dia!” Waktu itu ia sama sekali tidak memikirkan hal tersebut. Tetapi pada 2006, karena sudah sepuh, Letkol Supardi yang mengajar Pancasila dan Kewarganegaraan di ST3 menghubungi Haryadi untuk menggantikan dirinya sebagai dosen di ST3. Sejak itu Haryadi mengajar mata kuliah tersebut dan akhirnya juga beberapa mata kuliah lain di ST3. Setahun sekali Haryadi membimbing mahasiswa-mahasiswa ST3 mengadakan study tour dalam rangka perkuliahan-perkuliahan tersebut – tugas yang dulu diemban oleh sang Letkol.

Selama mengajar di ST3, Haryadi mendapat kesempatan untuk mempersiapkan SDM multi kompetensi para kandidat hamba Tuhan. Melalui beberapa mata kuliah yang diajarkannya, ia memberikan pengetahuan-pelajaran lain – misalnya hukum, politik, jurnalistik, dan lain-lain – untuk memperkaya wawasan dan kompetensi. Dari sinilah Haryadi mempersiapkan SDM para pemimpin Kristen masa depan secara intensif.

Peneguhan untuk semakin fokus di dunia pendidikan (PAK) dipertajam selama menempuh kuliah S-3 – lagi-lagi – di jurusan pendidikan di Asia Baptist Graduate Theological Seminary (ABGTS). Sebelumnya, Haryadi pernah mengambil kuliah D.Min di sebuah STT, namun tidak bisa melanjutkan karena tidak mempunyai cukup biaya. Namun justru, pada waktu gempa besar melanda Yogyakarta (2006), Haryadi mendapat berkat keuangan. Maka Haryadi yang sudah gagal kuliah itu pun segera masuk ke ABGTS. Kali ini Tuhan memberi kesempatan kuliah di program yang pas dengan panggilannya, Th.D in RE (Religious Education). Sekarang sedang menyelesaikan disertasi.

Pelayanan Pendidikan-Pelatihan SDM Kristen Haryadi Baskoro & Partners merupakan kristalisasi dan pengembangan lebih sistematis dari berbagai pelayanan yang sudah sekian lama dilakukan Haryadi sejak awal menekuni dunia pelayanan pendidikan. Tahun 2010, dengan diluncurkannya pelayanan ini, Haryadi memantapkan diri untuk lebih berkonsentrasi pada bidang panggilan pelayanan ini.

MELAYANI BERSAMA ADIK KELAS

Setelah malang melintang di dunia pelayanan, Haryadi menjumpai, melihat, dan merasakan sendiri banyaknya tim pelayanan yang bubar. Ia sendiri pernah mengalami masa-masa solid dan masa-masa berpisah dengan rekan-rekan hamba Tuhan. Faktor terjadinya perpecahan dan perpisahan itu sendiri banyak. Tidak selalu karena masalah konflik. Terkadang juga karena kehendak Tuhan, sehingga tim-tim pelayanan yang sudah sekian lama bersatu harus berpisah untuk pengembangan pelayanan baru.

Haryadi sadar bahwa hanya ada satu jenis ”tim” yang kepadanya Tuhan secara khusus berjanji dan memerintahkan supaya tidak ada yang bisa/boleh memisahkannya, kecuali maut. Tim itu adalah pasangan suami-istri. Karena itulah, pada saat diresmikan dalam  pertunangan kudus, Haryadi Baskoro dan Livy Laurens sekaligus meresmikan berdirinya HL MINISTRY (lihat www.hlministry.wordpress.com).

Tak kebetulan kalau Livy Laurens adalah adik kelas Haryadi, baik di STII (MACE) maupun di UGM (pasca sarjana ilmu budaya). Bahkan mereka berdua sempat duduk sekelas dalam sebuah kuliah di STII, yaitu ketika kelas MACE yang digabung dengan kelas D.Min (Haryadi sempat kuliah di program D.Min STII sebelum masuk di S-3 STBI/ABGTS). Pelayanan Haryadi bersama adik kelasnya ini adalah pelayanan yang bersifat kekal, abadi. Karena itu dari HL MINISTTRY kemudian berkembang pelayanan-pelayanan yang lebih kompleks seperti HL-LITERATURE (www.hlliterature.wordpress.com) dan juga HL-FOR ART (www.hlforart.wordpress.com).

Kontak untuk pelayanan HBCE

–         Email: haryadibaskoro@yahoo.com

–         HP: 0815 785 90 387

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: