SEMINAR DOA & SYAFAAT

Biuku Mezbah Doa Para Pemimpin Karya Haryadi Baskoro, Penerbit AndiSEMINAR DOA

Haryadi Baskoro bersama rekan-rekan pendoa dan hamba-hamba Tuhan yang memiliki spesialisasi dalam pelayannan pelepasan terpanggil untuk memberikan seminar-seminar tentang doa yang Alkitabiah. Bahan-bahan ajar diambil dari buku-buku karya Haryadi Baskoro berjudul “Mezbah Doa Para Pemimpin” dan “Doa Mengatasi Bencana Alam” yang diterbitkan Penerbit Andi. Untuk seminar, kontak di haryadibaskoro@yahoo.com

Cuplikan pokok-pokok bahasan tentang Akhir Jaman, diambil dari buku karya Haryadi Baskoro, “Mezbah Doa Para Pemimpin” dan “Doa Mengatasi Bencana Alam”.

DOA PERMOHONAN

Salah satu cara untuk menyatakan otoritas illahi atas keganasan alam adalah dengan menaikkan doa-doa permohonan. Kita bisa berdoa supaya Tuhan menolong kita saat menghadapi bencana. Kita bisa memohon supaya Tuhan menyatakan mujizat ajaib yang mengubahkan alam. Kita juga bisa memohon supaya Tuhan memberikan hikmat, kepandaian, dan kecerdasan untuk menghadapi tantangan alam.

Buku Doa Mengatasi Bencana Alam karya Haryadi Baskoro, Penerbit AndiSalah seorang nabi yang menghadapi keganasan alam adalah Yunus. Pertama, kapal yang ditumpanginya hampir hancur karena dihantam badai besar (Yun 1:4). Kedua, setelah melalui undian, Yunus dilempar ke dalam lautan ganas (Yun 1:15). Ketiga, Yunus berada dalam perut ikan besar selama tiga hari (Yun 1:17).

Banyak kritikus modern menyangsikan kebenaran sejarah dari pengalaman Yunus dimakan ikan. Tetapi, beberapa fakta berikut ini meneguhkan bahwa peristiwa semacam itu bisa benar-benar terjadi. Pertama, dalam surat kabar Daily Mail (14 Desember 1928) dilaporkan bahwa 12  penduduk Birmingham berhasil memasuki bangkai ikan paus besar melalui mulutnya dan menemukan sebuah rongga besar dalam perut ikan itu. Kedua, dalam laporan Sir Francis Fox berjudul ”Sixty three Years of Enginering” ditulis tentang ikan-ikan paus yang biasa memakan benda berdiameter 2,5 meter lebih. Ketiga, dalam buku karya Frank Bullen berjudul ”The Cruise of the Cachalot” ditulis bahwa ia sering melihat ikan-ikan besar yang memuntahkan isi perutnya ketika akan mati. Volume muntahan itu sekitar 2,5 x 2 x 2 meter. Keempat, Francis Fox melaporkan peristiwa mirip Yunus yang teradi pada bukan Februari 1891. Waktu itu kapal penangkap ikan Star of the East menangkap ikan-ikan paus besar. Ketika para nelayan membelah seekor paus, mereka menemukan seorang bernama James Bartley dalam perut ikan itu dalam keadaan pingsan. Setelah siuman, Bartley menceritakan bagaimana ia telah dimakan ikan itu.

Di tengah keganasan alam di dasar lautan, Yunus berseru kepada Tuhan, memohon pertolongan-Nya. Doanya dari dalam perut ikan: ”Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku” (Yun 2:2).

Doa permohonan nabi Elia menggerakkan Tuhan untuk menyatakan mujizat ”natural-supranatural”. Di gunung Karmel, Tuhan menjawab doa permohonan Elia. Ia mengirimkan api dari langit yang menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah, dan bahkan air dalam parit di sekelilingnya (1 Raj 18:38). Api yang turun itu bersifat natural, tetapi asalnya bersifat supranatural. Itulah otoritas atas alam yang terjadi sebagai jawaban doa permohonan.

Doa Permohonan, Prosedur Standar

Yesus mengajar bahwa doa permohonan adalah prosedur standar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dari Tuhan. Alkitab versi ”Penuntun Hidup Berkelimpahan” memberi komentar atas Injil Matius 7:7-11 sebagai berikut. Pertama, ”meminta” mengandung pengertian adanya kesadaran akan kebutuhan dan kepercayaan bahwa Tuhan mendengar permintaan kita. Kedua, ”mencari” berarti memohon dengan sungguh-sunguh yang disertai dengan ketaatan pada kehendak Tuhan. Ketiga, ”mengetok” berarti tekun dalam menghampiri Tuhan sekalipun Tuhan tidak memberi jawaban dengan segera. Keempat, prinsip ”meminta-mencari-mengetok” mengandung arti suatu usaha yang dilakukan terus-menerus.

Mengenai ketekunan dalam menaikkan doa permohonan, Yesus memberi dua perumpamaan. Pertama, perumpamaan tentang seorang sahabat yang tanpa malu meminta pertolongan kepada sahabatnya (Luk 11:5-8). Kedua, perumpamaan tentang seorang janda yang tiada henti memperjuangkan nasibnya di hadapan seorang hakim yang tidak adil (Luk 18:1-8).

Sehubungan dengan doa permohonan itu, Yesus sangat menghargai doa yang dinaikkan dalam kesehatian. Yesus berjanji: ”Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapaku yang di sorga” (Mat 18:19). Gereja (persekutuan orang percaya) yang tekun berdoa akan menerima banyak mujizat dari Tuhan.

Cek, Apa Tujuan Permohonan itu?

Doa sering tidak dijawab karena motivasinya salah. Yakobus mengingatkan: ”Kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak 4:3).

Mengapa Tuhan menjawab permohonan Elia dengan mengirim mujizat ”natural-supranatural” yang begitu dahsyat itu (api turun dari langit)? Kuncinya adalah motivasi doa itu sendiri. Elia meminta mujizat bukan untuk kepentingan dirinya, misalnya supaya ia menjadi terkenal, mendapat keuntungan materi, dan lain-lain. Motivasi doa permohonannya adalah semata-mata untuk memuliakan Tuhan. Hal itu jelas sebagaimana ucapan doa yang keluar dari mulutnya, disaksikan ribuan orang.

”Ya Tuhan, Tuhan Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Tuhan di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas Firman-Mulah aku melakukan segala perkawa ini. Jawablah aku, ya Tuhan, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui bahwa Engkaulah Tuhan, ya Tuhan, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali” (1 Raj 18:36-37)

Dalam pembahasan yang terdahulu telah dijelaskan bahwa tujuan pemberian orotitas atas alam adalah supaya nama Tuhan ditinggikan dan jiwa-jiwa diselamatkan. Ini pulalah yang harus melandasi motivasi doa-doa permohonan. Si pendoa harus bisa membuktikan bahwa tujuan hidup dan doanya adalah untuk kemuliaan nama Tuhan.

Mengubah Keputusan Tuhan

Bagaimana jika bencana alam yang terjadi merupakan kehendak atau rencana Tuhan, misalnya sebagai hukuman Tuhan atas dosa suatu komunitas tertentu? Doa yang tulus bisa mengubah keputusan Tuhan. Brother Andrew, seorang hamba Tuhan yang banyak melayani di negara-negara komunis, mengatakan demikian:

”Kita harus ingat bahwa rencana Tuhan bagi kita tidaklah dipahat di atas beton. Hanya karakter dan sifat Tuhan yang tidak dapat diubah; keputusan-keputusan-Nya dapat diubah…. Kita bisa saja meminta kepada Tuhan untuk mengubah pikiran-Nya. Tuhan selalu siap sedia mendengar bagian kisah kita, dan sekalipun Ia telah membuat rencana untuk melakukan sesuatu, Ia tetap terbuka untuk mengubah rencana-rencana-Nya itu di bawah suatu kondisi yang tepat.” (1990, hal 11)

Sebagai contoh adalah dibatalkannya rencana Tuhan untuk menghukum Niniwe karena segenap masyarakat berdoa untuk memohon belas kasihan (Yun 3). Contoh lainnya, pada tataran individu, adalah Hana (ibu Samuel). Sebelumnya, Tuhan sudah memutuskan bahwa Hana mandul, Tuhan sendiri yang menutup rahimnya (1 Sam 1:5-6). Namun, karena Hana berdoa memohon anak, Tuhan pun memberinya anak (Samuel). Bahkan, Tuhan memberi lagi 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan (1 Sam 2:19, 21).

Terjawabnya doa Hana sekali lagi menegaskan prinsip bahwa Tuhan menjawab permohonan yang berpusat pada kepentingan Tuhan. Hana meminta anak untuk memuliakan Tuhan. Ia bernazar bahwa anak yang diberikan Tuhan nantinya akan dipersembahkan kepada Tuhan menjadi hamba Tuhan (1 Sam 1:11). Nazar itu menunjukkan dasar motivasi doa yang benar.

Bagaimana seandainya bencana-bencana yang terjadi di Indonesia merupakan kehendak Tuhan, misalnya sebagai hukuman Tuhan atas kebobrokan bangsa ini? Paling tidak, seperti itulah nubuatan hamba-hamba Tuhan. Kalau benar demikian, kita bisa berdoa seperti bangsa Niniwe berdoa dan Tuhan akan mengubah keputusannya.

Jawaban yang Dahsyat

Mujizat-mujizat dahsyat tidak hanya terjadi pada jaman dulu saja. Pada sekitar tahun 1965, mujizat-mujizat ajaib terjadi di Nusa Tenggara Timur. Pada suatu hari, sebuah tim penginjilan menemukan suatu komunitas penganut kepercayaan tradisional yang menyembah berhala-berhala. Setelah tim itu memberitakan Injil, komunitas itu pun bertobat dan menjadi percaya kepada Yesus. Lalu mereka menyerahkan berhala-berhala untuk dimusnahkan. Yang luar biasa, Roh Kudus menyuruh mereka meletakkan patung-patung berhala dari kuningan milik mereka itu di tengah-tengah halaman yang luas. Setelah seorang anggota tim menaikkan doa permohonan, tiba-tiba petir dari langit menyambar dan membakar habis patung-patung tersebut.

DOA OTORITATIF

Otoritas supranatural atas alam dinyatakan dengan melancarkan doa-doa yang bersifat otoritatif. Maksud dari doa otoritatif adalah jenis doa yang melaluinya orang percaya melaksanakan kuasa Tuhan dengan cara memerintah. Doa semacam ini sering disebur sebagai ”doa iman” yang bersifat mengklaim sesuatu untuk menjadi kenyataan.

Dalam doa ini, kita tidak menaikkan permohonan, tetapi memperkatakan perkataan iman untuk menjadi kenyataan. Dalam menghadapi penyakit misalnya, kita tidak berdoa untuk memohonkan kesembuhan, tetapi kita berdoa dengan melancarkan kata-kata iman: ”Jadilah sembuh, dalam nama Yesus!”

Ketika perahu yang ditumpangi Yesus dan para murid diamuk badai, Yesus tidak menaikkan doa permohonan kepada Bapa supaya Bapa memberi pertolongan. Pada waktu itu Yesus melancarkan doa otoritatif. Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ”Diam! Tenanglah!” (Mrk 4:39). Mujizat pun terjadi, angin itu reda dan danau itu menjadi sangat teduh.

Apa yang dulu dilakukan oleh Yosua juga tergolong sebagai doa otoritatif. Meskipun itu juga merupakan sebuah doa permohonan (Yos 10:14), Yosua menciptakan mujizat itu secara otoritatif. Yosua berkata kepada alam: ”Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lebah Ayalon!” (Yos 10:12). Mujizat alam pun terjadi, bumi berheti berputar pada porosnya sehingga hari tidak bergerak. Mujizat ini tercatat sebagai sesuatu yang luar biasa di sepanjang sejarah.

Elia juga melancarkan doa otoritatif pada saat mengendalikan gejala alam. Ia berkata: ”Demi Tuhan yang hidup, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kukatakan!” (1 Raj 17:1).

Rancang Bangun Doa Otoritatif

Prinsip penting dalam doa otoritatif ini adalah keyakinan bahwa perkataan iman orang percaya sangat besar kuasanya. Alkitab menekankan pentingnya kuasa perkataan itu. Dalam Amsal dikatakan bahwa ”lidah” berkuasa menentukan kehidupan (Ams 18:21). Yakobus menulis bahwa meskipun kecil ”lidah” mempunyai kekuatan besar, seperti api kecil yang bisa membakar hutan (Yak 3:5). Ucapan kita menentukan apakah kita akan dibenarkan atau akan dihukum (Mat 12:37). Orang yang sempurna adalah orang yang tidak bersalah dalam perkataannya (Yak 3:2).

Bagaimana perkataan orang percaya bisa memiliki kuasa yang sangat besar? Pertama, kita adalah ”manusia super” karena ditinggali oleh Roh Tuhan (1 Kor 6:19). Dalam diri kita ada kuasa illahi, urapan Roh Kudus, kekuatan supranatural dari Kristus. Ucapan orang percaya memiliki kekuatan supranatural. Kedua, orang percaya mempunyai iman yang tumbuh dari Firman Tuhan (Rom 10:17). Yesus mengajarkan bahwa apa yang dikatakan dengan iman, asal tidak ragu dan percaya, memiliki kuasa untuk menciptakan mujizat. Kata Yesus: ”Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya” (Mrk 11:23). Itulah formula doa otoritatif.

Dalam doa permohonan, orang percaya mengadukan masalah yang dihadapinya kepada Tuhan. Dalam doa otoritatif, kita bersama Tuhan (Roh Kudus) melancarkan kuasa illahi untuk menciptakan mujizat. Ini bukan berarti kita menjadi Tuhan. Kita diberi urapan Roh dan kuasa Firman untuk menyatakan mujizat untuk kemuliaan-Nya.

Studi tentang ”Dimensi Keempat”

Mengenai doa otoritatif ini, Yonggi Cho (1991) menjelaskannya sebagai fenomena dimensi keempat. Yang dimaksud adalah dimensi alam roh (dunia supranatural). Dalam dunia ini terdapat dimensi material (alam materi) yang tertangkap oleh pancaindera kita (alam tiga dimensi). Di luar itu, ada dunia yang lebih luas yang tidak terdeteksi oleh pancaindera, itulah dimensi keempat atau dunia roh. Roh Tuhan, roh manusia, roh iblis berada di dalam dimens keempat itu. Tuhan adalah Roh yang menciptakan alam materi (dimensi lahirian) dalam kehidupan ini.

Orang percaya adalah mahluk dimensi keempat yang memiliki otoritas illahi. Ketika ia semakin mendekat dan menyatu dengan Tuhan (Roh Kudus tinggal dan memenuhi dirinya), otoritasnya semakin besar. Itulah sebabnya para murid dan para rasul berkuasa mengadakan mujizat-mujizat.

Cara orang percaya menciptakan mujizat adalah dengan ”bekerja di alam roh”. Seperti dalam  Mrk 11:23, kita harus percaya dalam hati terlebih dulu. Pada tahapan ini, kita harus bisa memyangkan bahwa apa yang kita doakan itu sudah terjadi (Mrk 11:24). Tahap berikutnya adalah melancarkan perkataan iman, mengucapkan kata-kata iman untuk mewujudkan mujizat di alam materi.

Sebelum Abraham benar-benar memperoleh anak di alam materi (empiric), Abraham “bekerja di alam roh” lebih dulu. Pertama, Abraham membayangkan (berimajinasi) seolah-olah ia sudah mempunyai anak itu. Suatu malam, Tuhan menyuruh Abraham mengamat-amati bintang-bintang yang bertaburan di langit. Tuhan pun berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya… demikianlah banyaknya nanti keturunanmu” (Kej 15:5). Kedua, Abraham mengucapkan perkataan-perkataan iman bahwa ia sudah mempunyai anak. Caranya, Tuhan mengganti nama Abram menjadi Abraham yang berarti “bapa dari banyak bangsa”. Di mana-mana Abraham memperkenalkan diri, “Hai, nama saya sekarang Abraham!” Dengan jalan itu, sebenarnya ia sedang mengucapkan kata-kata iman bahwa ia sudah menjadi ayah dan punya banyak anak!

”Divine Order of Faith”

Crefflo A. Dollar (1993) merumuskan sepuluh langkah doa otoritatif sebagai berikut. Pertama, mengidentifikasi masalah (identity the problem). Sebelum berdoa, kita perlu mengerti lebih dulu apa penyebab timbulnya masalah. Misalnya, apakah itu karena dosa kita sendiri? Karena serangan iblis? Atau karena diijinkan Tuhan sebagai didikan rohani? Semua itu menentukan langkah berikutnya. Kalau ada dosa, ya bertobat dulu.

Kedua, mengambil keputusan dengan jelas (the quality decision). Tuhan tidak akan bergerak sebelum kita mengambil keputusan dalam hidup ini. Kita mempunyai pilihan bebas, bukan seperti robot. Tuhan berfirman: “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu” (Ul 30:19).

Ketiga, temukan adanya peneguhan dari Tuhan (finding your “title deed”). Kita harus berdoa sampai mendapatkan peneguhan dari Roh Kudus tentang langkah apa yang harus kita lakukan. Ini menuntut kepekaan rohani dan ketekunan doa. Contohnya adalah ketika suatu kali kita terjebak oleh sebuah sungai yang dalam yang tak mungkin terseberangi. Tidak salah jika kita kemudian berpikir bahwa kita bisa berjalan di atas air untuk menyeberangi sungai itu. Justru salah (tidak beriman) kalau kita mengatakan bahwa itu mustahil. Namun, masalahnya adalah apa kehendak Tuhan. Petrus bisa berjalan di atas air sebab ia lebih dulu mendapatkan konfirmasi dari Yesus yang berkata: ”Datanglah!” (Mat 14:29). Kalau kita tidak mendapatkan peneguhan dari Tuhan (title deed), jangan sekali-kali melakukan tindakan konyol. Ada banyak orang karismatik melakukan tindakan konyol seperti itu karena emosi sesaat. Misalnya mereka meminjam uang milyaran di bank untuk membangun bisnis, pikirnya untuk kepentingan Tuhan, ternyata malah terjerat hutang.

Keempat, mendengarkan Firman (hearing). Untuk membangun iman, caranya adalah dengan mendengarkan Firman Tuhan (Rom 10:17). Tutuplah telinga kita dari suara-suara negatif dan berita-berita yang melemahkan iman.

Kelima, melakukan permenungan (succes through meditation). Kunci sukses Yosua, si ”penguasa matahari dan bulan” itu, adalah merenungkan Firman Tuhan siang dan malam (Yos 1:6). Permenungan mencakup tiga aktifitas: (1) mutter [berkomat-kamit], berkata-kata pada diri sendiri, speaking to yourself [Ef 5:19 KJV], (2) talking [memperkatakan], menyebut-nyebut kebaikan Tuhan [Mzm 77:12-13], (3) musing [meditasi, merenung], memikirkan, membayangkan, mengingat-ingat Firman Tuhan sampai yakin penuh [Mzm 143:5].

Keenam, melancarkan perkataan iman (harness the power of confession). Jangan terburu berkata-kata sebelum permenungan kita berhasil. Sepanjang kita masih ragu dan bimbang, perkataan kita tidak berkuasa (Mrk 11:23). Ketika hendak meruntuhkan tembok Yeriko dengan iman,Yosua memerintahkan bangsa Israel mengelilingi tembok itu sampai beberapa kali, baru kemudian berseru dengan iman (Yos 6:10). Tindakan mengelilingi itu adalah proses merenungkan kuasa Tuhan atas alam. Setelah mereka cukup beriman, mareka berseru dan mujizat pun terjadi: Yeriko roboh.

Ketujuh, melakukan Firman Tuhan (acting the Word). Kita bukan hanya mendengar, merenungkan, dan memperkatakan Firman, tetapi juga menjadi pelaku Firman itu. Setelah sepanjang malam para murid gagal menangkap ikan, Yesus berkata: “Bertolaklah le tempat yang dalam dan terbarkanlah jalamu untuk menangkap ikan!” (Luk 5:4). Kunci mujizat yang terjadi pada waktu itu adalah ketaatan untuk bertindak sesuai Firman itu (Luk 5:5). Mengapa Petrus bisa berjalan di atas air? Kuncinya adalah Firman Yesus “Datanglah” (Mat 14:29) yang dilakukannya, sebuah tindakan iman (faith in action).

Kedelapan, bersikap sabar (applying the pressure of patience). Dalam menanti jawaban doa, kita harus tetap beriman dan bersabar (Ibr 6:12). Ada kalanya Tuhan membuat mujizat secara instant, ada kalanya bertahap. Yang jelas Tuhan bekerja untuk kebaikan kita (Rom 8:28).

Kesembilan, menanti waktu Tuhan (waiting for God’s timing). Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah kolong langit ini ada waktunya (Pkh 3:1). Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pkh 3:11). Terkadang, kita terburu-buru. Ibu Yesus tidak sabar ketika melihat pesta perkawinan di Kana kekurangan anggur, katanya: ”Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3). Bukannya tidak mau mengadakan mujizat, tetapi Yesus menegur ibu-Nya sendiri: ”Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba!” (Yoh 2:4).

Kesepuluh, menghadapkan terus jawaban doa (expect the answer). Artinya, jangan hilang pengharapan. Jangan berputus asa. Hanya pada Tuhan saja kita menjadi tenang, sebab daripada-Nyalah pengharapan kita (Mzm 62:6).

Beda dengan Magi dan Sihir!

Bila mencermati metode doa otoritatif ini terlihat sekilas sama dengan metode yang dipakai dalam ilmu gaib (magi) dan juga dalam sihir. Petenung Voodoo membayangkan (berimajinasi) dengan bantuan boneka, kemudian mengucapkan kata-kata sihir untuk menciptakan sesuatu (yang buruk) bagi orang yang ditenungnya. Prosesnya mirip, membayangkan, mengucapkan kata-kata, dan terjadilah mujizat.

Beberapa prinsip yang membedakan adalah sebagai berikut. Pertama, dasar iman di dalam doa otoritatif adalah Firman Tuhan (Rom 10:17). Dalam ilmu gaib, keyakinan tumbuh dari pikiran manusia, dendam, atau ilham dari iblis.

Kedua, dasar kuasa dalam doa otoritatif adalah Roh Kudus. Karena itu, orang Kristen baru bisa melakukan jenis doa ini jika ia sudah benar-benar lahir baru, didiami, dan dipenuhi Roh Kudus. Dengan demikian, kekuatannya tidak bersifat manusiawi seperti seorang mentalis atau ilusionis. Kekuatan doa otoritatif juga bukan dari setan-setan seperti yang terjadi pada dukun.

Ketiga, dasar tujuan doa otoritatif adalah untuk memuliakan Tuhan dan membawa jiwa-jiwa kepada Kristus. Jadi, bukan untuk diri sendiri saja. Dalam kegiatan bisnis MLM (Multe Level Marketing) juga diajarkan metode berpikir positif dengan cara membayangkan dan memperkatakan keajaiban-keajaiban. Tetapi tujuannya adalah untuk kekayaan semata-mata, bagaimana meraih sukses dan mereguk harta dunia. Seringkali, ini kesalahan orang karismatik, doa otoritatif dilakukan semata-mata untuk meraih sukses dan kemakmuran hedonistik, bukannya untuk tujuan illahi. Tujuan doa otoritatif juga bukan untuk pamer kemampuan seperti apa yang dilakukan oleh tukang sulap.

Keempat, doa otoritatif dilakukan dengan lebih dulu melakukan konsultasi dengan Tuhan sampai mendapatkan peneguhan (title deed). Jadi, harus tetap memperhitungkan soal kehendak Tuhan dan rencana Tuhan. Doa otoritatif Kristen bukan seperti sebuah “alat” untuk meraih keuntungan yang berpusat pada diri sendiri.

Mengenai doa otoritatif yang merupakan kebenaran Alkitab dan ajaran Yesus ini, iblis dan dunia banyak menyelewengkannya. Banyak orang Kristen memakainya tanpa tujuan illahi. Sebagian yang lain tergila-gila karena merasa bisa melakukan mujizat-mujizat. Semangat hedonisme, materialisme, dan egosentrisme menjadikan orang-orang Kristen tak beda dengan para dukun pelarisan yang menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk merenggut kekayaan duniawi.

Di sisi lain pola “merenungkan-membayangkan-memperkatakan-melakukan” ini juga dipakai iblis untuk menumbuhkan kepercayaan-kepercayaan palsu. Di desa-desa misalnya, suami yang istrinya seddang hamil pantang membunuh tikus. Kalau itu dilakukan maka anaknya akan lahir cacat. Hal itu berarti iblis telah berhasil menanamkan sejenis iman yang negatif, yang menghasilkan mujizat yang negatif. 

Menghentikan Badai

Dalam perjalanan penginjilannya di Asia pada tahun 1962, perahu layar yang ditumpangi Charles Doss diamuk taufan. Bulan-bulan September dan Oktober memang cukup rawan badai di kawasan Asia Tenggara. Sementara itu, perahu layar itu berukuran kecil dan sudah tua. Dua tahun sebelum kejadian ini, perahu itu seharusnya sudah tidak dipakai lagi. Ketika kemudian badai mengamuk, kapal itu terombang-ambing dengan begitu hebatnya. Sembilan orang penumpangnya hanya bisa pasrah karena kapal itu bisa tenggelap setiap saat.

Saat itu, Charles Doss melancarkan doa otoritatif untuk menghentikan badai tersebut. Ia meninggalkan kabin, membuka pintu menuju geladak. Ia bergumul melewati genangan air yang sudah memenuhi seluruh geladak. Terdapar banyak ular berbisa dan bermacam-macam binatang laut merayap di geladak itu. Dengan terhuyung-huyung karena goncangan kapal yang hebat, Doss berusaha mencapai pagar. Kapten kapal yang melihatnya mengira bahwa pendeta itu sudah gila dan akan bunuh diri. Tetapi, sampai ndi pagar kapal, Doss berdiri dengan tegapnya. Setelah mengambil nafas dalam-dalam, ia memerintahkan supaya badai menjadi tenang. Doss melakukan seperti apa yang pernah dilakukan Yesus saat menghadapi badai lautan.

Mujizat pun terjadi. Badai itu reda dan laut menjadi sangat tenang. Padahal, biasanya membutuhkan waktu dua sampai tiga hari untuk menjadi teduh kembali. Perubahan alam yang misterius itu membuat kapten kapal menduga bahwa Doss mempunyai ilmu gaib dan kekuatan magis. Setelah merapat di Filipina, Doss bersaksi dan sang kapten pun menjadi percaya kepada Yesus.

Mujizat serupa juga dialami oleh Brother Andrew ketika melayani di Afrika Selatan. Ketika ia sedang berkotbah dalam sebuah acara reli doa akbar, tiba-tiba badai dating. Pohon-pohon bertumbangan, atap-atap tercabik-cabik, dan angina menjadi topan yang dahsyat. Jemaat menjadi ribut. Suasana sangat kacau. Tetapi, Andrew berdiri dan menengking kekuatan badai itu. Dalam hitungan detik, badai itu mereda dan acara pun dilanjutkan kembali.

DOA PEPERANGAN ROHANI

Untuk menyatakan otoritas Gereja atas setan-setan penguasa kosmos (alam), Gereja harus melakukan doa peperangan rohani secara aktif. Pada dasarnya, doa peperangan adalah doa yang bersifat melawan, mengusir, dan menghancurkan setan-setan. Secara umum, doa peperangan sering dibedakan sebagai berikut. Pertama, doa peperangan tingkat dasar, yaitu mengusir setan-setan yang mengikat, mengganggu, dan menyerang orang secara individual (pelayanan pelepasan). Kedua, doa peperangan tingkat okultisme, yaitu menghancurkan kekuatan kuasa gelap yang terorganisir, misalnya praktek pedukunan, satanisme, gerakan gereja setan (satanic church), dan sebagainya. Ketiga, doa peperangan tingkat strategis, yaitu menghancurkan pemerintahan-pemerintahan roh jahat yang menguasai wilayah tertentu (kota, desa, bangsa, dan sebagainya).

Selama Yesus melayani di muka bumi, para murid dilatih-Nya untuk melakukan doa-doa peperangan. Suatu kali para murid melayani pelepasan (doa peperangan tingkat dasar) seorang anak muda yang dirasuk setan sehingga menderita sakit ayan, namun gagal (Mat 17:14-16). Pada kesempatan yang lain, para murid berhasil secara luar biasa sehingga mereka sangat bersukacita, sampai ditegur Yesus karena keberhasilan mengusir setan tidak boleh dijadikan sebagai sumber sukacita (Luk 10:17-20).

Ketika melayani di Filipi, Paulus melancarkan doa peperangan tingkat okultisme. Di kota itu, seorang petenung perempuan mengganggu Paulus dengan seolah-olah memuji Paulus sebagai hamba Tuhan (Kis 16:16-17). Paulus akhirnya mengusir roh tenung itu keluar dari perempuan tersebut (Kis 16:18). Peperangan yang dilancarkan Paulus ternyata memicu “serangan balik” dari iblis berupa aniaya. Ketika tuan-tuan petenung perempuan itu tidak terima, mereka menangkap Paulus dan Silas, mengadukan mereka berdua kepada para penguasa kota, sampai akhirnya kedua hamba-Nya itu dijebloskan dalam penjara (Kis 16:19-24). Menyadari kuatnya serangan iblis itu, Paulus dan Silas terus berperang dengan tetap berdoa dan menaikkan pujian (Kis 16:25). Menurut Peter Wagner (2000), pujian yang dinaikkan Paulus dan Silas itu adalah pujian peperangan (battle song). Puji-pujian merupakan salah satu bentuk senjata peperangan rohani, seperti dulu dipakai oleh Yosafat pada saat berperang (2 Taw 20:17-22). Setelelah Paulus dan Silas berdoa dan menaikkan pujian peperangan, Tuhan menyatakan kuasanya yang dahsyat dengan manifestasi fisik berupa gempa bumi (Kis 16:26).

Dalam doa nabi Daniel, terjadi peperangan tingkat strategis. Alkitab memberi catatan demikian.
Lalu katanya kepadaku: “Janganlah takut, Daniel, sebab telah didengarkan perkataanmu sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapatkan pengertian dan untuk merendahkan dirimu di hadapan Tuhanmu, dan aku (malaikat) dating oleh karena perkataanmu itu. Pemimpin kerajaan Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku (malaikat); tetapi kemudian Mikael, salah seorang (malaikat) dari pemimpin-pemimpin terkemuka datang menolong aku, dan aku meninggalkan ia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia. Lalu aku (malaikat) datang untuk membuat engkau mengerti apa yang akan terjadi pada bangsamu pada hari-hari yang terakhir, sebab penglihatan ini juga mengenai hari-hari itu” (Dan 10:12-14)

Pertama, doa Daniel menggerakkan para malaikat untuk membawa jawaban doa kepadanya. Kedua, kedatangan malaikat itu dihambat, dihadang oleh roh-roh penguasa wilayah (roh-roh territorial). Dalam buku Commentar on The Old Testament karya Kiel dan Delitzch, sebagaimana dikutip Cho (1991), dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “raja-raja orang Persia” adalah roh-roh jahat penguasa wilayah Persia. Ketiga, peperangan tingkat strategis ini sangat berat, memakan waktu (21 hari) dan perlu bantuan malaikat-malaikat lain (Mikael).

Jangan Meremehkan Iblis

Memerangi kuasa gelap yang menguasai alam di wilayah tertentu (yang menyebabkan alam di tempat itu buruk keadaannya) merupakan doa peperangan tingkat strategis. Secara spiritual, itu merupakan tingkat peperangan yang tinggi. Kita melawan roh-roh teritorial yang mempunyai sistem pemerintahan spiritual yang sangat kuat. Jangan sekali-kali meremehkan iblis.

Pada dasarnya, setiap orang percaya bisa mengusir setan-setan di dalam nama Yesus (Mrk 16:17). Seriap murid Kristus diberi perintah dan kuasa untuk mengusir setan (Mat 10:8). Namun, untuk melancarkan peperangan tingkat strategis, tidak sesederhana melayani pelepasan secara personal. Para pendoa harus memperhatikan hal-hal berikut ini. Pertama, harus ada persiapan rohani. Kegagalan para murid dalam mengusir setan disinyalir disebabkan oleh kurangnya persiapan karena Yesus menyarankan supaya mereka lebih serius dalam iman, doa, dan puasa (Mat 17:20-21).

Kedua, harus mengenakan selengkap senjata Tuhan (Ef 6:14-18), meliputi: (1) ikat pinggang kebenaran, yaitu hidup dalam kebenaran Firman, (2) baju zirah keadilan, yaitu hidup benar, suci, murni, tulus, lurus, (3) kasut kerelaan memberitakan Injil, yaitu tujuan untuk membawa jiwa-jiwa kepada Kristus, (4) perisai iman, (5) ketopong keselamatan, yaitu pikiran yang berpusat pada Kristus Juruselamat, (6) pedang Roh, yaitu Firman Tuhan, (7) doa yang terus menerus.

Ketiga, harus ada pengayoman (coverage) dari para pemimpin. Tuhan menetapkan para pemimpin sebagai pengayom jemaat secara spiritual (Ibr 13:17). Doa mereka memerisai kehidupan rohani segenap jemaat. Dalam melakukan peperangan, kita perlu perisai rohani.

Keempat, harus menutup semua celah, tidak memberi peluang masuk sedikit pun kepada iblis (Ef 4:27). Kemarahan, kesedihan, dosa, dan sebagainya menjadikan celah terbuka sehingga iblis mempunyai peluang untuk menyerang dan merangsek masuk. Banyak pendoa peperangan jatuh karena hidupnya memiliki celah-celah menganga.

Kelima, harus memahami panggilan Tuhan. Berdoa, termasuk berdoa mengusir setan, adalah panggilan umum bagi semua orang percaya. Tetapi, menjadi pendoa syaafat, apalagi menjadi pendoa syafaat kusus doa peperangan, merupakan panggilan khusus. Hal itu dapat diperbandingkan dengan masalah memuji Tuhan. Semua orang percaya dipanggil sebagai penyembah-penyembah. Tetapi, menjadi song leader atau worship leader adalah soal panggilan pelayanan. Jadi, kita haarus menyadari batas-batas panggila kita sebab itu menentukan ”batas-batas urapan” yang diberikan Tuhan bagi kita masing-masing.   

Doa Peperangan Strategis, Gereja Harus Bersatu

Roh-roh teritorial yang menguasai wilayah alam tertentu merupakan sebuah pemerintahan yang kuat sehingga harus dilawan secara bersama-sama, tidak sendiri-sendiri. Kerajaan harus dilawan dengan kerajaan, bukan oleh individu. Gereja sebagai perwujudan Kerajaan Tuhan di bumi harus bersatu lebih dulu.

Yesus mengatakan bahwa kerajaan iblis adalah kerajaan yang bersatu teguh, tidak terpecah-pecah (Mat 12:25-26). Paulus mengatakan bahwa iblis mempunyai sistem pemerintahan, sistem kekuasaan, sistem komando, dan jaringan kerja yang rapi (Ef 6:12). Dengan demikian, jangan pernah melawan penguasa-penguasa roh teritorial seorang diri. Gereja harus bersatu padu dan baru kemudian berperang bersama-sama. Perbandinganya strategi perlawanan bangsa Indonesia melawan panjajah. Pemerintahan kolonial merupakan kekuatan komunal yang besar. Ketika para pejuang Indonesia melancarkan perlawanan secara sporadis dan sendiri-sendiri, gagal. Namun, setelah Indonesia bersatu (Sumpah Pemuda 1928), perjuangan Indonesia segera membuahkan hasil sampai mencapai kemerdekaan (1945).

Kesatuan Gereja (Tubuh Kristus) yang diperlukan dalam melakukan doa peperangan tingkat strategis adalah sebagai berikut. Pertama, bersatu dan kompak dalam visi korporat. Ketidaksamaan dalam visi yang menggagalkan peperangan telah dialami oleh bangsa Israel. Ketika keluar dari Mesir, visi mereka sama, yaitu masuk ke Kanaan. Tetapi, ketika mulai mendakati tanah perjanjian itu, mereka mulai tidak sehati. Setelah melakukan pengintaian, hanya Kaleb dan Yosua yang tetap teguh dalam visi, lainnya pesimis melihat musuh-musuh berat yang bercokol di Kanaan (Bil 13:28-29). Perbedaan visi semakin mencolok manakala orang-orang pesimis itu menyebarkan kabar  busuk tenntang Kanaan (Bil 13:32-33). Akibatnya, semua orang Israel bersungut-sungut dan memberontak (Bil 14:1-4). Ketidakkompakan dalam visi yang tidak dipernekan Tuhan ini telah menunda kemenangan Israel selama 40 tahun!

Kedua, Gereja harus bekerjasama secara nyata. Kemenangan Israel saat berperang melawan bangsa Amalek tejadi karena faktor kerjasama tingkat tinggi (Kel 17:10-13). Waktu itu, Yosua memimpin tentara Israel secara langsung di medan perang. Musa mengangkat tangannya di puncak bukit dengan ditopang oleh Harun dan Hur. Strategi kesatuan Israel juga membuahkan kemenangan atas Yeriko secara ajaib (Yos 6:2-5). Sekarang, Gereja sering sulit bersatu. Masing-masing gereja lokal mementingkan dirinya sendiri, tidak mau saling bekerjasama. Bahkan, gereja lokal yang gedungnya saling berdekatan pun tak saling bersinergi. Kalau begitu, jangan harapkan kemenangan!

Ketiga, tumbuhnya kepemimpinan korporat yang memperssolid kesatuan Tubuh Kristus. Suzette Hattingh, pendoa syafaat, pernah mengkotbahkan bahwa ketika Petrus tampil berbicara sebenarnya ia tampil dan berdiri bersama-sama dengen kebelas rasul lainnya (Kis 2:14). Itulah kepemimpinan korporat. Dalam peperangan rohani, sistem kepemimpinan harus kuat. Alkitab mencatat bagaimana Tuhan berfirman kepada Israel tentang manajemen kepemimpinan perang itu: ”Apabila para pengatur pasukan selesai berbicara kepada tentara, maka haruslah ditunjuk kepala-kepala pasukan untuk mengepakai tentara” (Ul 20:9).

Keempat, Gereja harus bersatu dalam membuat pemetaan rohani (spiritual maping) sehingga memiliki kesamaan perspektif.  Sebelum melancarkan peperangan, kita harus mengadakan riset (assesment) dan perencanaan yang matang. Perencanaan matang adalah kunci memenangkan perang (Ams 24:6). Kita harus mengidentifikasi dulu roh-roh apa saja yang menguasai komunitas kita. Sejak kapan mereka berkuasa? Adakah semacam ikatan perjanjian antara masyarakat dengan roh-roh itu? Berhala apa saja yang ada? Kesepahaman dalam penafsiran sangat penting supaya Gereja melakukan tindakan yang sama. Biasanya, iblis akan ”mengacaukan bahasa” anak-anak Tuhan, sehingga kita tidak sepaham, beda penafsiran, dan akhirnya tidak bisa bergerak bersama dalam peperangan. Malahan, antart pendeta dan antar gereja saling berperang sendiri. Gereja sering kalah kompak ketimbang iblis!

Kelima, Gereja harus bersama-sama memohon petunjuk Roh Kudus. Dalam hal ini, Gereja juga tidak kompak. Masing-masing merasa mendapatkan wahyu dan merasa wahyunya yang paling benar. Para nabi dan pendoa harus saling menundukkan diri supaya tidak terjadi kekacauan yang memicu perpecahan (band. 1 Kor 14:26-40).

Keenam, Gereja harus menjaga kesatuan terus menerus sebab peperangan harus dilakukan dengan kontinu dan konsisten. Ingat bahwa sampai KKKK, iblis masih bercokol di bumi. Sampai KKKK, Gereja harus terus berperang. Transformasi yang terjadi, kalau tidak dijaga dengan doa peperangan rohani yang kontinu, akan memudar. Pertobatan masyarakat Niniwe misalnya (Yun 3:4-5) juga tidak bertahan terus menerus. Tidak ada bukti luar tentang transformasi itu. Malahan, naskah dari Gozan melaporkan adanya gerhana total pada tahun 763 SM yang diikuti terjadina banjir besar dan bala kelaparan di Niniwe.

Doa Peperangan dan Transformasi Komunitas

Peristiwa transformasi, terutama di Almalonga dan Umuofai, merupakan bentuk perubahan yang holistik. Kehidupan rohani berubah, diikuti dengan pembaharuan di bidang sosial, politik, perekonomian, dan bahkan perbaikan kondisi alam secara ajaib. Seperti telah di bahas, tanah tandus di Almalonga dijamah Tuhan sedemikian rupa sehingga berubah menjadi subur. Produksi pertanian naik 1.000 persen. Para peneliti dari AS dibuatnya terkesima dengan kuasa Tuhan atas alam ini.

Transformasi di Almalonga dan di kota-kota lain, menurut George Ottis Jr (1999), terjadi melalui gerakan-gerakan doa sekota yang di dalamnya dilakukan doa-doa peperangan tingkat strategis. Seperti yang dilakukan di Cali (Kolombia), Gereja bersama-sama melakukan pemetaan rohani sebelum melancarkan doa-doa peperangan. Di Almalonga, gerakan doa bersama dilakukan dengan intensif sampai kuasa-kuasa kegelapan dihancurkan.

Setelah melakukan pengamatan dan studi komparasi, George Otis Jr (1999) menarik kesimpulan bahwa proses transformasi terjadi melalui tiga tahap.  Pertama, tahap ”pangkalan rohani”, yaitu tahap terjadinya kesatuan Gereja, pertobatan korporat Gereja, kesatuan doa, dan tindakan Gereja untuk melakukan rekonsiliasi sosial. Kedua, tahap ”terobosan rohani”, yaitu momentum pada saat mana Tuhan (Roh Kudus) melakukan penetrasi sedemikian rupa sehingga terjadi kebangunan rohani besar yang menyentuh kehidupan masyarakat luas. Ketiga, tahap ”perubahan rohani”, yaitu terjadinya pembaharuan sosial-politik dan berbagai dimensi lain dalam kehidupan masyarakat.

Pada tahap ”pangkalan rohani”, Gereja harus benar-benar bersatu untuk menaikkan syafaat-syafaat dan melancarkan doa-doa peperangan tingkat strategis. Biasanya, meskipun sudah dibentuk JDS (Jaringan Doa Sekota) dan kubu-kubu doa, Gereja Sekota sulit untuk benar-benar bersatu dalam gerakan doa. Iblis selalu memecah belah. Karena itu gerakan kesatuan harus diutamakan. Di Yogyakarta, sekelompok anak muda Kristen menangkap visi tentang ”Bapa Satukan Kami” (BSK) sebagai inspirasi supaya Gereja Tuhan benar-benar bersatu seperti apa yang didoaan Yesus (Yoh 17:20-23).

BERSAMBUNG……

Haryadi Baskoro bersama rekan-rekan pendoa dan hamba-hamba Tuhan yang memiliki spesialisasi dalam pelayannan pelepasan terpanggil untuk memberikan seminar-seminar tentang doa yang Alkitabiah. Bahan-bahan ajar diambil dari buku-buku karya Haryadi Baskoro berjudul “Mezbah Doa Para Pemimpin” dan “Doa Mengatasi Bencana Alam” yang diterbitkan Penerbit Andi. Untuk seminar, kontak di haryadibaskoro@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: