ABOUT HBCE

LATAR BELAKANG

Sejak sekitar 1996, Haryadi Baskoro telah mengembangkan pelayanan berkotbah (preaching) dan mengajar (teaching). Sampai 2006, Haryadi telah berkotbah dan mengajar untuk segmen kaum muda dan para pemimpin dari berbagai gereja (interdenominasi). Sedangkan beban untuk membina anak-anak Kristen baru muncul belakangan setelah pada 2011 ia menulis buku tentang jurnalisme untuk anak Sekolah Minggu (diterbitkan Penerbit Andi).

Sebagai peneliti dan penulis, selama rentang waktu 1996-2006 itu Haryadi menemukan beberapa masalah besar dalam sumber daya manusia (SDM) para pemimpin, para pemuda, dan anak-anak Kristen. Pertama, para pemimpin Kristen (pendeta, hamba Tuhan, pendidik Kristen) bermasalah dalam: (1) kurang mengembangkan multi kompetensi pelayanan, hanya berkompetensi di bidang rohani saja, (2) cenderung sangat pragmatis, tidak idealis, dan bahkan oportunistik, (3) kepekaan dan keterlibatan sosial rendah, serta cenderung menjadi ”jago kandang” yang tidak berkarya dan berdampak keluar lingkup kekristenan, (4) terjerat dalam ”politik pelayanan” yang kapitalistik, dan (5) tidak bisa bersinergi satu sama lain, justru sering berkontravensi dan berkonflik dengan sesama pemimpin.

Kedua, pemuda Kristen masa kini bermasalah dalam hal-hal (1) kurang mengutamakan kekudusan, (2) kurang kritis dan smart sehingga menjadi konsumen rohani korban kepentingan para pemmpin oportunis, (3) spiritualitasnya tidak idealis karena sangat pragmatis, oportunis, dan terlalu terkooptasi dalam kultur pop yang tidak filosofis, (4) kepekaan, kepedulian, dan keterlibatan sosial rendah, (5) tidak dikader menjadi pemimpin agen pembaharu gereja dan masyarakat.
Ketiga, anak-anak Kristen juga bermasalah dalam hal-hal (1) pertumbuhan yang tidak seimbang antara spiritualitas dan intelektualitas, (2) kurang dikader sebagai kandidat pemimpin pembaharu masa depan, (3) kepedulian dan keterlibatan sosial rendah.

Kebangkitan pemimpin, pemuda, dan anak Kristen tidak terjadi karena lemahnya Pendidikan Kristen (Christian Education) di gereja maupun di lembaga pendidikan tinggi teologia. Pertama, gereja belum menjadi the classroom church yang mengkader SDM mereka. Gereja cenderung menjadi alat kepentingan politik dan kapitalisme pelayanan para pemimpin (penguasa) gereja. Gereja tidak berfokus pada misi sehingga tidak berkonsentrasi mengkader para pemimpin visioner dan misioner.

Kedua, sekolah-sekolah tinggi teologia (STT) juga belum menjadi base camp untuk mengkader para pemimpin. STT juga cenderung menjadi alat kepentingan politik dan kapitalisme pelayanan. Input pendidikan STT belum merupakan kader-kader terbaik. Sistem pendidikan STT konvensional, meladeni kepentingan pemerintah dan bukannya didisain untuk membangkitkan para pembelajar yang kritis, smart, dan kreatif.

VISI HBCE

Terkait dengan keprihatinan mengenai kondisi-kondisi di atas, Tuhan mengimpartasikan visi pelayanan kepada HBCE Ministry sebagai berikut.

”Menjadi partner gereja dan partner lembaga pendidikan Kristen untuk mendidik dan melatih SDM (Sumber Daya Manusia) dalam ranah spiritual dan intelektual bagi para pemimpin, pemuda, dan anak Kristen supaya bangkit menjadi agen-agen pembaharu gereja dan masyarakat/bangsa.”

BENTUK PELAYANAN PENDIDIKAN HBCE

Pelayanan HBCE Ministry pada dasarnya merupakan (1) Pendidikan Kristen (Christian Educaiion) dan (2) Pedidikan Non-formal, (3) Pendidikan Transformatif

  • PENDIDIKAN KRISTEN (CHRISTIAN EDUCATION, CE)

Mengenai hal ini HBCE Ministry memakai konsep Werner Graendorf (1981) yang mendeskripsikan CE sebagai pendidikan yang (1) berdasarkan Alkitab, (2) berpusatkan Kristus, (3) digerakkan oleh Roh Kudus, (4) dilakukan sebagai proses belajar-mengajar untuk membimbing pertumbuhan rohani, (5) dilakukan dalam bentuk pengajaran kontemporer yang relevan dengan kekinian, yang berfungsi untuk (6) membawa peserta didik memahami dan mengalami rencana dan kehendak Tuhan dalam setiap aspek hidup mereka, dan (7) berfungsi memperlengkapi peserta didik supaya bisa menjalankan pelayanan yang efektif,, dengan dasar dasar filosofis bahwa (8) Kristus sebagai Guru Agung dan teladan utama, (9) perintah untuk mencetak murid-murid yang dewasa.

  • PENDIDIKAN NON FORMAL

Maksudnya, pelayanan pendidikan HBCE Ministry merupakan bentuk pendidikan non-formal yang menurut Pasal 1 ayat (12) UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

Karakteristiknya, menurut Pasal 26 dari UU tersebut adalah: (1) berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal, (2) diadakan dalam rangka mengembangkan konsep pendidikan sepanjang hayat atau life long education, (3) mengembangkan potensi dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional, (4) dapat berbentuk kursus dan pelatihan, (5) hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga pendidikan yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintaj daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan (SNP).

  • PENDIDIKAN TRANSFORMATIF

Menurut Darmaningtyas dalam Ma’arif (2005) pendidikan transformatif adalah model pendidikan yang bersifat kooperatif terhadap segenap kemampuan peserta didik untuk mengembangkan proses berbikir yang lebih bebas dan kreatif. Dalam hal ini, potensi-potensi individual tidak dimatikan dengan bentuk pendidikan yang bersifat penyeragaman dan pemberian sanksi-sanksi. Peserta didik dibiarkan berkembang secara wajar dan manusiawi. Pendidikan harus bebas dari penindasan, ketimpangan, dominasi, eksploitasi. Pendidikan harus menekankan kesetaraan, saling memahami, memiliki kepekaan, dan kebebasan. Tujuan akhirnya adalah supaya peserta didik memiliki pengetahuan yang kritis (critical knowledge).

STRATEGI PEMBELAJARAN

Pendidikan HBCE Ministry dilakukan dengan strategi pembelajaran kelompok dan individual

  • STRATEGI PEMBELAJARAN KELOMPOK

Pembelajaran diberikan secara kelompok, misalnya dalam bentuk seminar, lokakarya (workshop), pelatihan, kursus, dan sebagainya.

  • STRATEGI PEMBELAJARAN INDIVIDUAL

Pembelajaran diberikan secara individual, dalam bentuk pendampingan dan konsultasi pribadi. Misalnya, mendampingi klien supaya dapat membuat buku ajar, dan dapat mempersiapkan bahan-bahan ajar (buku pelajaran rohani, film kesaksian, slide show, dan alat-alat pembelajaran)

SASARAN

Sasaran pendidikan HBCE Ministry adalah (1) pemimpin, (2) pemuda, dan (3) anak-anak Kristen dengan penjelasan sebagai berikut.

  • PEMIMPIN KRISTEN mencakup para pendeta, hamba Tuhan, para kandidat hamba Tuhan (mahasiswa seminari), pemimpin pelayanan-pelayanan khusus, dan pendidik Kristen.
  • PEMUDA KRISTEN mencakup kaum muda gereja-gereja lokal dan para mahasiswa Kristen di kampus-kampus umum.
  • ANAK KRISTEN mencakup anak-anak Sekolah Minggu dan para guru/pendidik anak Kristen.

OUTPUT PENDIDIKAN (STANDAR KOMPETENSI)

Pelayanan pendidikan HBCE Ministry adalah pendidikan nonformal yang berbasis kompetensi. Maksudnya, setelah mengikuti pendidikan ini diharapkan para peserta didik memiliki kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan visi pelayanan HBCE Ministry sebagai berikut:

  • PEMIMPIN KRISTEN yang mempunyai kompetensi:
    • Spiritualitas dan intelektualitas unggul
    • Idealisme dalam pelayanan
    • Pembaharu gereja dan masyarakat
    • Profesional yang berintegritas
    • Sinergitas pelayanan
  • PEMUDA KRISTEN yang mempunyai kompetensi:
    • Kekudusan dan integritas
    • Kecerdasan dan sikap kritis
    • Spiritualitas yang idealistik
    • Pembaharu gereja dan masyarakat
    • Kepemimpinan masa depan yang kreatif
  • ANAK KRISTEN yang mempunyai kompetensi:
    • Spiritualitas dan intelektualitas
    • Kepemimpinan yang kreatif
    • Pembaharu gereja dan masyarakat

MATERI PEMBELAJARAN HBCE

Untuk mencapai kompetensi-kompetensi yang diharapkan, pendidikan dan pelatihan HBCE Ministry memberikan beberapa meteri pembelajaran yang relevan sebagai berikut.

MATERI UNTUK PEMIMPIN KRISTEN

Kompetensi 1: Spiritualitas dan intelektualitas unggul

  • Pemimpin dan Kehidupan Doa
  • Pemimpin dan Peperangan Rohani
  • Wawasan Hukum
  • Wawasan Politik
  • Wawasan Entrepreneurship
  • Wawasan Sosial Budaya
  • Wawasan Keagamaan non Kristen
  • Riset untuk Pelayanan
  • Riset untuk Pemetaan Rohani
  • Ketrampilan Jurnalistik

Kompetensi 2: Idealisme dalam pelayanan

  • Pelayanan yang Visioner dan Misioner
  • Kualifikasi Hamba Tuhan
  • Bahaya Pragmatisme dalam Pelayanan
  • Bahaya Kapitalisme dalam Pelayanan
  • Bahaya Pengaruh Kultur Pop dalam Pelayanan
  • Pelayanan Original Vs Pelayanan ”Copy-Paste

Kompetensi 3: Pembaharu gereja dan masyarakat

  • Karakteristik Pemimpin Pembaharu Gereja
  • Karakteristik Pemimpin Pembaharu Masyarakat
  • Pemimpin Kristen dan Media
  • Mengidentifikasi Titik Kontak Budaya untuk Misi
  • Pemimpin Pendidik
  • Gereja Misioner sebagai Pusat Pengkaderan Pemimpin Masa Depan
  • Evaluasi Gereja: Otokritik Kristen

Kompetensi 4: Profesional yang berintegritas

  • Marketing Pelayanan yang Beretika
  • Hamba Tuhan dan Uang
  • Hard Skill dan Soft Skill Hamba Tuhan

Kompetensi 5: Sinergitas pelayanan

  • Akar Perpecahan Gereja
  • Membangun Sinergi Pelayanan
  • Sinergi Pelayanan antara Pemimpin dan Pasangan Hidupnya

MATERI UNTUK PEMUDA KRISTEN

Kompetensi 1: Kekudusan dan integritas

  • Bahaya Kenajisan
  • Bahaya Satanisme dan Kenajisan
  • Strategi Hidup Kudus
  • Berpacaran secara Kudus dan Visioner

Kompetensi 2: Kecerdasan dan sikap kritis

  • Pemuda Korban Pembodohan Pemimpin
  • Pemuda Korban Pembodohan Politik Pelayanan
  • Pemuda Korban Pembodohan Kapitalisme Pelayanan
  • Sikap Kritis yang Dewasa
  • Kecerdasan Emosional Kristen
  • Kecerdasan Spiritual Kristen

Kompetensi 3: Spiritualitas yang idealistik

  • Bahaya Spiritualitas tanpa Kekudusan
  • Bahaya Spiritualitas yang Pragmatis
  • Bahaya Pop Kultur dalam Spiritualitas
  • Satanisme dan Spiritualitas Kaum Muda

Kompetensi 4: Pembaharu gereja dan masyarakat

  • Pemuda Pembaharu Gereja
  • Pemuda Pembaharu Bangsa
  • Dunia Kampus: Gerakan Pemuda Kristen
  • Dunia Kerja: Misionaris di Markerplace
  • Pemuda dan Perpecahan Gereja

Kompetensi 5: Kepemimpinan masa depan yang kreatif

  • Kristen Kreatif
  • Kepemimpinan Orang Muda
  • Menemukan Talenta dan Karunia Tersembunyi

MATERI UNTUK ANAK KRISTEN

Kompetensi 1: Spiritualitas dan intelektualitas

  • Menuntun Pertumbuhan Rohani Anak
  • Ketrampilan Jurnalistik Dini (Early Journalism)
  • Ketrampilan Entrepreneurship Dini (Early Entrepreneurship)

Kompetensi 2: Kepemimpinan yang kreatif

  • Menemukan Talenta dan Karunia
  • Kepemimpinan Berkarakter
  • Kepemimpinan yang Kreatif

Kompetensi 3: Pembaharu gereja dan masyarakat

  • Mengenal Indonesia
  • Mengenal Masyarakat Lokal

PARTNER PELAYANAN

Membangkitkan para pemimpin, pemuda, dan anak Kristen Indonesia serta mengembangkan SDM mereka adalah pekerjaan besar dan kompleks. Karena itu, Haryadi Baskoro memberi diri untuk bekerja dengan semua hamba Tuhan dan lembaga pelayanan yang memiliki visi dan perspektif pelayanan yang sejalan.

Sejauh ini, HBCE Ministry telah bekerjasama dengan beberapa hamba Tuhan dan lembaga pelayanan, antara lain:

  • Seminari / Sekolah Tinggi Teologia: STT Tawangmangu, STT Pelita Bangsa Jakarta, STAK Terpadu Pesat Salatiga, STT Doulos, STII Yogya dan Palu.
  • Lembaga Pelayanan: Belsasar Leadership Training Yogya, Grace Soteria Surabaya, Duta Pemulihan Yogya, Dunamis Yogya, Kawan Sekerja Kristus Yogya, Pelayanan Anak Future Centre Pesat Salatiga, Early Journalism Ministry.
  • Gereja-gereja: Yogyakarta (GKII, GMII, JKIRK, GKJ, GEKINDO, GBI), Surabaya (GBI Faith, HKBP), Palu (GBI Wordward), Ambon (GPPS), Dobo Maluku Tenggara (GBI Eben Haezer), Kalimantan Barat (GKII), Jambi (GISI).
  • Lembaga Penerbit: ANDI Yogya
  • Jaringan: FGBMFI, JDS-MDK Yogya dan Ambon, MKI (Masyarakat Kristiani Indonesia)
  • Hamba-hamba Tuhan dari berbagai denominasi gereja.

BOOKS

Dalam rangka mengembangkan bahan ajar untuk pelayanan HBCE, Haryadi telah menerbitkan beberapa buku  yang dirangkumkan dari seminar-seminar yang sudah pernah diberikannya di Indonesia.

Buku: ”Christan Citizenship: Pengetahuan Kewarganegaraan untuk Masyarakat Kristen Indonesia”. Penulis: Haryadi Baskoro. Penerbit: HBCE Ministry, 2010. Materi: Pendahuluan; (1)  Nasionalisme, (2) Negara, (3) Demokrasi, (4) Hak Asasi Manusia, (5) Pancasila, (6) UUD 1945, (7) Wawasan Nusantara, (8) Ketahanan Nasional, (9) Politik dan Strategi Nasional, (10) Pemerintahan.

Ketika dijebloskan di penjara Filipi, Paulus dan Silas tak punya kesempatan untuk membela diri. Dalam situasi itu, jalur doa menjadi pembuka kebuntuan. Tuhan pun memberi mujizat berupa gempa yang tak wajar (unusual earthquake) yang membuat mereka bebas sekaligus bisa memenangkan jiwa (Kis 16:19-40).

Tetapi ketika mengalami tekanan pada kali lain, Paulus menempuh jalur ”advokasi” untuk membela diri supaya tidak jadi dihukum (Kis 22:23-29). Hal itu bukan berarti Paulus mengesampingkan doa, tetapi karena ia memiliki pengetahuan luas tentang masalah kewarganegaraan. Sehingga, ketika ada peluang bernegoisasi, Paulus pun berjuang di ranah hukum dan kemerdekaan pun diperolehnya.

Karena itu penting bagi masyarakat Kristen di Indonesia – jemaat dan para pemimpin – untuk memiliki pengetahuan luas tentang masalah kewarganegaraan. Bukan hanya untuk memperjuangkan hak-hak asasinya, tetapi juga supaya berhikmat dan taktis dalam pelayanan. Bahkan bisa turut berkontribusi memajukan bangsa ini. Sejarah Indonesia mencatat bagaimana berkat tokoh-tokoh seperti Mr. Alexander Andries Maramis (1897-1977) dan Sam Ratulangi (1890-1949) maka Pancasila ditegakkan. Mereka adalah para pemimpin Kristen yang berjuang supaya sila pertama berbunyi ”Ketuhanan Yang Maha Esa”. Tanpa perjuangan mereka yang paham akan masalah-masalah kewarganegaraan namun berhati misi ini, sejarah kekristenan di Indonesia bisa jadi tak seberkembang sekarang.

Buku ini adalah pengembangan dari bahan ajar mata kuliah kewarganegaraan yang penulis ajarkan di beberapa seminari theologia seperti Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia (2006), STT Tawangmangu (sejak 2006-sekarang), dan STT Getsemani. Bahan ajar ini juga sudah penulis sampaikan dalam bentuk seminar-seminar pelatihan untuk para hamba Tuhan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Buku: ”Smart for Christ: Berakar, Bertumbuh, Berdampak”. Penulis: Haryadi Baskoro. Penerbit: HBCE Ministry, 2010. Materi: Pendahuluan; Bagian I. Kehidupan Rohani: (1) Perpalingan dan Pengkudusan, (2) Bebas dari Cengkeraman Iblis, (3) Hidup Menyembah, (4) Doa dalam Iman Kristen; Bagian II. Pemahaman Alkitab: (5) Mengenal Tuhan; (6) Kristus dan Keselamatan; (7) Roh Kudus bagi Orang Percaya; (8) Misi Gereja di Tengah Masyarakat Majemuk; Bagian III. Kompetensi yang Tajam: (9) Pembelajar dan Profesional, (10) Cerdas dan Kreatif; Bagian IV. Multi Soft Skill: (11) Wawasan Entrepreneurship, (12) Wawasan Manajemen, (13) Wawasan Hukum; Bagian V. Visi dan Paradigma: (14) Panggilan Illahi; (15)Pekerjaan Sekuler sebagai Pelayanan Sepenuh Waktu; (16) Kesehatan dan Keluarga sebagai Pilar-Pilar Visi.

Kuliah Agama Kristen seringkali didisain dan disajikan kurang menarik. Kurang relevan dan solutif bagi para peserta didik. Terkesan kuno, kolot, dan tidak aplikatif dalam konteks kekinian.

Materi dalam buku ini merupakan bahan ajar Kuliah Agama Kristen yang telah penulis berikan selama kurang lebih 10 tahun di beberapa kampus umum di Yogyakarta. Bahan ajar ini dikembangkan sedemikian rupa dalam rangka menjadikan kuliah Agama Kristen menarik, relevan, solutif, aplikatif, dan inspirasional bagi para mahasiswa. Karena sifatnya yang populer, bahan ini juga telah diseminarkan untuk pembinaan kaum muda di gereja-gereja dan komunitas-komunitas Kristen lainnya.

Konsep dasarnya adalah memberikan pembinaan rohani sehingga para mahasiswa (kaum muda) mengalami 3B: Berakar, Bertumbuh, Berdampak. Berakar berarti memiliki fondasi kehidupan rohani yang kuat. Bertumbuh berarti mengalami perkembangan multi kompetensi, mulai dari kompetensi ”teologis”, kompetensi sesuai bidang profesinya, dan kompetensi yang bersifat soft skill. Berdampak berarti ”berkarya keluar”, tidak menjadi eksklusif dan sekedar menjadi ”jago kandang”. Generasi muda Kristen yang berdampak adalah agen-agen pembaruan masyarakat, garam dan terang dunia.

Buku: “Tips Praktis Menulis Renungan Harian”. Penulis: Haryadi Baskoro & Claudia Oki Hermawati. Penerbit: Early Journalism Ministry, 2010. Materi buku: Pengantar, (1) Menulis Renungan Harian, (2) Ketrampilan Dasar Mengarang, (3) Menuliskan Kotbah Ekspositori, (4) Menjabarkan Visi, (5) Menulis Feature, (6) Menulis Opini

Sangat diperlukan pelatihan khusus untuk menulis renungan harian. Hal itu mengingat peran renungan harian yang sangat vital bagi pertumbuhan rohani umat. Renungan harian juga harus digarap serius karena jika tidak benar – misalnya memberikan kupasan pengajaran yang menyesatkan – akan berakibat fatal bagi pertumbuhan rohani umat.

Pelatihan penulisan renungan harian yang baik adalah pelatihan yang berbasis kompetensi. Artinya, setelah mengikuti pelatihan itu, peserta memiliki kompetensi-kompetensi (kecakapan, kemampuan, keahlian) tertentu yang terukur. Hal itu sangat penting sebab terkadang pelatihan menulis tidak mempunyai target output yang jelas.

Early Journalisme Ministry (EJM) memberikan pelatihan menulis renungan harian secara intensif. Buku ini merupakan salah satu bahan ajarnya. EJM juga memberikan pelatihan menulis bagi anak-anak Sekolah Minggu. ”Early journalism” itu sendiri menunjuk pada kegiatan jurnalisme anak dan juga kegiatan tulis-menulis bagi para pemula

Buku: “Panggilan Menjadi Agen-Agen Transformasi”. Penulis: Haryadi Baskoro & Livy Laurens. Penerbit: Pena Persada, Yogyakarta, 2009. Materi buku: (1) Pendahuluan, (2) Visi Transformasi, (3) Teologia Transformasi: Pelayanan Holistik Gereja, (4) Berdoa dan Bekerja: Tampilnya para Agen, (5) Strategi para Agen, (6) Multi Kompetensi para Agen, (7) Pendidikan dan Pelatihan para Agen.

Dalam buku ini dijelaskan bagaimana Gereja diberi dua tugas yaitu mandat pembangunan rohani (penginjilan) dan mandat pembangunan budaya. Karena itu Gereja perlu mengembangkan pelayanan yang holistik yang mencakup penginjilan dan pelayanan sosial. Dengan begitu Gereja dapat mentranformasi masyarakat secara menyeluruh.

Dalam rangka mandat dan pelayanan holistik itu, Gereja membutuhkan seluruh SDM-nya menjadi agen-agen transformasi. Untuk itulah Gereja perlu melakukan pengkaderan yang berbasis pendidikan (PAK) yang bersifat multi kompetensi. Sehingga, baik hamba Tuhan maupun jemaat mempunyai kapasitas lengkap untuk menjadi pembaharu-pembaharu masyarakat.

Data menunjukkan bahwa transformasi yang bersifat menyeluruh (holistik) sudah pernah dan sedang terjadi di berbagai belahan dunia. Ada kota-kota – seperti Almalonga, Cali, Misoram, dan lain-lain – yang benar-benar mengalami transformasi total. Perubahan itu tak lepas dari faktor doa dan kerja yang dilakukan oleh para agen pembaharu masyarakat yang cakap secara rohani dan intelektual.

Buku: “Pendidikan Multi Kompetensi Gereja Transformator”. Penulis: Haryadi Baskoro & Livy Laurens. Penerbit: HL Ministry, Yogyakarta, 2009. Materi Buku: (1) Pendahuluan, (2) Produk-produk SDM Gereja Masa Kini, (3) Pertumbuhan Gereja: Berdampak Keluar, (4) Pendidikan (PAK) Multi Kompetensi di Gereja Lokal, (5) Produk Unggulan Gereja: Agen-agen Transformasi Multi Kompetensi, (6) Unsur-unsur Pendidikan (PAK) di Gereja Lokal, (7) Gereja Pengutus Agen-agen Transformasi, (8) Menjadi Gereja Model.

Buku ini dimulai dari ungkapan keprihatinan akan fakta tentang SDM di gereja-gereja lokal. Orang-orang Kristen masa kini sering hanya berkualitas sebagai berikut (1) sekedar rajin ke gereja, kekristenan sebagai rutinitas, (2) tidak punya visi, hanya menjalani siklus hidup, (3) tipe konsumen, pencari berkat yang oportunistik, (4) dikuasai fanatisme sempit, (5) bertumbuh tidak seimbang, (6) hanya menjadi ”jago kandang, eksklusif, (7) sekedar beprestasi atau gagal dalam pekerjaan duniawi.

Padahal, Gereja (orang percaya) dipanggil untuk tidak sekedar hidup dan diberkati di dunia. Namun, diberi tugas untuk mentransformasi dunia secara rohani dan kultural. Karena itu, sistem pendidikan (PAK) di gereja harus diarahkan untuk mengkader para pemimpin dan jemaat sebagai SDM-SDM yang mampu menjalankan visi-misi itu.

Dari sinilah perlu dikembangkan sistem PAK di gereja yang mempersiapkan SDM Kristen secara komprehensif. Hal itu bukan berarti merubah gereja menjadi lembaga pendidikan sekuler. Tidak. Tetapi, intinya, pengkaderan multi kompetensi untuk mencetak SDM-SDM Kristen yang siap menjadi agen-agen transformasi bangsa.

Buku: “Successful Christian Visionaries”. Penulis: Haryadi Baskoro dan Livy Laurens. Penerbit: Pena Persada, Yogyakarta, 2007. Materi buku: Bagian I Hidup dengan Visi: (1) Orang Kristen Visioner, (2) Karakteristik Visi Kristen, (3) Menangkap Visi, (4) Ukuran Sukses. Bagian II Strategi Menjadi Visioner Sukses: (5) Bangunan Visi, (6) Fondasi: Iman pada Yesus, (7) Fondasi: Kehidupan Rohani, (8) Pilar-Pilar Visi, (9) Dari Visi ke Perencanaan, Conclusion, Special Testimony of Livy Laurens.

Buku ini mengkritisi kehidupan Kristen yang acapkali hanya mengikuti/menjalani siklus hidup – lahir, sekolah, kuliah, pacaran, bekerja, menikah, beranak-cucu, mengejar kekayaan, membesarkan anak, pensiun, mati. Jika hidup manusia – bahkan orang Kristen – hanya berkisar seputar cari makan dan menikah (meskipun dengan cara-cara ‘canggih’ dan berbudaya tinggi), tidak ada bedanya dengan hewan!

Buku ini mengimpartasikan gaya hidup baru yang visioner. Hidup dengan tujuan illahi. Di sini dijelaskan apa perbedaan visi dangan ambisi dan idealisme. Dijelaskan pula apa ukuran sukses orang Kristen, yaitu jika dirinya mengerjakan dan menyelesaikan visi yang diberikan Tuhan.

Pada bagian kedua dijelaskan aspek praktis dari strategi hidup menjadi visioner. Banyak orang visioner mengalami kegagalan karena tidak berhikmat dalam mewujudkannya. Sementara banyak orang Kristen meraih “sukses secara duniawi” namun sejatinya gagal karena tidak visioner. Membangun keberhasilan hidup visioner adalah seperti membangun sebuah bangunan yang kokoh. Harus ada fondasi dan pilar-pilar yang kuat. Namun dasar utamanya haruslah hidup di dalam Kristus. Melalui rancang bangun ini juga dapat dipahami bahwa sukses mengembangkan SDM (pendidikan, kompetensi, termasuk kesehatan) dan sukses bekerja dan berumahtangga bukanlah tujuan akhir. Semua itu adalah pilar-pilar supaya kita bisa mengembangkan visi panggilan pelayanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: