SEMINAR SEMBUH & SEHAT

All About Healing, Penulis Haryadi Baskoro, Penerbit ANDISEMINAR SEMBUH DAN SEHAT

Haryadi Baskoro menulis buku “All About Healing” yang diterbitkan Penerbit Andi untuk membangkitkan iman orang-orang sakit. Seratus renungan di dalam buku itu merupakan seri pengajaran motivasional khusus untuk mereka yang sedang bergumul dengan sakit. Haryadi sendiri pernah mengalami jamahan kuasa Tuhan sehingga pada waktu kanak-kanak mengalami kesembuhan dari penyakit yang menyesakkan pernafasannya setiap malam hari. Istrinya, Livy Laurens MACE MA juga pernah mengalami mujizat kesembuhan ketika mengalami sakit yang tidak bisa diatasi secara medis oleh para dokter dan rumah sakit. Pemgalaman-pengalaman itu memotivasi Haryadi untuk memberikan seminar-seminar khusus tentang kesembuhan dan kesehatan illahi. Untuk seminar tentang kesembuhan dan kesehatan, silakan hubungi haryadibaskoro@yahoo.com.

MENGAPA HAMBA TUHAN SAKIT?

Salah satu topik seminar tentang kesembuhan dan kesehatan adalah masalah sakit-penyakit yang terkadang juga dialami oleh hamba-hamba Tuhan. Berikut adalah cuplikan pembahasannya.

Tahukah anda kalau Billy Graham, sang penginjil besar sepanjang jaman itu senantiasa bergumul hebat dengan sakit penyakit? Dalam sebuah biografi tentang tokoh ini yang ditulis oleh Sam Wellman (2002), dicatat bahwa selama bertahun-tahun Billy senantiasa berurusan dengan bermacam-macam penyakit seperti batu ginjal, hernia, bisul, polip, hipertensi, radang paru-paru, masalah prostat, dan tulang rusuk patah. Anemia pun menggerogoti tubuhnya. Orang-orang juga menyarankan dirinya segera pensiun dari pelayanan karena jelas-jelas terbukti menderita penyakit Parkinson!

Billy Graham adalah pengagum Corrie ten Boom, seorang penginjil wanita asal Belanda yang tak pernah pensiun meski sudah begitu sakit-sakitan. Dua kali mengalami serangan stroke tidak pernah memupuskan semangat Corrie. Ia terus mengabarkan Injil sampai serangan stroke yang ketiga merubuhkannya. Setelah itu, dalam keadaan terbaring tak berdaya, Corrie tetap menulis buku-buku rohani untuk pekerjaan Tuhan hingga wafatnya di usia 91 tahun!
Tahukah anda kalau Smith Wigglesworth (1859-1947), penginjil kesembuhan illahi yang beberapa kali membangkitkan orang mati itu pernah pula bergumul dengan penyakit batu ginjal yang parah sekali? Pada 1930, hasil pemeriksaan dengan sinar-X membuktikan bahwa dirinya mengidap batu ginjal serius yang telah memasuki tahap lanjut. Tetapi, Smith tidak mau dioperasi sampai akhirnya batu-batu itu keluar sendiri!
Terkadang orang Kristen begitu mengkultuskan hamba Tuhan dan menganggapnya sebagai manusia super. Apalagi jika hamba Tuhan itu berkarunia kesembuhan atau mujizat, ia dipuja sebagai figur sempurna. Jika mau jujur, orang-orang ikut KKR kesembuhan misalnya, terkadang bukannya berfokus kepada Yesus namun kepada hamba Tuhan dan urapan-karunia kesembuhan yang ada padanya.

Predikat sebagai manusia super itu di sisi lain menjadi beban tersendiri bagi hamba Tuhan. Ketika suatu saat jatuh sakit, hamba Tuhan merasa gagal. Bahkan ada hamba Tuhan yang ’bersembunyi’ saat sakit, atau memilih berobat ke luar negeri supaya tidak ketahuan jemaatnya. Hal itu demi menjaga gengsi dirinya sebagai figur yang dipuja sebagai tokoh yang diurapi Tuhan
Kemudian pada tataran pengajaran, berkembanglah doktrin bahwa ”3S” (sembuh, sehat, dan sukses) adalah ukuran tingkat iman dan kerohanian. Hamba Tuhan yang miskin dan sakit-sakitan, yang gerejanya tidak berkembang secara jumlah keanggotaan dan kemegahan gedungnya, dinilai sebagai kurang beriman. Hamba Tuhan hebat adalah bila dirinya selalu sehat, kaya, pelayanannya disertai mujizat, jemaatnya besar, dan gedung gerejanya megah.

Nah, bagaimana dengan hamba-hamba Tuhan di gereja-gereja yang teraniaya? Bagaimana dengan hamba-hamba Tuhan yang melayani di daerah pedalaman? Mereka sakit, menderita, melarat, dan hidupnya selalu bersentuhan dengan maut. Apakah mereka kurang beriman?

David Livingstone adalah penginjil yang merintis pelayanan-pelayanan awal di Afrika. Reinhard Bonnke yang sekarang menjadi tokoh besar karena berhasil menggerakkan kebangunan rohani di Afrika pun mengakui peran penting Livingstone.

Apakah Livingstone seorang yang perkasa? Secara rohani, ya. Tetapi secara fisik, sama sekali tidak. Dr. James Kennedy menggambarkan penampilan fisiknya sebagai berikut: lengan kirinya tergantung dengan lemah di sisi tubuhnya, karena hampir saja terkoyak dari tubuhnya oleh serangan seekor singa besar; kulit wajahnya coklat gelap akibat 16 tahun berada di bawah matahari Afrika; wajah itu berkerut penuh garis-garis yang tidak terhitung jumlahnya karena demam Afrika yang merusak dan menguruskan tubuhnya….

Tuhan adalah Penyembuh, Jehova Rapha. Kesembuhan illahi, seperti sangat ditegaskan oleh Kenneth E. Hagin, adalah hak mutlak orang percaya. Alkitab menjamin janji itu, hitam di atas putih. Apalagi bagi hamba Tuhan, Sang Tuan (Adonai) pasti memperhatikan kehidupannya dan kesehatannya.

Tetapi, mengapa seringkali hamba Tuhan jatuh sakit? Apakah itu merupakan hukuman dari Sang Tuan manakala si hamba itu tidak setia atau melakukan kesalahan? Apakah karena hamba Tuhan itu kurang berohani? Apakah Tuhan sedang mendidik atau menggembleng laskarnya itu melalui penderitaan?

FAKTOR KEBODOHAN

Penulis merasa sedih karena salah seorang hamba Tuhan yang penulis hormati, yang kini melayani di Sumatera, jatuh sakit. Ia harus melakukan cuci darah secara periodik karena penyakit di ginjalnya. Yang luar biasa, ia masih kuat melayani ke mana-mana, bepergian naik pesawat ke berbagai pulau untuk berkotbah. Namun yang membuat penulis mengelus dada adalah pola makannya yang sejak dulu tetap tidak berubah: sate kambing, gulai kambing, kambing guling, babi panggang, kepiting rebus, dan aneka minuman bersoda.

Tak sampai hati penulis menyampaikan teguran karena hamba Tuhan ini jauh lebih senior ketimbang penulis. Tetapi dalam buku ini, penulis menegaskan bahwa apa yang dilakukannya adalah contoh nyata sebuah kebodohan.

Ketika hamba Tuhan jatuh sakit, terkadang letak persoalannya justru pada kebodohan si hamba Tuhan itu sendiri. Makan makanan-makanan tidak sehat. Kurang atau tidak pernah berolah-raga. Kurang beristirahat. Mengkonsumsi terlalu banyak gula dan makanan berkolesterol tinggi. Seringkali kesalahan-kesalahan teknis seperti itulah yang menyebabkan seorang hamba Tuhan jatuh sakit. Bukankah itu konyol?

Tidak Peduli

Bisa jadi sakit itu datang dalam diri hamba Tuhan bukan karena dirinya berpola hidup sembrono, tetapi karena bekerja terlalu keras. Maksudnya cinta Tuhan dan melayani dengan sekuat tenaga. Tetapi, hamba Tuhan seperti ini terkadang tidak mempedulikan diri sendiri.

Ada hamba Tuhan yang memakai ”flosofi lilin” untuk membenarkan tindakannya seperti itu. Menjadi lilin berarti menyala bagi orang lain sampai dirinya sendiri hambis ludes. Hamba Tuhan lain menyebutnya sebagai berkorban bagi Kristus dan menjalani hidup menderita demi orang lain.

Tetapi, Yesus Kristus sendiri tidak menjalankan pelayanan dengan ’filosofi lilin’ seperti itu. Penderitaan yang Ia alami hanyalah pada waktu Ia menjalankan proses penebusan dosa manusia melalui sengsara salib itu. Di luar itu, Yesus menjalankan pelayanan dengan memperhatikan kesehatan diri-Nya sebagai manusia.

Ya, Injil mencatat bagaimana Yesus tidur. Bahkan di tengah hempasan gelombang badai yang menerpa kapal yang ditumpangi-Nya bersama para murid, Yesus enak-enak tidur santai di bagian buritan (Mat 8:24; Mrk 4:38; Luk 8:23). Yesus adalah hamba Tuhan yang menjaga jam-jam istirahatnya.

Saat Yesus berpuasa, Injil mencatat: Dan setelah  berpuasa empat puluh hari empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus (Mat 4:2). Injil tidak mencatat “maka hauslah Yesus”. Jadi, ada kemungkinan Yesus berpuasa makan tetapi tetap minum sekadarnya. Hal itu mengajarkan bahwa pengejaran rohani jangan dilakukan tanpa mengabaikan kesehatan.

Kekristenan bukan agama asketikal yang mengajarkan bahwa manusia semakin rohani jika semakin menderita. Yesus mengajarkan supaya antara mengasihi Tuhan, mengasihi sesama, dan mengasihi diri sendiri itu harus seimbang (Mat 22:37-40). Ketidakpedulian pada diri sendiri sama berdosanya dengan ketidakpedulian pada Tuhan dan sesama. Ya, tidak mempedulikan kesehatan diri sendiri adalah dosa!

Tidak Belajar

Kebodohan hamba Tuhan acapkali terlihat dari keengganan untuk belajar. Sudah tahu kalau ada hamba Tuhan mengalami sakit karena mengkonsumsi makanan-makanan tidak sehat, tetap saja melalukannya.

Orang Kristen pada hakikatnya adalah murid. Sebagai murid, harus senantiasa belajar. Menurut Edward L. Hayes dalam buku karya Werner C. Graendorf (1981), salah satu istilah tentang pendidikan yang ditekankan Alkitab adalah noutheteo yang berarti menajamkan pikiran atau to shape the mind (1 Kor 4:14; 10:11; Ef 6:4; Kol 3:16). Hal itu menunjukkan bagaimana aspek intelektual orang percaya harus pula diasah supaya semakin tajam.

Ketajaman intelektual itu sendiri tentu mencakup pula penguasaan ilmu pengetahuan. Tuhan tidak menghendaki anak-anak-Nya bodoh hanya karena tidak mau atau malas belajar hal-hal yang dianggap tidak rohani. Karena itu Yesus sendiri tidak menolak para murid yang berasal dari berbagai kalangan bidang ilmu seperti kedokteran dan politik.

Salah Belajar: Ekstrem

Yang sering terjadi adalah sikap belajar yang ekstrem. Yaitu mengutamakan masalah rohani dan menolak semua hal yang diajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sikap ekstrem terhadap masalah sakit-penyakit adalah menolak dan membenci obat dan dokter. Kalau sakit, cukup berdoa dan beriman saja. Pergi ke rumah sakit dianggap sama dengan tidak beriman dan bahkan berdosa.

Sikap ekstrem seperti terutama tumbuh pada masa-masa awal perkembangan pelayanan kesembuhan illahi. John Alexander Dowie (1847-1907) sangat anti dokter dan obat. Ia menulis buku berjudul “Doctors, Drugs, and Devil” yang menekankan bahwa semua penyakit berasal dari iblis. Memang, pelayanan kesembuhan illahi Dowie luar biasa, namun pengajarannya kurang komprehensif.

Sikap ekstrem terhadap masalah kesembuhan illahi dalam gerakan Pentakosta-Karismatik di masa lalu bahkan telah mendorong para hamba Tuhan melakukan tindakan nekad yang dikenal dengan istilah “serpent handling” (Dictionary of Pentecostal and Charismatic Movements, 1996). Dasarnya adalah ayat Markus 16:18 (mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka, mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh).

Praktik fanatis nekad “serpent handling” pertama kali dilakukan dalam ibadah Holines Church of God di Cleveland, Tennesse, Amerika Serikat pada 1910. Dalam ibadah itu mereka sengaja membiarkan ular-ular berbisa mematuk dan menyengat hamba-hamba Tuhan. Dan, mereka percaya bahwa mereka tidak akan sakit atau mati sesuai janji Markus 16:18 tersebut.

Para ahli menyebut praktek seperti itu sebagai sikap fanatik yang berlebihan. Meskipun banyak yang benar-benar mengalami mujizat, tetapi menurut catatan Steven Kane, ada 61 orang Kristen meninggal dunia akibat praktik “serpent handling” selama tahun 1934-1978.

Harus Komprehensif

Pengajaran Alkitab tentang kesembuhan dan kesehatan sebenarnya komprehensif atau holistik. Pertama, kesembuhan dan kesehatan jelas bisa terjadi dengan doa dan iman (Mrk 16:17-18; Yak 5:13-18). Bukankah pelayanan kesembuhan yang dilakukan Yesus dan para murid-Nya berbasis doa dan iman?

Kedua, Alkitab juga mengajarkan bagaimana makanan sehat menjadi kunci bagi kesembuhan dan kesehatan. Amsal menulis: Anakku, makanlah madu, sebab itu baik  (Ams 24:13). Sejak awal Tuhan memerintahkan manusia memakan tumbuhan dan biji-bijian, dan itu menyehatkan (Kej 1:29).

Ketiga, kesembuhan dan kesehatan juga diperoleh dengan menjaga kesehatan jiwa seperti kata Amsal: hati yang gembira adalah obat yang manjur (Ams 17:22). Harapan dan doa penatua kepada Gayus adalah: Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu yang baik-baik saja (3 Yoh1:2). Hal itu menunjukkan prinsip bahwa jiwa yang sehat menumbuhkan tubuh yang sehat.

Rasul Paulus adalah hamba Tuhan yang komprehensif dalam menangani masalah penyakit atau kelemahan jasmani. Pelayanannya jelas-jelas disertai kuasa Roh Kudus, mujizat, dan kesembuhan. Ia sendiri mengajarkan pentingnya karunia kesembuhan dan mujizat (1 Kor 12:7-11). Tetapi, Paulus juga mengetahui ilmu nutrisi untuk kesehatan dan memakai metode itu untuk menjaga kesehatan Timotius, anak rohaninya. Nasihat Paulus kepada Timotius, ”Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah” (1 Tim 5:23).

Tentunya Paulus berdoa dan bersyafaat, bahkan mungkin juga memerangi sakit-kelemahan Timotius. Namun, ada sisi teknis yang juga disarankan Paulus. Hal itu sama ketika Paulus mengalami aniaya dan ketidakadilan secara hukum. Pada saat dipenjara di Filipi, Paulus berdoa dan memuji Tuhan hingga ia terbebas (Kis 16:25-26). Tapi pada kali lain ketika akan disesah karena dianggap bersalah, Paulus melakukan ”advokasi” dengan berdebat dan berargumentasi secara hukum sampai ia terbebas dari hukuman (Kis 22:23-29). Ada waktu berdoa dan ada waktu bertindak dengan akal budi. Itulah yang disebut komprehensif!

Asa Alonso Allen

Asa Alonso Allen (1911-1970) adalah seorang hamba Tuhan besar yang pelayanannya penuh mujizat-mujizat ajaib Dalam KKR-nya di Los Angeles, Allen mendoakan seorang wanita yang sangat gemuk, beratnya 500 pon. Saat Allen menumpangkan tangan atasnya, berat wanita ini menyusut hingga tinggal 200 pon, hanya dalam sekejap mata.

Ada seorang pria mengalami diambil organ-organ tubuhnya – paru-paru kanan, tiga tulang iga, tulang dada – melalui operasi. Ia juga kehilagan dua jari kaki kanan karena suatu penyakit. Suatu kali dalam perjalan bermobil, pria ini mendengar siaran radio ”Jam Radio Allen”. Spontan ia menumpangkan tangannya ke atas radio di mobilnya itu dan terjadilah mujizat ajaib. Dua jari kakinya tumbuh dan kembali sempurna, lengkap dengan kuku-kukunya. Semua organ dalam tubuhnya kembali ada seperti baru, terbukti setelah diuji melalui sinar-X.

Namun, akhir hidup Allen sangat tragis. Pada 1969 lutut Allen mengalami radang sendi yang parah. Lutut Allen pun akhirnya dioperasi. Karena jiwanya menjadi begitu tertekan, Allen minum minuman keras berkadar alkohol sangat tinggi sampai akhirnya meninggal dunia. Laporan Pemeriksaan Jenazah, Kasus # 1151 untuk Asa Alonso Allen mencatat adanya kandungan alkohol dalam darah Alleh sebanyak 36 persen. Hasil otopsi menyimpulkan bahwa penyebab kematiannya adalah ”penyakit yang gawat akibat kelebihan pemakaian alkohol dan peresapan lemak di dalam hati”.

Jack Coe

Jack Coe (1918-1956) adalah salah sorang penginjil kesembuhan illahi besar di Amerika Serikat. Ia pernah memiliki teda terbesar di negara itu yang memuat lebih dari 20 ribu orang, dipakainya untuk menggelar KKR-KKR keliling kota-kota. Saat badai hendak menerjang tendanya itu di Little Rock, Arkansas, Coe berdoa dan seketika itu pula badai berhenti. Ribuan orang telah mengalami mujizat kesembuhan dari pelayanan Coe.

Jack Coe adalah hamba Tuhan yang bekerja sangat keras. Ia sangat tidak mempedulikan kesehatan dirinya sendiri. Ia berkotbah KKR sehari tiga kali, terus-menerus selama 4-6 minggu berturut-turut. Pola makannya sangat tidak teratur. Seringkali, karena kesibukan kotbah dan pelayanan, Coe baru makan berat pada jam 03.00 dini hari. Akibatnya, tubuh Coe yang masih muda itu tampak seperti tubuh orang yang berumur 90 tahun!

Coe yang menderita obesitas berlebihan akhirnya terkena pula penyakit polio. Kalau tidak dipaksa istrinya, Coe tidak mau ke dokter. Akhirnya, Coe pun meninggal pada usia yang masih muda, baru 38 tahun. Sebuah kematian yang prematur.

Gerakan ”Voice of Healing” pada era Jack Coe waktu itu memang sangat kurang memperhatikan masalah kesehatan jasmani secara teknis. Mereka mengutamakan ”pekerjaan Roh” – istilahnya sekarang ”terlalu nge-roh” – dan mengabaikan hikmat akal budi. Tanpa mengurangi rasa hormat pada para hamba Tuhan pelopor gerakan pelayanan kesembuhan itu, kita harus menyadari bahwa mereka telah melakukan beberapa kebodohan yang berakibat fatal!

Pertanyaan-Pertanyaan Evaluasi Diri

Bagaimana kebiasaan makan-minum Anda? Sudahkan senantiasa mengkonsumsi makanan-minuman sehat?

Seberapa sering Anda berolahraga?

Apakah Anda sering bersikap ekstrem seperti anti obat dan anti dokter? Apakah selama ini Anda hanya giat melayani dan hidup tanpa mempedulikan kesehatan jasmani?

Pernahkah Anda mempelajari pengetahuan umum tentang kesehatan?

Sudahkah Anda memiliki pandangan konprehensif yang Alkitabiah mengenai strategi menjaga dan membangun kesehatan jasmani?

NAIK LEVEL

Di hadapan Tuhan, seorang hamba Tuhan adalah murid dan pekerja. Dalam dunia pendidikan dan dunia kerja, terdapat tingkatan-tingkatan atau jenjang-jenjang yang berssifat hirarkis. Setiap murid yang akan meningkat levelnya – naik kelas atau masuk ke sekolah yang lebih tinggi – harus melewati ujian. Demikian juga pekerja yang akan naik jabatan harus diseleksi melalui tes-tes tertentu, misalnya fit and propper test.

Demikianlah sakit-penyakit yang diderita oleh seorang hamba Tuhan acapkali merupakan proses yang diijinkan Tuhan sebagai ujian kenaikan level. Setelah berhasil melewati ujian itu, biasanya Tuhan memberi kepercayaan dan tugas pelayanan yang lebih besar lagi.

Ujian Kenaikan Level Ayub

Derita dan sakit-penyakit yang dialami Ayub merupakan bentuk ujian kenaikan level. Penderitaan itu tidak disebabkan karena Ayub melakukan dosa atau kebodohan. Kitab Suci jelas mencatat bahwa Ayub itu saleh dan jujur, ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Ayb 1:1). Tuhan pun menegaskan kebenaran Ayub itu, kata-Nya, ”Sebab tidak seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayb 1:8).

Pada pasal 1 dan 2 kitab Ayub dicatat dengan jelas bahwa penderitaan dan sakit-penyakit yang dialami Ayub itu adalah seijin Tuhan. Dijelaskan bagaimana iblis menawar kepada Tuhan supaya diberi kesempatan untuk menghancurkan kehidupan Ayub. Dan, Tuhan memberinya kesempatan itu dengan tetap mengendalikan iblis supaya tidak melampaui batas-batas yang ditetapkan Tuhan. Hal itu jelas pada pasal 1 ayat 12: Maka firman Tuhan kepada iblis: ”Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.”

Tuhan mengijinkan iblis menggocoh kehidupan Ayub dan menghancurleburkan kehidupannya itu untuk menguji tingkat kerohanian Ayub. Bagaimana hasil ujian itu? Pasal 1 ayat 22 mencatat: Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

Tuhan sendiri memberi penilaian atas ujian itu. Kepada iblis, Tuhan menyatakan hasil evaluasinya atas Ayub: ”Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.” (Ayb 2:3).

Sampai tahap itu, Ayub telah mengalami kenaikan level rohani. Sebelumnya, ia adalah orang yang ”saleh-jujur-takut Tuhan-menjauhi kejahatan” (Ayb 1:1, 8) dalam keadaan diberkati berlimpah-limpah. Setelah ujian itu, terbukti bahwa Ayub tetaplah berkualifikasi sebagai orang yang ”saleh-jujur-takut Tuhan-menjauhi kejahatan” meskipun hidupnya tidak diberkati Tuhan (Ayb 2:3).

Kemudian, iblis menawar lagi supaya diberi kesempatan untuk mencobai Ayub pada tahap lanjut. Pencobaan yang dimaui iblis adalah berupa sakit-penyakit. Sampai tahap ini, Tuhan mengijinkan iblis: Maka firman Tuhan kepada iblis: ”Nah, ia di dalam kuasamu, hanya sayangkan nyawanya.” (Ayb 2:6). Sejak itu, Ayub digerogoti penyakit yang membusukkan tubuhnya sampai begitu parahnya (Ayb 2:7).

Istrinya tidak paham akan ujian kenaikan level yang diberikan Tuhan dalam bentuk derita dan penyakit itu. Spontan sang istri berkata kepada Ayub, ”Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayb 2:9). Padahal jelas bahwa penyakit itu diijinkan Tuhan bukan untuk membunuh Ayub (Ayb 2:6). Tuhan adalah Penyebuh, bukan tukang pembuat sakit dan bukan pembunuh! Iblis adalah pencuri, pembunuh dan pembinasa, adapun Tuhan adalah Sang Pemberi hidup (Yoh 10:10).

Karena ujian kenaikan level itu sangat berat, Ayub sendiri sempat limbung imannya. Ia bertanya-tanya. Ia pun bingung dengan kehendak Tuhan. Ayub pun mengeluh kepada Tuhan, ”Jangan mempersalahkan aku, beritahukanlah aku, mengapa Engkau berperkara dengan aku. Apakah untungnya bagi-Mu, mengadakan penindasan, membuang hasil jerih payah tangan-Mu, sedangkan Engkau mendukung rancangan orang fasik?” (Ayb 10:2-3).

Demikianlah seorang hamba Tuhan sering tidak paham akan proses yang diijinkan Tuhan. Kita menjadi begitu putus asa dan hal itu seringkali manusiawi karena sedemikian berat derita dan penyakit yang harus kita tanggung. Kondisi itu membuat kita kehilangan perspektif yang benar. Ayub pun menjadi rawan terhadap pandangan-pandangan yang keliru (Ayb 21).

Selama Ayub menderita dan sakit itu, terjadilah percakapan-percakapan interaktif antara Ayub dengan para sahabatnya. Ini merupakan periode pembelajaran bagi Ayub. Dalam proses belajar ini Ayub mengembangkan pemikiran-pemikiran rohani dan bergumul dengan pemikiran-pemikiran rohani. Di sini terlihat bagaimana Roh Kudus menyusun pengajaran-pengajaran rohani yang benar dalam diri Ayub. Akhirnya Ayub sampai pada kesimpulan-kesimpulan iman yang membuat dirinya dicerahkan dan juga bertobat.

Dengan proses ujian via derita dan sakit itu, Ayub mencapai level baru dalam pandangan teologisnya. Jadi, ia mengalami kenaikan level rohani. Pasal 42 ayat 2-6 mencapat pembaruan perspektif teologis Ayub itu sebagaimana ucapan Ayub kepada Tuhan: ”Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya Engkau memberitahu Aku. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh karena itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

Sampai di situ, Tuhan mengevaluasi bahwa Ayub berhasil melewati ujian sakit-penyakit yang diberikan-Nya. Ia mengalami kenaikan level iman dan level pemahaman teologisnya tentang Tuhan. Dan karena kenaikan level itu maka Tuhan pun menghentikan ujian derita dan sakit-penyakit atas diri Ayub itu.

Bagian akhir kitab Ayub menjelaskan betapa mudahnya bagi Tuhan untuk menyembuhkan Ayub dan memulihkan keadannya (Ayb 42:7-17). Pembahasan mengenai pemulihan itu hanya mencakup 10 ayat saja karena penekanan penulis kitab ini bukan pada soal kesembuhan dan berkat. Itu perkara sangat sepele bagi Tuhan. Derita dan sakit Ayub adalah masalah ujian kenaikan level rohani.

Smith Wigglesworth

Siapa tak kenal Smith Wigglesworth (1859-1947)? Albert Hibbert yang menulis buku biografi Smith berjudul ”The Secret of His Power” (1982) mencatat bahwa Smith telah 14 kali membangkitkan orang mati. Berikut ini adalah catatan mengenai salah satu peristiwa kebangkitan orang mati dalam pelayanannya sebagaimana ditulis dalam buku biografi tersebut.

Penginjil Wigglesworth berdiri memandangi mayat pemuda cilik yang terbaring dalam petinya itu, sementara ayahnya menyingkapkan kain yang menutupi wajahnya. Air mata bercucuran membasahi pipi Wigglesworth waktu beliau menyaksikan keganasan amukan dosa yang telah terlampiaskan sepuas-puasnya pada tubuh yang tak bernyawa pemudia cilik yang kini telah terbujur dingin dan kaku dalam cengkeraman maut yang kejam itu. Beliau memohon sedia meninggalkannya seorang diri di dalam ruangan itu. Setelah pintu dikunci dari dalam, beliau mengangkat mayat anak lelaki itu yang sudah kaki tak bergerak, dan memberdirikannya di sudut ruangan itu. Penginjil Wigglesworth menghardik kematian dalam nama Tuhan Yesus, dan memerintahkan supaya mengembalikan mangsa yang telah dilahapnya itu. Mujizat yang menakjubkan pun terjadi: anak itu hidup kembali. Waktu mengangkat mayatnya dari peti mati itu, Penginjil Wigglesworth tidak bimbang sedikit pun bahwa ia pasti bangkit.

Namun, bagaimana Smith bisa sampai pada level urapan seperti itu, membutuhkan pengujian-pengujian iman yang juga tidak ringan. Setidaknya dua kali Smith diuji Tuhan melalui pergumulan berat berupa sakit penyakit. Pertama, sejak kecil sampai umur 40 tahun ia menderita penyakit wasir yang tak kunjung sembuh. Setelah masuk dalam pelayanan, Smith belajar beriman. Suatu saat ada seorang pendeta tamu berdoa bagi Smith dan mujizat kesembuhan pun terjadilah. Sejak saat itu sampai akhir hayatnya, ia tak pernah sakit wasir lagi.

Kedua, pada usia 70 tahun, Smith kembali menderita sakit. Kali ini ia menderita sakit ginjal yang menurut pemeriksaan sinar-X sudah sangat parah. Dokter mengatakan bahwa jika tidak dioperasi maka Smith bisa mati karena penyakit ini. Dalam pengujian ini Smith menegakkan imannya, katanya kepada dokter, ”Dokter, Tuhan yang menciptakan tubuh ini dan Tuhan sanggup menyembuhkannya. Tidak ada pisau yang akan pernah menyayatya selama saya masih hidup.”

Selama 6 tahun Smith menderita sakit ginjal itu tanpa mau dioperasi. Dalam keadaan seperti itu, Smith tetap berkotbah dan melayani. Kadang-kadang ia turun mimbar untuk menahan sakitnya selama beberawa waktu, lalu naik mimbar untuk berkotbah lagi.

Selama masa 6 tahun itu, Tuhan memberi mujizat-mujizat kesembuhan secara bertahap. Seringkali setiap kencing, darah dan batu-batu ginjal dalam dirinya keluar. Setelah 6 tahun itu, lebih dari 100 biji batu yang telah dikeluarkannya itu dimasukkan ke dalam botol kaca. Setelah melewati proses ujian kenaikan level itu, Smith sembuh total, sehat, terus melayani, dan baru meninggal pada usia 88 tahun!

Pertanyaan-Pertanyaan Evaluasi Diri

Apakah anda seorang hamba Tuhan yang selalu memiliki kerinduan untuk bertumbuh dalam jenjang-jenjang kerohanian yang semakin tinggi?

Sudahkah anda menghayani hidup dan panggilan sebagai murid yang senantiasa harus belajar, diuji, dan dilatih oleh Yesus Guru Agung?

Apakah anda melihat sakit yang anda derita adalah kutuk dari Tuhan?

Apakah anda tertantang untuk lebih berdoa dan beriman untuk meraih mujizat kesembuhan illahi?

Pernahkan pada masa silam anda sakit lalu sembuh namun tidak belajar apa pun tentang didikan Tuhan atas penderitaan berupa sakit itu?

BERSAMBUNG……..

Untuk seminar tentang kesembuhan dan kesehatan, silakan hubungi haryadibaskoro@yahoo.com.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: