SEMINAR KRISTEN & POLITIK

Buku Haryadi Baskoro, Christian Citizenship, Penerbit HBCE

SEMINAR KRISTEN DAN POLITIK

Haryadi Baskoro telah sering memberi pembinaan/pendidikan politik untuk para pendeta dan hamba Tuhan. Di beberapa sekolah tinggi teologia, Haryadi juga banyak memberikan wawasan politik bagi calon-calon hamba Tuhan dan pemimpin Kristen. Salah satu buku pendidikan politik yang ditulisnya berjutul “Christian Citizenship”, diterbitkan oleh HBCE. Untuk seminar, kontak di haryadibaskoro@yahoo.com

Pengantar

Menjelang dan menghadapi pemilihan umum (pemilu), dari pemilihan presiden (pilpres) sampai pemilihan gubernur atau pemilihan bupati/walikota (pemilukada/pilkada), Gereja seringkali mengalami kebingungan, ketidakpahaman, dan bahkan ketersesatan.

Hamba-hamba Tuhan sebagai pemimpin-pemimpin umat juga mengalami kebingungan. Ketika harus memberi nasihat dan arahan kepada umat, mereka tak tahu harus berkata bagaimana. Sementara tak sedikit pendeta yang tergiur untuk mencoba-coba terjun dalam politik praktis seperti halnya menjagokan diri sebagai calon legislatif (caleg). Jika para pemimpin rohani saja mengalami kebingungan, bagaimana dengan jemaat kita?

Kekristenan sering menjadi korban kepentingan politik. Jemaat termakan politik uang (money politic) tanpa berpikir cerdas. Hamba-hamba Tuhan, karena memimpin banyak umat, terjerat menjadi alat politik yang hanya dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok atau politisi-politisi tertentu. Bahkan gereja-gereja dijadikan kendaraan politik oleh mereka yang berambisi kekuasaan.

Ketika terjadi pembusukan dalam kehidupan politik di republik ini, Gereja tidak angkat bicara. Padahal semestinya orang percaya dan para pemimpinnya berani berbicara untuk menyampaikan suara kenabian. Kenyataannya, kekristenan lebih banyak membisu dan bahkan terseret rupa-rupa arus politik duniawi.

Cuplikan Pokok-pokok Bahasan Kristen dan Politik

1. Mengapa Gereja (pemimpin dan umat Kristen) sering tidak paham politik?

Kekurangpahaman atau ketidakpahaman Gereja tentang berbagai masalah politik disebabkan karena adanya masalah dalam proses belajar.

  • Gereja tidak memiliki budaya belajar politik. Menurut Gunche Lugo dalam buku ”Manifesto Politik Yesus”, kurang atau lemahnya budaya belajar politik terjadi karena ”kecelakaan sejarah” di mana Penjajah asing dulu sengaja tidak mendorong Gereja belajar politik. Alasannya, supaya orang Kristen tidak memberontak melawan penjajah.
  • Gereja takut belajar politik karena beranggapan politik itu jahat atau duniawi. Gereja hanya mendorong umatnya untuk belajar hal-hal rohani.
  • Gereja belajar secara terbatas saja, tidak belajar secara komprehensif. Dalam ”SOM” atau Sekolah Orientasi Melayani (School of Ministry) misalnya, umat atau calon pelayan hanya diajar soal-soal rohani dan Alkitab. Demikian juga para mahasiswa seminari (Sekolah Tinggi Teologi), hanya belajar Alkitab.
  • Gereja tidak belajar politik karena Gereja tidak fokus pada penginjilan (misi) dan hanya berorientasi pada pelayanan ke dalam (internal) saja. Jika fokus pada misi, Gereja sejarusnya justru belajar banyak tentang kehidupan masyarakat – termasuk dunia politik – karena itu perlu dalam berstrategi dan berkomunikasi.
  • Gereja tidak belajar politik karena Gereja tidak giat mengkader pemimpin-pemimpin bangsa. Gereja tidak fokus mencetak ”agen-agen transformasi” yang bergerak di semua sektor kebidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

2. Apalah politik itu?

Dari asal usul kata (etimologi), kata ”politik” itu sendiri berasal dari kata ”polis” dalam bahasa Yunani yang berarti ”kota” atau ”negara kota”. Dari kata ”polis” diturunkan menjadi ”polites” (warga negara), ”politikos” (kewarganegaraan), ”politike te ekne” (kemahiran berpolitik), dan ”politike episteme” (ilmu politik).

Secara umum, kata ”politik” (politics) menunjuk pada hal-hal yang menyangkut masalah kekuasaan, yaitu upaya-upaya untuk memperoleh, memperbesar, memperluas, dan mempertahankan kekuasaan. Sebagai contoh adalah ”hak-hak politik”, yaitu hak untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Atau ungkapan ”kejahatan politik” yang menunjuk pada usaha-usaha yang tidak baik dalam meraih kekuasaan.

Kata ”politik” (policy) juga menunjuk pada serangkaian tujuan yang hendak dicapai atau cara-cara yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sebagai contoh adalah ”politik luar negeri”, menunjuk pada kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan nasional yang terkait dengan hubungan internasional. Contoh lainnya adalah ”politik pendidikan”, yaitu caa-cara atau strategi yang diambil oleh pemerintah untuk mengembangkan pendidikan menurut konsep dan tujuan-tujuan tertentu.

Dengan demikian, istilah ”politik” itu netral karena menunjuk pada aktivitas, perilaku, dan budaya manusia. Yang baik atau jahat, mulia atau busuk adalah politikus atau politisinya. Ungkapan bahwa ”politik itu kotor” atau ”politik itu jahat” tidak sepenuhnya tepat.

3. Apakah Tuhan Yesus berpolitik?

Jika ”politik” (politics) menunjuk pada hal-hal yang menyangkut masalah kekuasaan, yaitu upaya-upaya untuk memperoleh, memperbesar, memperluas, dan mempertahankan kekuasaan, berarti Yesus juga berpolitik. Tetapi, Yesus berpolitik secara rohani (supranatural) dan berpolitik secara etis.

  • Yesus berpolitik secara rohani atau supranatural. Yesus menghadirkan Kerajaan Allah dan menghancurkan kerajaan iblis. Menurut teolog Thomas J. Sappington, dengan bertindak turun ke bumi dan melayani di bumi dengan kuasa-Nya, sesungguhnya Yesus sedang menghadirkan Kerajaan Allah di bumi. Sebab, Injil mencatat bahwa Kerajaan Allah sudah turun karena Yesus mengusir setan-setan yang membelenggu manusia (Mat 12:27-28). Namun demikian sampai akhir jaman, Iblis masih diijinkan berkuasa di bumi (1 Yoh 5:19). Baru setelah Kedatangan Kristus Kedua Kali di akhir jaman, Yesus berkuasa penuh di bumi dalam Kerajaan Seribu Tahun.
  • Yesus berpolitik secara etis. Menurut Gunche Lugo, selama hidup di muka bumi Yesus tidak ”berpolitik praktis” dalam arti melakukan usaha-usaha politik secara sekuler seperti mendirikan partai, membuat negara, dan sebagainya. Tetapi, Yesus berpolitik etis, yaitu berjuang untuk memberdayakan moral masyarakat yang miskin, tertindas, lemah, dan terpinggirkan. Dalam rangka ”berpolitik etik” itu pula Yesus sering memberi teguran-teguran kepada para penguasa sekuler saat itu.

4. Bagaimana dunia politik pada jaman Yesus?

Pada jaman Yesus melayani di muka bumi, dunia politik sudah berkembang. Pada masa itu, gerakan politik praktis sudah marak. Simon dan Yudas Iskariot adalah para aktivis kelompok politik politis bernama Kaum Zelotis. Kelompok politis itu berjuang untuk melawan pemerintahan Penjajah Romawi.

Karena itu, ”politik supranatural” Yesus itu sulit dipahami oleh para murid dan pengikut-Nya. sehingga sebagian dari mereka menjadi kecewa karena mereka berharap agar Yesus bangkit menjadi pemimpin politik dalam dunia politik sekuler. Menjelang kenaikan Yesus ke sorga, para murid bertanya, ”Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6). Pertanyaan ini menunjukkan bahwa mereka tidak paham akan ”visi politik illahi” Yesus.

5. Apakah Gereja berpolitik?

Secara sosiologis, gereja yang adalah kelompok orang-orang beragama Kristen merupakan sebuah kelompok sosial (social group). Dengan demikian, sama seperti kelompok-kelompok sosial lainnya, bisa saja bermutasi menjadi sebuah ”kelompok kepentingan” (interest group) yang berkepentingan politik. Bahkan, bisa saja bermetamorfosa menjadi partai politik yang berarti berpolitik praktis.

Tetapi, menurut Alkitab, Gereja yang merupakan ”persekutuan orang-orang percaya” (eklesia) adalah sebuah ”lembaga illahi” yang didirikan sendiri oleh Tuhan. Sifat illahi itu terlihat dari istilah yang diberikan oleh Tuhan tentang gereja, yaitu ”keluarga Allah”, ”Tubuh Kristus”, ”imamat yang rajani”, dan sebagainya. Gereja tidak dibangun secara sosiologis melalui proses-proses sosial seperti konsensus atau perjanjian bersama. Untuk masuk menjadi anggotanya, orang harus melalui proses supranatural yang disebut dengan ”kelahiran baru”.

Sebagai ”lembaga illahi”, Gereja diberi ”tugas illahi” untuk melakukan pemberitaan Injil (Mat 28:19-20). Menurut Dr. Chris Marantika, tugas penginjilan ini merupakan ”mandat pembangunan rohani” yang dibedakan dengan tugas sekuler. Adapun umat manusia secara umum (termasuk orang Kristen) diberi tugas oleh Tuhan untuk mengelola bumi, yang merupakan ”mandat pembangunan budaya” (Kej 1:28). Jadi, seperti ditegaskan oleh Donald Hoke, fokus Gereja adalah melakukan penginjilan. Artinya, Gereja secara institusional tidak berpolitik praktis seperti membuat partai, mengajukan calon pemimpin politik, dan sebagainya.

Untuk mempertajam prinsip itu, Calvin menegaskan pemisahan antara Gereja dengan Negara. Gereja merupakan pemerintahan rohani (spiritual government) sedangkan negara adalah pemerintahan sipil (civil government). Keduanya merupakan sistem pelayanan, di mana negara pun merupakan ”hamba Tuhan” (Rom 13:1-7). Hanya saja, urusannya berbeda. Jika Gereja melakukan pekerjaan rohani (pembangunan rohani), maka Negara mengurusi pekerjaan duniawi (pembangunan budaya). Nah, idealnya, Negara dikerjakan oleh para pemimpin yang takut akan Tuhan.

Dari dasar pemikiran di atas, jelas bahwa Gereja secara kelembagaan tidak berpolitik praktis. Gereja melakukan kegiatan politik seperti Yesus, yaitu ”berpolitik supranatural” dan ”berpolitik etis”. Berpolitik secara supranatural berarti menyatakan kehadiran Kerajaan Allah di muka bumi dengan melakukan pelayanan-pelayanan rohani. Itulah sebabnya kuasa mengusir setan dan melakukan pelayanan-pelayanan rohani seperti yang dulu dilakukan oleh Yesus, para murid, dan para rasul, kini dilanjutan oleh Gereja. Gereja juga berpolitik secara etis, yaitu menyampaikan suara kenabian dan melakukan pelayanan-pelayanan sosial. Tetapi kegiatan ”berpolitik supranatural” dan ”berpolitik etis” seperti itu dilakukan oleh Gereja dalam rangka melakukan penginjilan (mandat penginjilan).

BERSAMBUNG………….

Haryadi Baskoro telah sering memberi pembinaan/pendidikan politik untuk para pendeta dan hamba Tuhan. Di beberapa sekolah tinggi teologia, Haryadi juga banyak memberikan wawasan politik bagi calon-calon hamba Tuhan dan pemimpin Kristen. Salah satu buku pendidikan politik yang ditulisnya berjutul “Christian Citizenship”, diterbitkan oleh HBCE. Untuk seminar, kontak di haryadibaskoro@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: