SEMINAR JURNALISME KRISTEN

Haryadi Baskoro - Buku Jurnalisme untuk Sekolah Minggu (Penerbit ANDI)SEMINAR JURNALISME KRISTEN

Haryadi Baskoro yang produktif menulis buku dan artikel-artikel opini di berbagai surat kabar, terpanggil untuk memberikan seminar-seminar pelatihan tentang jurnalisme Kristen. Salah satu buku pelatihan jurnalistik yang telah ditulis Haryadi Baskoro adalah “Jurnalisme untuk Sekolah Minggu”, diterbitkan Penerbit Andi (ditulis bersama Claudia Oki Hermawati). Untuk seminar, kontak di haryadibaskoro@yahoo.com

MENYUSUN PARAGRAF

Ketrampilan membangun paragraf merupakan ketrampilan mendasar bagi seorang pengarang. Paragraf berasal dari kata bahasa Inggris (paragraph) dan Yunani (para-grafein). Disebut juga alinea yang berasal dari kata bahasa Belanda, a linea. Paragraf adalah satuan terkecil sebuah karangan yang isinya membentuk satuan pikiran sebagai bagian dari pesan yang disampaikan penulis dalam karangannya (Sakri, 1992). Paragraf yang baik harus (1) memiliki kesatuan, mengungkapkan satu gagasan saja, (2) memiliki kesetalian, di mana kalimat-kalimat di dalam paragraf itu saling berhubungan, (3) memiliki rincian dari gagasan yang dinyatakan itu.

Secara umum, seperti misalnya dipaparkan Jago Tarigan, paragraf mengandung beberapa jenis kalimat yang menjadi unsur-unsurnya. Pertama, kalimat transisi (transition), yaitu kalimat yang menjadi penghubung antar paragraf. Fungsinya adalah membangun kesinambungan antar paragraf yang satu dengan paragraf lainnya. Untuk itu kalimat transisi bisa memakai kata-kata penanda transisi seperti dan, lagi pula, kini, dahulu, tetapi, contohnya, oleh karena, seandainya, ringkasnya, kesimpulannya dan sebagainya. Kata-kata itu membantu kesinambungan antar paragraf.

Kedua, kalimat topik atau kalimat utama, yaitu kalimat yang menyatakan ide pokok dari paragraf bersangkutan. Posisi kalimat utama bisa di awal, di tengah, atau di akhir paragraf tersebut.

Ketiga, kalimat pengembang, yaitu kalimat-kalimat yang disusun untuk mendukung kalimat topik atau kalimat utama paragraf tersebut. Kalimat-kalimat pengembang pada dasarnya merupakan penjabaran atau rincian dari gagasan utama yang dinyatakan dalam kalimat topik itu.

Keempat, kalimat penegas, yaitu kalimat yang mengulang atau menegaskan kembali kalimat topik. Fungsinya adalah memberi penegasan dan menghilangkan kejemuan setelah pembaca disuguhi beberpa kalimat pengembang. Apalagi jika kalimat pengembangnya cukup banyak, kalimat penegas dibutuhkan untuk mengkonfirmasi inti gagasan dalam paragraf tersebut.

Selanjutnya, untuk mengembangkan kreativitas tulisan, perlu diajarkan tentang beberapa jenis paragraf. Secara umum, seperti dijelaskan Tarigan, ada beberapa macam alinea. Pertama, paragraf deduktif yang cirinya adalah kalimat topik dikembangkan dengan pemaparan atau diskripsi sampai pada bagian-bagian yang kecil (detil).

Kedua, paragraf induksi yang cirinya adalah dimulai dengan penjelasan bagian-bagian konkret atau khusus yang dinyatakan dalam beberapa kalimat pengembang. Kemudian, paragraf diakhiri dengan kalimat topik yang merupakan suatu kesimpulan umum.

Ketiga, paragraf campuran deduksi-induksi. Cirinya, dimulai dengan kalimat topik yang disusul dengan kalimat-kalimat pengembang serta diakhiri dengan kalimat penegas.

Keempat, paragraf perbandingan yang kalimat topiknya berisi perbandingan dua hal. Kalimat-kalimat pengembangnya merupakan penjelasan rinci mengenai perbandingan yang dinyatakan dalam kalimat topik tersebut.

Kelima, paragraf pertanyaan, cirinya adalah kalimat topik berupa sebuah pertanyaan. Jawaban dari pertanyaan itu diungkapkan dalam kalimat-kalimat pengembang yang menjelaskannya.

Keenam, paragraf sebab-akibat, cirinya kalimat topik dikembangkan dengan memberikan sebab atau akibat dari pernyataan yang ada dalam kalimat topik. Paragraf semacam ini disebut juga sebagai paragraf deduktif kausal.

Ketujuh, paragraf contoh, yaitu paragraf yang kalimat topiknya dikembangkan dengan kalimat-kalimat pengembang yang memuat contoh-contoh. Alinea jenis ini disebut juga sebagai paragraf deduktif contoh.

Kedelapan, paragraf perulangan. Dalam paragraf ini, kalimat topik dikembangkan dengan mengulang-ulang kata atau kelompok kata atau bagian-bagian kalimat yang penting.

Kesembilan, paragraf definisi. Dalam alinea jenis ini, kalimat topik berisi sebuah konsep. Sedangkan kalimat-kalimat pengembang memberikan penjelasan detil mengenai konsep tersebut.

MENULIS PUISI

Apakah Puisi itu?
Mengacu pada definisi dari Ensiklopedi Indonesia (1984), puisi adalah karangan sastra yang bukan prosa. Adapun prosa adalah karangan sastra yang ditulis dengan kalimat-kalimat yang jelas runtutan pemikirannya dengan menggunakan alinea-alinea. Segala bentuk karangan ilmiah dan laporan-laporan tergolong prosa. Dalam bidang seni sastra, prosa terbagi menjadi dua: (1) karya rekanan seperti cerita pendek, novel, lakon dan lain-lain, (2) karya bahasan seperti esai dan kritik sastra.

Puisi tradisional (konvensional) biasa mempunyai bentuk-bentuk yang khas yang ditulis dalam bait-bait (stanza), yaitu kesatuan baris-sajak yang mencerminkan kesatuan perasaan atau pikiran yang utuh. Setiap bait terdiri dari larik atau baris yang mempunyai rima (rhyme). Rima adalah penempatan kata-kata dengan suara yang serupa atau sama dalam pola yang teratur. Rima itu biasanya terdapat pada akhir baris. Contoh pola rima adalah rumusan “a-b-a-b”.

Tetapi, pada puisi modern pola-pola baku seperti di atas tidak terlalu mengikat lagi. Di Indonesia, puisi-puisi modern karya Goenawan Mohammad misalnya, tidak lagi ditulis dalam bait atau baris yang mempunyai rima atau sajak tertentu. Pelopor puisi modern di tanah air antara lain Muhammad Yamin, Sanusi Pane, dan Rustam Efendi.

Adapun ciri umum puisi, baik yang tradisional maupun modern adalah sebagai berikut. (1) Puisi lebih banyak menggunakan metafora-metafora, yaitu kata-kata kiasan untuk membuat lebih hidup tanpa menghilangkan ketepatan maksudnya. (2) Puisi memberikan imaji-imaji yang bersifat sugestif, menyentuh emosi. (3) Puisi merangsang asosiasi-asosiasi, yaitu kegiatan mental untuk menghubungkan satu hal atau ide atau tingkahlaku dengan hal, ide, atau tingkahlaku lainnya. (4) Puisi lebih berusaha menghadirkan suasana daripada melukiskan situasi.

Puisi diklasifikasi menjadi dua. Pertama, epik, yaitu puisi yang menceritakan sesuatu. Epik berasal dari kata Yunani epikos yang berarti menceritakan sesuatu. Lalu berkembang istilah epos yang berarti sajak yang bersifat dramatik yang mengisahkan pahlawan-pahlawan, histori, dan legenda. Contoh puisi epik adalah syair (Melayu), wawacan (Sunda), dan Macapat (Jawa).

Kedua, lirik (lyricus), yaitu puisi yang berupa ungkapan langsung tentang pengalaman perasaan subyektif. Karena itu sifatnya lebih personal. Bentuk lirik yang khas adalah lagu pujian, himne, elegi, dan epigram. Dalam puisi rakyat, bentuk lirik terlihat pada pantun, sesebred, dan parikan. Pantun adalah puisi gaya lama Melayu yang biasa terdiri dari empat baris. Tiap baris terdiri dari empat kata dengan pola rima akhir ”a-b-a-b”. Pantun terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (baris pertama dan kedua) disebut sampiran. Bagian kedua (baris ketiga dan keempat) disebut isi pantun. Sesebred adalah puisi Sunda yang tiap baitnya terdiri dari empat baris berakhiran rima “a-b-a-b”. Puisi ini terdiri dari dua baris sampiran dan sua baris isi. Sedangkan parikan adalah pantun Jawa.

MENULIS BERITA

Apakah Berita itu?

Menurut Concise Oxford English Dictionary, berita (news) adalah informasi yang menarik atau yang berarti tentang kejadian-kejadian yang mutakhir (noteworthy information about recent events).  Meskipun demikian, sesuatu yang noteworthy itu sendiri bersifat relatif. Bagi orang tertentu mungkin menarik dan penting, tetapi belum tentu bagi orang lain. Bahkan definisi berita menurut Charles A. Dhana pada 1882 – bila seekor anjing menggigit manusia, itu bukan berita, jika seorang manusia menggigit anjing, itulah berita – tetap juga relatif.

Karena itu ada banyak silang pendapat mengenai definisi tentang berita. Prof. Mitchel V. Charnley dalam bukunya berjudul Reporting lebih menekankan aspek kecepatan dan daya tarik dari berita. Paul De Massener  dalam bukunya berjudul Here’s The News: Unesco Associate menekankan kadar pentingnya berita. Doug Newsom dan James A. Wollert dalam bukunya berjudul Media Writing: News for the Mass Media menekankan nilai informatif suatu berita. Sedangkan Nothclife, seperti halnya Charles A. Dhanna, lebih menekankan pentingnya suatu keanehan atau ketidaklaziman dalam isi suatu berita.

Keberagaman pandangan itu bersifat saling melengkapi. Frank Luther Mott sebagaimana dikutip  Sumadiria (2005) dan Sudarman (2008) memberikan beberapa ciri berita secara komprehensif sebagai berikut: (1) berita adalah laporat tercepat – news as timely report, (2) berita adalah rekaman – news as record, (3) berita adalah fakta obyektif – news as objective facts, (4) berita adalah sebuah penafsiran – news as interpretation, (5) berita adalah suatu sensasi – news as sensation, (6) berita adalah suatu minat manusiawi – news as a human interest, (7) berita merupakan ramalan – news as prediction, (8) berita dapat berupa gambar, termasuk foto – news as picture.

Pengertian berita akan lebih tajam jika dilihat dari sudut nilai berita (news value). Sumadira (2005) merangkumkan pandangan dari Brian S. Brooks, George Kennedy, Darly R. Moen dan Don Ranly mengenai nilai berita itu. Menurut mereka sesuatu bisa menjadi berita jika memiliki nilai-nilai: (1) keluarbiasaan, (2) kebaruan (novelty), (3) dampak yang besar, (4) aktualitas, (5) kedekatan (proximity), prinsipnya semakin dekat peristiwa itu dengan khalayak maka semakin menarik untuk dibaca, (6) informatif, (7) mengangkat masalah konflik, (8) membicarakan orang penting atau figur publik, (9) masalah human interest, (10) kejutan atau surprising, (11) mengungkit masalah skandal seks.

Menurut Pranata (2002) dan Sudarman (2008), jenis-jenis berita adalah sebagai berikut. (1) Hard news, berita tentang kejadian/peristiwa yang tidak menyenangkan. (2) Soft news, berita yang menyenangkan, menggembirakan. (3) Descriptive news, sifatnya memaparkan informasi saja. (4) Explanatory news, sifatnya memberi penjelasan lebih luas. (5) Interpretative news, sifatnya penafsiran dari si penulis berita, disebut juga sebagai depth news. (6) Investigative news, berita yang diperoleh melalui penelitian atau penyelidikan yang mendalam. (7)  Strait news, berisi laporan suatu peristiwa.

Anatomi Berita: Unsur-Unsur Berita
Penulisan berita untuk media mempunyai standar susunan tersendiri yang disebut anatomi berita. Secara umum, anatomi berita merupakan sebuah piramida terbalik (inverted pyramid). Maksudnya, berita dimulai dari hal yang sangat penting dan diakhiri oleh hal yang kurang penting. Unsur-unsur dalam susunan piramida terbalik itu adalah sebagai berikut. Pertama, judul berita (headline) yang merupakan identitas dari berita. Judul yang baik harus (1) provokatif, (2) singkat-padat, (3) relevan, (4) fungsional, (5) formal, (6) representatif, (7) tata bahasa baku, dan (8) spesifik (Sumadira, 2005)

Kedua, teras berita atau lead atau pembuka berita. Wujudnya berupa kalimat-kalimat (2-3 buah kalimat) yang memuat fakta atau informasi terpenting dari keseluruhan berita yang disampaikan. Di koran, biasanya diawali dengan informasi date line (titi mangsa), yaitu hari dan tanggal kejadian. Fungsi teras berita adalah memberikan (1) daya tarik, (2) pengantar, (3) keyakinan akan kebenaran berita (Sudarman, 2008). Macam-macam teras berita dibedakan dari apa yang diungkapkannya, yaitu sebagai berikut (Sudarman, 2008). (1) Teras berita menjelaskan siapa (who lead). (2) Teras berita menjelaskan apa yang terjadi (what lead). (3) Teras berita tentang kapan terjadi (when lead). (4) Teras berita tentang di mana peristiwa terjadi (where lead), (5) Teras berita tentang mengapa peristiwa terjadi (why lead). (6) Teras berita tentang bagaimana suatu peristiwa terjadi (how lead). (7) Teras berita tentang nilai kekontrasan suatu peristiwa (contrast lead). (8) Teras berita kutipan tentang perkataan atau keadaan seseorang (quotation lead). (9) Teras berita berupa pertanyaan (question lead). (10) Teras berita pemaparan (descriptive lead). (11) Teras berita bercerita (narative lead). (12) Teras berita berisi jeritan/seruan narasumber (exclamation lead).

Ketiga, bagian perangkai berita (bridge). Bagian ini adalah berupa kata-kata penghubung yang menghubungkan teras berita (lead) dengan tubuh berita (body). Hal ini penting supaya uraian bersifat mengalir dan nyambung.

Keempat, tubuh berita (body). Bagian ini berupa kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf yang membawa materi atau pesan informasi yang disampaikan. Tubuh berita merupakan kesatuan laporan mengenai berita tersebut.

Kelima, kaki berita (leg). Ini adalah bagian akhir atau penutup dari tulisan berita. Kaki berita ini justru mengungkapkan hal-hal yang kurang penting. Dengan demikian kaki berita merupakan bagian yang paling tidak penting dari keseluruhan berita sehingga anatomi keseluruhan berita itu bersifat piramida terbalik.

MENULIS FEATURE

Apakah Feature itu?

Belum ada definisi baku tentang karangan feature sebab ada banyak pendapat dari banyak ahli (Sudarman, 2008). Daniel R. Williamson menekankan feature sebagai artikel kreatif, subyektif, dan menghibur. Richard Weiner menekankan feature sebagai karangan ringan dan umum berkenaan dengan peristiwa aktual. Adapun Julian Harris lebih melihat feature sebagai tulisan tentang human interest.

Sudarman (2008) sendiri hanya mengkompilasi ciri-ciri feature sebagai berikut. Pertama, feature adalah karangan kreatif, mengangkat ide kreatif yang terlewatkan oleh berita keras (hard news). Jika ide feature dari bacaan maka tulisan feature merupakan pengembangan kreatif atas ide bacaan tersebut.

Kedua, feature adalah karangan yang bersifat subyektif, bahkan penulisnya bisa menyatakan diri sebagai ”aku”. Dalam teori penulisan kreatif modern, feature bisa memadukan antara fakta dengan fiksi (imajinasi penulisnya).

Ketiga, feature adalah tulisan yang bersifat informatif. Karangan ini memberikan jauh lebih banyak informasi ketimbang artikel berita. Gambaran-gambaran yang diberikannya bersifat lebih mendetil. Informasi yang diberikan oleh feature juga bersifat humanistik, menyentuh perasaan dan membangkitkan empati.

Keempat, feature adalah karangan yang bersifat menghibur namun mendidik (edutainment). Jika berita keras (hard news) lebih menguras pikiran pembaca maka feature merupakan karya jurnalistik lunak (soft news). Sekalipun demikian, feature harus bisa memberi pengetahuan baru dan mendorong perkembangan intelektualitas pembacanya.

Kelima, feature adalah karangan yang bersifat awet, tidak cepat basi. Menurut Koesworo (1994) disebut sebagai evergreen copy. Karangan ini dapat disimpan, dikoleksi, dikliping untuk waktu yang lama. Tulisan ini menjadi data yang berguna yang tidak kadaluwarsa. Karena itu, penulis feature tidak perlu tertekan oleh deadline.

Keenam, feature adalah karangan yang berdasar fakta. Artinya, bukan karangan fiksi. Sekalipun bersifat subyektif dan bahkan boleh memasukkan unsur imajinasi penulisnya (poin kedua) tetapi tetap faktual.

Ketujuh, feature adalah tulisan yang tidak tentu panjangnya. Untuk dimuat di surat kabar, panjangnya rata-rata antara 1.000 sampai 2.000 kata (words). Sedangkan untuk dimuat di majalah bisa lebih panjang, bisa sampai 6.000 kata (words). Tetapi semua itu juga tergantung dari kebijakan masing-masing media.

Kedelapan, feature adalah tulisan yang bersifat santai dan hidup. Kekuatan feature tergantung dari gaya penulisannya yang hidup. Pokoknya, sangat berbeda dengan gaya penulisan berita lempeng yang bersifat kaku dan lugas. Pilihan kata dan gaya bahasa harus impresionistik.

Menurut Koesworo (1994) tulisan feature dapat diklasifikasi sebagai berikut. (1) Human interest feature, karangan yang memikat rasa kemanusiaan. (2) Historical feature, karangan feature tentang sejarah. (3) Biogpraphical and personality feature, menyangkut riwayat kehidupan tokoh tertentu. (4) Travel feature, karangan tentang kisah perjalanan yang memikat. (5) Explanatory and how to do it feature, karangan feature berupa penjelasan menarik tentang bagaimana sesuatu harus dikerjakan. (6) Scientific feature, menyangkut ilmu pengetahuan dan teknologi.

Anatomi Tulisan Feature

Berikut adalah penjelasan tentang anatomi feature yang disarikan dari Sudarman (2008) dan beberapa jurnalis lainnya. Dari sudut anatomi, feature terdiri dari beberapa unsur yaitu (1) judul, berfungsi menggugah perhatian, (2) intro, berfungsi menarik perhatian pembaca untuk mengikuti uraian feature, (3) jembatan atau perangkai, berfungsi menghubungkan intro dengan tubuh feature, (4) tubuh, yaitu isi feature, (5) penutup, berupa gambaran bulat tentang feature  dan pesan-pesan yang mengesankan.

Sistem penulisan feature mencakup beberapa variasi. Pertama, sistem piramida terbalik seperti pada berita (news). Cirinya, dimulai dari Titik Perhatian Maksimal (TPM). Dimulai dari hal yang penting, kurang penting, dan akhirnya tidak penting.

MENULIS OPINI

Apakah Artikel Opini itu?

Artikel umumnya menunjuk tentang tulisan serius di media massa cetak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, artikel adalah karya tulis lengkap di media massa seperti surat kabar, majalah, tabloid, dan sebagainya. Lebih detil, menurut Hari Sumadira (2005), artikel adalah tulisan lepas berisi pendapat atau gagasan (opini) seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual dan atau kontroversial dengan tujuan untuk memberitahu (informative), meyakinkan (persuasive argumentative), dan menghibur (rekreatif, entertaining).

Ciri-ciri artikel menurut Sudarman (2008) adalah sebagai berikut. Pertama, artikel merupakan tulisan yang mengungkapkan pandangan penulisnya. Artinya, meskipun membahas masalah yang sama, pandangan penulis yang satu dengan pandangan penulis yang lain bisa berbeda.

Kedua, artikel mengungkapkan gagasan yang baru atau aktual (prinsip kebaruan atau novelty). Sekalipun pemikiran yang ditulis itu sudah ada, penulis harus bisa mengungkapkannya dengan cara yang baru dan materi yang baru. Prinsip kebaruan ini sangat dituntut oleh media cetak yang menyeleksi pemuatannya.

Ketiga, artikel bersifat intelek. Artikel merupakan tulisan ilmiah yang dikemas secara populer sehingga bisa dibaca oleh umum dengan enak. Sebagai karya intelektual, artikel harus menghargai hak kekayaan intelektual (HKI) orang lain. Karena itu sumber-sumber yang dikutip harus dinyatakan dengan jelas.

Keempat, artikel haruslah karya tulis yang orisinil. Artinya, bukan saduran dan bukan jiplakan. Karena itu redaksi suratkabar biasanya meminta penulis mengirimkan karya (print out) aslinya, bukan fotokopi. Disertakan pula tanda tangan si penulis. Sekarang, meskipun bisa dikirim lewat email, harus menyertakan biodata penulisnya.

Kelima, artikel merupakan tulisan yang mengungkapkan masalah dan solusinya secara rasional. Demikianlah gagasan si penulis memberi kontribusi yang solutif. Meskipun tidak memberikan petunjuk-petunjuk yang panjang lebar dan mendetil, sifatnya argumentatif.

Keenam, artikel merupakan tulisan yang singkat, padat, dan tuntas. Artinya, tidak bertele-tele dan mudah dicerna. Surat kabar Kompas misalnya, memberi batas maksimal artikel opini 3,5 halaman kuarto dengan spasi ganda (kira-kira 700 kata atau 5.000 karakter dengan spasi).

Ketujuh, artikel ditulis dengan bahasa yang sederhana, jelas, hidup, segar, menarik, populer dan komunikatif. Artikel opini disebut juga sebagai tulisan ilmiah populer. Seorang ahli belum tentu terampil menulis artikel, sebab ia perlu memperlengkapi diri dengan kemampuan mengkomunikasikan pemikiran ilmiahnya yang canggih itu dengan bahasa yang populer.

Kedelapan, artikel – terutama yang dimuat di surat kabar umum – harus membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan publik. Harian Kompas mensyaratkan bahwa artikel opini harus membahas masalah yang aktual, relevan dan menjadi persoalan dalam masyarakat. Substansi yang dibahas menyangkut kepentingan umum, bukan kepentingan komunitas tertentu.

Kesembilan, artikel ditulis dengan atas nama (by line story). Artinya artikel merupakan karya individual dengan mencantumkan nama penulisnya. Artikel jarang ditulis oleh berdua atau lebih. Tetapi, artikel dalam jurnal boleh ditulis oleh dua orang.

Anatomi Artikel Opini

Mengacu pada pandangan Sudarman (2008), Koeswara (1994), Sumadiria (2005), dan Pranata (2002), unsur-unsur dalam penulisan artikel adalah sebagai berikut. Pertama, judul atau kepala karangan (head) yang merupakan identitas artikel. Syarat judul adalah (1) menggambarkan isi karangan, (2) singkat, padat, menarik, (3) provokatif, (4) fungsional dan representatif.

Kedua, nama penulis (title). Biasanya, hanya ditulis nama saja tanpa mencantumkan gelar. Keterangan tentang gelar kesarjanaan, latar belakang pendidikan, profesi, dan keterangan lain biasanya dicantumkan di bagian bawah (akhir) artikel berupa catatan.

Ketiga, intro atau pendahuluan yang merupakan paragraf (alinea) pertama artikel. Intro yang baik harus atraktif, membangkitkan minat, introduktif, korelatif, dan menunjukkan kredibilitas penulisnya. Cara menulis intro menurut Sudarman (2008) antara lain adalah dengan (1) langsung menyebutkan pokok persoalan, (2) mendeskripsikan latar belakang, (3) menghubungkan dengan peristiwa mutakhir, (4) menghubungkan dengan suatu peristiwa yang sedang diperingati, (5) menghubungkan dengan tempat penulis ketika melakukan aktivitasnya, (6) mengubungkan dengan suasana emosi (mood) yang pernah melingkupi khalayak, (7) menghubungkan dengan peristiwa bersejarah di masa silam, (8) menghubungkan dengan kepentingan vital strategis khalayak, (9) memberikan pujian pada khalayak atas prestasi yang pernah dicapainya, (10) memulai dengan pernyataan mengejutkan, disebut the shock technique, (11) memulai dengan pertanyaan provokatif atau rentetan pertanyaan, (12) menyatakan kutipan, (13) menceritakan pengalaman pribadi, (14) menceritakan kisah faktual, rekaan, atau hipotesis, (15) menyatakan teori atau prinsip-prinsip yang diakui kebenarannya, atau (16) memulai dengan anekdot atau humor.

Keempat, isi (content) artikel yang merupakan tubuh atau pembahasan. Pembahasan harus memiliki sifat menyatu (unity), bertautan (koherensi), dan memberikan tekanan-tekanan tertentu (emphasis). Di koran, kalimat penekanan tertentu terkadang ditampilkan sebagai inzet. Isi merupakan pembahasan pemikiran penulis yang dapat berupa pemikiran (1) deduktif, (2) induktif, (3) kronologis, (4) logis argumentatif, (5) spasial, atau (6) topikal.

Kelima, penutup (closing). Penutup dapat berupa penegasan kembali topik atau pokok bahasan. Penutup bisa merupakan teknik mengakhiri tulisan dengan klimaks berupa kesimpulan yang tajam. Penutup dapat pula berupa ajakan yang persuasif. Cara penulisan penutup itu bisa bervariasi termasuk dengan cara menampilkan kutipan.

BERSAMBUNG…..

Haryadi Baskoro, yang produktif menulis buku dan artikel-artikel opini di berbagai surat kabar, terpanggil untuk memberikan seminar-seminar pelatihan tentang jurnalisme Kristen. Salah satu buku pelatihan jurnalistik yang telah ditulis Haryadi Baskoro adalah “Jurnalisme untuk Sekolah Minggu”, diterbitkan Penerbit Andi (ditulis bersama Oki Hermawati). Untuk seminar, kontak di haryadibaskoro@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: